MENEMBUS FATAMORGANA
Dalam ruam gelