Perangi
Free Sex !!
Di
Era Globalisasi, perubahan di segala bidang dapat terjadi begitu cepat dan melingkupi
wilayah yang sangat luas. Keadaan demikian memungkinkan masuknya berbagai
pengaruh dalam masyarakat atau bangsa seiring dengan kemajuan teknologi
informasi dan komunikasi. Perkembangan barang-barang, seperti handphone, televisi satelit, dan
internet menunjukkan bahwa komunikasi global terjadi sedemikian cepatnya. Di
sisi lain melalui pergerakan massa semacan turisme
memungkinkan kita merasakan banyak hal yaitu berbagai budaya berbeda.
Dampak
globalisasi tampak nyata, khususnya di kalangan remaja. Kecanggihan teknologi
membuat remaja semakin mengibarkan bendera kebebasan pada dunianya. Norma-norma
semakin luntur dan budaya barat kian menjamur. Hubungan laki-laki dan perempuan
tak terkendali, bahkan pacaran dan seks bebas semakin merajalela di kalangan
remaja. Para remaja beranggapan, jika tidak punya pacar berarti tidak gaul.
Kata
pacaran bukan kata asing lagi bagi gendang telinga. Yaitu merupakan proses
perkenalan antara dua insan manusia yang biasanya berada dalam rangkaian tahap
pencarian kecocokan menuju kehidupan berkeluarga yang dikenal dengan
pernikahan.
Tradisi
pacaran yang telah nyata melanggar norma hukum, norma agama, maupun norma
sosial. Di Indonesia masih terjadi dan dilakukan turun temurun dari generasi ke generasi, yang tidak memiliki
pengetahuan menjaga kehormatan dan harga diri yang semestinya mereka jaga dan
pelihara. Pacaran mempunyai dampak-dampak negatif bagi remaja maupun siswa, di
antaranya :
1. Mudah terjerumus ke perzinaan.
Karena zina bisa melaui
mata, telinga bahkan melaui lidah. Jika iman seseorang tidak kuat, maka sangat
mudah untuk terjerumus ke perzinaan.
2. Melemahkan iman.
Tidak bisa dipungkiri
banyak sekali masyarakat, khususnya remaja, yang menduakan cintanya kepada
tuhan. Dari situlah kualitas ibadah seseorang biasanya menurun.
3. Melatih kemunafikan.
Contohnya : Seseorang
itu berbuat baik ketika di depan pasangannya saja. Sedangkan ia berbuat buruk
di belakang pasangannya. Dengan demikian
dapat disimpulkan bahwa ia telah menipu pasangannya demi meyakinkan bahwa dia
yang terbaik.
4. Menjadikan panjang angan-angan.
Disaat seseorang jatuh
cinta, ia akan selalu berangan-angan dan berandai-andai tentang pasangannya.
5. Mengurangi produktivitas.
Sering dijumpai banyak
siswa yang nilainya turun, tidak mengerjakan PR karena pacaran.
6. Menjerumus pada pertengkaran dan
pembunuhan.
Masalah sepele yang
terdapat pada sebuah hubungan, terkadang muncul sebuah pertengkaran hingga
pembunuhan. Banyak remaja terbunuh oleh pacarnya yang sering juga disiarkan di
media massa. Ironis sekali jika remaja di Indonesia mendominasi angka
kriminalitas.
Pacaran kerapkali menjurumus kepada hal yang negatif.
Misalnya free sex. Adapun definisi
dari free sex atau seks bebas adalah perilaku yang didorong oleh hasrat seksual, di
mana kebutuhan tersebut menjadi lebih bebas jika dibandingkan dengan system
regulasi tradisional dan bertentangan dengan system norma yang berlaku dalam
masyarakat. (Kartono :1977).
Sedangkan menurut Desmita (2005)
definisi seks bebas adalah segala cara mengekspresikan dan melepaskan dorongan
seksual yang berasal dari kematangan organ seksual.
Berdasarkan penjaaran definisi di atas
maka dapat disimpulkan definisi free sex adalah segala tingkah laku yang
didorong oleh hasrat seksual terhadap lawan jenis maupun sesame jenis yang
dilakukan di luar hubungan pernikahan dan bertentangan dengan norma-norma
tingkah laku seksual dalam masyarakat yang tidak sbisa diterima secara umum.
Setiap orang yang pacaran sangat dekat
dengan free sex. Karena pacaran
dianggap gerbang utama hubungan yang lebih dalam lagi. Yaitu hubungan seks pra
nikah sebagai wujud kedekatan antara dua orang yang sedang jatuh cinta. Pacaran
seringkali menumbuhkan gairah seseorang. Sehingga tanpa ada komitmen yang jelas
mengenai batasan pacaran, kadang tanpa disadari atau diplanning, remaja
dapat terbawa untuk melakukan free sex dengan
pasangannya.
Penyebab perilaku seks bebas sangat
beragam pemicunya. Bisa karena pengaruh lingkungan, sosial budaya, penghayatan
keagamaan, penerapan nilai-nilai, faktor psikologis, dan faktor ekonomi. Dapat
juga timbul dari keluarga, media massa, dan dari pengaruh teman.
Banyak remaja yang memandang ataupun
menganggap pacaran, dari sisi atau nilai positifnya. Para remaja beranggapam
bahwa dengan memiliki seorang pacar akan menambah semangat. Namun hakikatnya
hal itu adalah awal dari kenegatifan. Pertama memang pacaran bisa membuat
semangat salah satu pihak atau keduanya. Tetapi semakin lama itupun akan
menjerumus ke lembah keburukan, dengan arti sebuah keburukan. Tidak bisa
dipungkiri lagi sepasang kekasih hanya pacaran lewat SMS, lama kelamaan pasti
sepasang kekasih itu akan bertemu, bahkan berpegangan tangan, lebih-lebih
melakukan hal yang menentang norma.
Dalam penggerakan remaja suatu daerah
dapat melalui sebuah organisasi remaja atau karang taruna. Jadi dalam
organisasi tersebut, seorang ketua remaja harus mampu memberikan
sugesti-sugesti positif kepada anggota-anggota. Cara meminimalisasi pacaran
yang menjerumus kepada seks bebas dengan kegiatan-kegiatan positif yang
bermanfaat sehingga bisa mengalihkan mereka dari pacaran bahkan seks bebas.
Misalnya dengan kegiatan-kegiatan bakti sosial.
Harapan untuk generasi kedepan ialah
pacaran dan seks bebas bisa terjauhkan dari seluruh masyarakat, khusunya
remaja. Dengan mendekatkan diri kepada sang pencipta juga mampu membentengi
dari hal-hal yang negatif. Pemuda ialah masa depan Indonesia, jadi harus karakter
yang baik, dan revolusi mental remaja.
DAFTAR
PUSTAKA
Adies,
Permata.2010.Makalah : Seks bebas di Kalangan Remaja