Jumat, 31 Januari 2020

Lirik Lagu The Prestigious - Kenanglah Hari Ini

Kenanglah Hari Ini

Kisah yang terindah denganmu
Takkan terlupa tanyakan waktu
Senyum di bibirmu
Tetes air mata
Yang menjadi satu

Kau tinggalkan aku di sini
Setelah sekian lama kita bersama
Aku menunggumu uuu...
Untuk bersama menatap dunia
  
Ingatlah hari-hari
Yang kita lewati
Mengukirkan cerita indah di dalam jiwa

Kau tinggalkan aku di sini
Setelah sekian lama kita bersama
Aku menunggumu uuu... uuu...
Untuk bersama menatap dunia

Ingatlah hari-hari
Yang kita lewati
Mengukirkan cerita indah di dalam jiwa

Pegang erat tanganku
Dan jangan lepaskan
Hapus air matamu
Dan kenanglah hari ini

Ku relakan dirimu
Tuk pergi tinggalkanku
Ku relakan hatiku
Dan berharap agar kita berjumpa kembali

Ingatlah hari-hari
Yang kita lewati
Mengukirkan cerita indah di dalam jiwa

Pegang erat tanganku
Dan jangan lepaskan
Hapus air matamu
Dan kenanglah hari ini 

Ingatlah hari-hari
Yang kita lewati
Mengukirkan cerita indah di dalam jiwa

Pegang erat tanganku
Dan jangan lepaskan
Hapus air matamu
Dan kenanglah hari ini

Kamis, 16 Januari 2020

MENEMBUS FATAMORGANA


MENEMBUS FATAMORGANA

Dalam ruam gelora rasa berkalut duka. Bangunan tinggi bercatkan warna putih dan biru itu tampak berdiri kokoh di pusat kota kelahiranku, Semarang. Bau anyir dan obat-obatan menjadi aroma khas bangunan tinggi itu. Sesekali terdengar jeritan dan tangisan kedukaan yang hadir. Tampak manusia berlalu lalang dengan berbagai raut wajah yang berbeda. Kini kupercepat langkah kakiku memasuki dan menyusuri bangunan misterius ini. Kudapati 2 orang dengan seragam putih nan rapi tepat berada di samping kananku. “Mungkin dia bagian receptionist,” Dalam batin. Kakiku berhenti melangkah dengan tangan yang masih sibuk membawa buku-buku yang kubawa dari pesantren, maklumlah abi dan umi sejak kecil selalu mengajariku untuk menjadi orang yang gemar membaca dan kemanapun hal yang tak pernah kulupa adalah  buku. Aku terkaget saat tampak di depanku lewat sebuah ranjang rumah sakit dengan iringan beberapa orang serta tangisan yang memecah suasana. Entah siapa yang tertidur di sana dengan tertutupkan sehelai jarik, sontak aku ingin menangis.
“Permisi mbak, ada yang saya bisa bantu?” Kaget seorang receptionist.
“Astaghfirullah, maaf mbak ini saya mau ke kamar Melati 05. Sebelah mana ya?” Sahutku terbata-bata.
“Kamar Mawar nomor 05, silakan mbak lurus kemudian belok kiri, nanati ada tulisan ruang melati” Jelas mbak Mavita seraya mengarahkan dengan tetelunjuknya, setelah kubaca name tage di seragamnya.
***
            Drettt…..dretttt……dreetttt. Handphoneku bergetar. Kulihat layar, ada panggilan masuk dari mas Kafa.
            “Assalamu’alaikum, iya mas ada apa?, ini Azizah udah di rumah sakit tadi diantar sama ustadzah Nia.”
            “ Waalaikumsalam, iya dek syukurlah kalo dah nyampek, sekarang lagi di mana?” Terdengar suara mas Kafa lemas.
            “Azizah sudah di komplek ruang Melati, mas di mana?” Tanyaku.
            “ Mas di ujung komplek yang menghadap selatan, azizah buru ke sini!”
            “ Iya mas,” Kututup telephon mas Kafa, seketika fikiranku kalut mendengar suara mas yang lemas dan gelisah, meskipun mas Kafa nggak bilang dengan apa yang sebenarnya terjadi.
            Tepat di depan kamar Melati 05 kudapati 2 orang sepupuku dengan mata yang sembab dan bengkak, entah apa penyebabnya. Di sudut koridor kulihat sepasang bola mata menatap tajam ke arahku. Kucoba menelisik ke ruang fikirannya, ada hal yang tersimpan, dia adalah mas Kafa, kakak tertuaku, berdiri mematung dengan fikiran kosong dan gadget yang masih ia genggam.
            “ Mas ada apa ini?” Dia masih terdiam. Hal itu membuatku semakin kalut dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa berfikir panjang aku berlari memasuki kamar itu dan air mata tak kuasa terbendung.
            “ Budhe, ada apa ini?” Tanyaku beriring dengan isakan tangis. Budhe hanya terdiam, menatap ranjang itu.
            “ Mbak Naila, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyaku paksa pada kakak kedua.
            “ Abi…..abi….” Sahutnya, sembari membuka kain putih yang menutupi seseorang yang tertidur di atas ranjang rumah sakit.
            “ Innalillahi wainna ilaihi roojiun, Abi.” Kakiku lemas, badanku serasa tak berdaya melihat seorang abi yang kini terbujur kaku di hadapanku.
            “Abi…..abi kenapa pergi ninggalin Azizah?” Tangisku pecah.
Uwis nduk, diikhlasne wae, biar abi tenang.” Budhe Irma mencoba menenangkanku.
“Azizah….mbak Naila juga sayang sama abi. Mbak juga gak mau kehilangan abi, tapi ini sudah kehendak Tuhan dik.” Mbak Naila memelukkku erat, sembari menyeka airmata yang telah membanjiri kerudung maroon yang kukenakan.
2 tahun yang lalu masih terlintas dalam memori ingatanku. Saat-saat yang membuatku tak kuat lagi untuk menjalani hidup, umi, seorang yang aku sayangi pergi selamanya, dan kini hal itu terulang. Abi, satu-satunya orang tua yang kumiliki juga pergi meninggalkanku selamanya di usiaku yang ke 15 tahun ini.
“ Aku butuh umi, aku butuh abi, Tuhan.”
                                                ***
            Semarang,  April 2016
            Bumi terus berputar pada porosnya hingga terjadilah siang dan malam. Matahari masih dengan kesetiaannya memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru jagad. Waktu terus berjalan, detik bertemu menit, menit bertemu jam, jam bertemu hari, hari bertemu minggu, minggu bertemu bulan, dan bulan bertemu tahun. Dan inilah tahun kedua sepeninggal abi.
            “ Mas Kafa mau lanjut S3 di mana?” Ucapku, menghampiri mas Kafa dengan tumpukan buku di hadapannya.
            “ Doain aja dik, ini mas lagi nyari beasiswa, kan biaya S3 juga gak mahal. Mendingan kan gaji kerja mas ditabung buat biaya kuliah kamu.”
            “ Mas mah pasti dapat beasiswa, kan mas pintar. Lagipula siapa juga yang gak tau kalo mas dari S1 juga sudah dapat beasiswa prestasi.” Jawabku, tersenyum.
            Sejak kecil, abi dan umi selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Mereka selalu membiasakan membaca buku setiap saat, bahkan 3 buku bisa terselesaikan setiap harinya. Hal ini tidak mengherankan jika Mas Kafa dan Mbak Naila SMP hanya 2 tahun, begitupun SMA. Mereka juga mendapat beasiswa full untuk kuliah S1 dan S2. Namun, hal ini tidak sama denganku, abi melarangku untuk mengikuti kelas akselerasi, abi memasukkanku ke pesantren, karena abi ingin salah satu anaknya ada yang menghafal Al-Quran.
            “Azizah….” Panggil mbak Naila dari ruang keluarga.
            “ Iya mbak, ada apa.” Sahutku.
            “ Azizah mau lanjut kuliah di mana ?”
            “ Belum tau sih mbak, tapi Azizah pengen masuk di kedokteran. Hmmmm…… tapi kayaknya gak mungkin juga.” Jawabku ragu.
            “ Kenapa jawabmu ragu gitu dik.” Seketika mas Kafa datang.”
            “ Azizah tau mas, kedokteran itu mahal. Kan sekarang udah gak ada abi lalu siapa yang bakalan biayai Azizah.”
            “ Kamu gak usah mikirin biaya, biar Mas Kafa aja yang mikirin, kan mas udah janji kea bi kalo mas baklan gantiin posisi abi buat kamu dan juga mbak Naila.” Ucap mas Kafa. Sontak kupeluk erat mas Kafa dan Mbak Naila.
            “ Azizah, sebenarnya ada 2 hal penting yang ingin mbak dan mas ceritakan.”
            “ Emang ada apa mbak.?” Tanyaku penasaran.
            “ Pertama, tadi pagi mbak dapat telfon dari PPMB UNS, kalo kamu diterima di fakultas kedokteran dengan beasiswa full atas prestasi dan hafalan 30 juz kamu. Mbak sengaja kemarin daftarin kamu tanpa sepengetahuanmu. Dan akhirnya Alhamdulillah Alloh menjawab do’a-do’a dan keinginan kamu untuk kuliah di kedokteran.
            “ Beneran mbak,”? Aku masih belum percaya.
            “ Iya Azizah. Mbak serius.”
            “Alhamdulillah” Aku loncat kegirangan mendengar berita bahagia ini.
            “ Namun masih ada hal ke dua yang belum mbak ceritain.” Lanjutnya.
            “ Emang apa mbak.?” Penuh pertanyaan.
“ Sebenarnya, 2 tahun yang lalu, ketika abi pergi meninggalkan kita semua. Abi saat itu lagi di perjalanan menuju ke Wonogiri. Ke pondokmu dik. Abi saat itu pamit ke kita untuk menjengukmu dan juga mengantarkan kado ulangtahun sekaligus kado atas kejuaraan kamu di olimpiade Biologi. Mas dan mbak pengen ikut sebenarnya, tapi abi melarang. Abi ingin membuat kejutan buat kamu, namun takdir berkata lain, di pertengahan jalan mobil abi tabrakan dengan mini bis, abi terlempar hingga beberapa meter, dan saat itulah abi harus kehilangan nyawanya.” Jelas mbak Naila sembari meneteskan airmata.
“ Dan ini, dulu mas temukan sebuah kado di mobil abi, masih dalam bentuk yang bagus, mas simpan dan mas kasihkan pada waktu yang tepat.” Sembari menyodorkan sebuah kado berwarna biru padaku.
Airmataku mulai menetas mendengar cerita mas Kafa dan mbak Naila, dan perlahan kubuka kado itu. Ketemukan sebuah Al-Qur’an berwarna biru laut dengan hiasan bunga di covernya, dan juga 3 buku dengan judul ; Jadikan Lelah Menjadi Lillah, Bidadari yang Dirindukan Surga, dan Pesan CintaNya. Di samping itu kutemukan juga sepucuk surat.

Untuk terkasih puteri kecil Abi
Putri kecil abi yang kini sudah menginjak remaja. Begitu cepat waktu bergulir, masih teringat dahulu kau masih kecil dan begitu manja. Abi sangat mencintai putri kecil abi. Dan di umur ke 15 tahun ini, abi ingin kamu bisa mencapai cita-citamu nak. Maafkan abi jika abi belum bisa selalu membuatmu bahagia, dan juga selalu tersenyumlah. Abi hanya bisa memberi kado Al-Qur’an supaya kamu bisa jadi hafidzah dan semangat untuk murajaah. Dan abi juga beri buku agar kamu bisa mengambil berbagai hikmah dari buku itu. Abi sangat sayang pada Azizah. Baarakalloh fii umrik nak.
                                      Salam sayang dari Abi


           





Cerpen

Dakwahku Untuk CintaNya
Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hingga tak sanggup tanganku hanya mematung mengikuti tubuh. Tidak ada binar  di matanya, yang ketemui hanya segurat kesedihan dan buliran air mata yang sebentar lagi akan menetes membasahi kelopak mata wanita itu. Iya, dia adalah ibuku.
“Faiz, emak bangga sama kamu nak. Emak bangga bisa lihat kamu seperti ini. Namun entah kenapa hati emak berat untuk melepasmu mengikuti alur perjalanan hidupmu.” Suara parau emak memecah keheningan.
“Mak, sejujurnya Faiz hanya ingin membuat emak, bapak dan adik bahagia, karena itu tujuan Faiz saat ini. Meskipun inilah jalan Tuhan yang Faiz rasa bisa membuat emak sedih.” Sahutku sembari memeluk tubuh emak yang kini sudah renta.
Kepergian adalah suatu hal yang kadang membuat hati terluka. Kini sebuah kepergian adalah keniscayaan yang memang harus aku hadapi. Meninggalkan keluarga yang sudah 23 tahun membersamaiku melewati pintasan-pintasan jalan yang penuh dengan lika liku. Tinggal di daerah yang merupakan pusat keramaian membuatku mampu belajar mengenal arti sosialita. Kota Malang, menjadi saksi bagaimana perjalananku meniti setiap langkah kehidupan. Hidup sebagai keluarga yang ekonominya di bawah rata-rata membuatku mampu belajar arti sebuah rupiah.
Aku teringat perjuangan bapak untuk mencari nafkah keluarga, bahkan untuk membiayaiku sekolah. Beliau rela menjadi kuli bangunan yang kesehariannya bergelut dengan panasnya matahari, bergelut dengan beratnya bebatuan, dan panasnya gamping. Saat itu aku belum faham bagaimana rasanya perjuangan menghidupi keluarga, terkhusus membiayaiku sekolah hingga kini aku lulus S2 Management Pendidikan. Terlebih bapak mempunyai prinsip bahwa anak pertama harus sukses agar adik-adiknya mampu mengikuti jejak kakanya. Hal itulah yang membuatku bangkit untuk mampu menjadi orang sukses dan membiayai adik-adikku hingga sukses melebihiku.
****

           
Malang, Agustus 2006
            Matahari bersinar lebih cerah di banding hari kemarin, angin berhembus pelan namun mampu menyejukkan setiap raga, tampak dedaunan melambai-lambai pada tangakainya. Hatiku kini menelisik makna yang selama ini aku selalu pertanyakan.
            “Tuhankan durhakakah aku meninggalkan orang tua yang telah menyayangi dan membesarkanku. Akankah dakwah yang kulalui ini berujung pada titik kedurhakaan?” Batinku bertanya.
            Bismillah dengan menyebut nama Allah yang penuh dengan jawaban-jawaban hati ini, kuputuskan untuk menerima panggilan mengajar di salah satu sekolah di Padang. Aku tau perjalanan dakwah ini tidak selalu mudah, aku tau Padang merupakan penduduk mayoritas Kristen. Namun aku yakin dengan Allah atas jalan ini.
            Waktu terasa bergulir cepat, kemarin aku belum bisa mendapat izin dari keluarga untuk pergi ke Padang, terlebih ibu yang selalu menghalangiku untuk pergi jauh dari keluarga. Namun aku adalah anak pertama yang memang harus mampu menjadi tulang punggung keluarga, mengetahui bapak kini sudah renta bahkan aku tau selama ini beliau menahan penyakit yang menyerangnya, paru-paru.
            Suasana pagi yang terasa berbeda dengan suasana-suasana pagi yang selalu kulewati bersama keluarga di gubuk sederhana, berdiri di atas tanah berukuran 11X11 M. di sanalah bapak dan emak membangunnya untuk keluarga kecil kami.
“ Bapak, Emak maafkan Faiz jika hari ini Faiz membuat kalian meneteskan air mata. Faiz sayang pada kalian.” Kupeluk erat tubuh mereka, inilah hal hal aku takutkan. Ketika aku akan berpisah dengan mereka.
“Hildan, mas nitip bapak sama ibuk di sini. Hildan juga harus jaga Safa, kan sekarang Hildan jadi anak paling besar di rumah. Mas janji akan biayai kamu dan Shafa sekolah, kamu harus belajar yang rajin biar jadi orang sukses.” Ucapku pada adik laki-laki yang kini sudah menginjak bangku SMA, sembari kurangkul dia.
“Buat adik mas yang paling cantik, gak boleh suka nangis ya…Shafa harus rajin sekolah, belajar dan ngajinya. Kan kemarin Shafa bilang sama mas kalau pengen jadi dokter yang hafidzoh, jadi Shafa harus semangat terus.” Kupeluk erat Shafa, yang selama ini selalu membuatku bahagia walau lelah.
“Mas Faiz kapan pulangnya?” Tanya Shafa padaku.
“ Tenang aja dek, mas nanti bakalan pulang kok kalau sudah selesai urusannya.” Sahutku pelan sembari tersenyum manis padanya.
 “Ya udah. Faiz berangkat dulu. Faiz akan selalu merindukan kalian, nanti Faiz juga bakalan sering-sering telfon kok.”
“Iya nak, doa emak dan bapak akan selalu menyertaimu dan kesuksesanmu.”
                                                ****
Padang, 2006
Dakwah ini, kumulai dari Malang dan kini Padang adalah central dakwahku. Menghadapi masyarakat yang berbeda agama adalah PR terbesarku, bagaimana dakwah ini bisa berjalan dengan menggandeng masyarakat untuk bersama dalam satu barisan, yaitu islam. Mengajar di salah satu sekolah islam di antara agama-agama non islam adalah hal yang mulia menurutku. Perjuangan ini memang melelahkan namun jika dijalani dengan rasa cinta maka CintaNyalah yang akan didapat.
Berdiam dan berdakwah di daerah orang adalah pilihanku untuk mendapat RidhoNya. Meninggalkan keluarga, bahkan meninggalkan masa-masa bisa berkumpul dengan teman. Namun aku, Muhammad Faiz Syahida bukanlah pemuda yang hanya bisa diam melihat agama dan negaranya semakin dikikis oleh orang-orang yang ingin menguasainya.
Suatu hari, hal yang sangat mengejutkan bagiku, seorang anak kecil laki-laki bertanya padaku.
“Abang, kenapa lebih memilih tinggal di sini. Tempat yang mungkin tak seindah di rumah abang?” Tanya anak itu padaku, Khafa namanya.
“Alasannya, abang ingin kita bareng-bareng nanti ke surga.” Jawabku singkat pada anak kecil itu.
“Tapi kan kita-kita banyak yang masih gak sholat gak mau ngaji, terus mau ke surganya gimana.?”
“Abang yakin seiring berjalannya waktu Allah akan memberikan hidayah pada mereka, dengan kita selalu mendoakannya. Selain itu abang ingin anak-anak di sini pada pintar biar tidak mudah untuk dipintari, seperti itu Khafa” Lanjutku.
“Ooo…iya bang.” Jawabnya dengan ekspresi mulut yang berbentuk huruf O.
****
            Hari terus bergulir dan bertemu dengan bulan. Bulanpun terus bergulir hingga bertemu dengan tahun.tak terasa 5 tahun perjuangan dan dakwah ini di Padang kujalani.
“ Faiz, kamu adalah orang hebat yang pernah bapak jumpai. Setelah beberapa kali bapak gagal mencari pengajar di sekolah ini, dan bapak akhirnya menemukan orang yang tepat, yaitu kamu. Bapak salut dengan semangat dakwahmu. Makasih nak atas perjuanganmu di sini. Sebenarnya bapak berat untuk melepaskanmu dari sekolah sini, namun bapak juga tidak ingin menghalangi kerinduanmu pada keluarga yang telah melahirkanmu menjadi orang hebat seperti ini. Terlebih yang sangat bapak banggakan adalah murid-murid kamu kini bisa menggantikan posisi kamu atas segala didikan dan ilmu yang kau beri pada mereka.” Tutur kepala sekolah tempatku mengajar.
Pagi itu adalah terakhir aku berada di Padang setelah 5 tahun aku tidak kunjung ke Malang.
“ Emak, Bapak, Hildan, Shafa, mas kangen sama kalian semua.” Batinku, senang akan kembaliku ke Malang.
Aku tidak pernah meminta Allah untuk membuatku menjadi orang yang dikagumi, namun aku selalu meminta padanya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain dan orang selalu dicintaiNya. Dengan itu CintaNya adalah tujuan utama dakwah ini.












Cerpen

Dakwahku Untuk CintaNya Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hi...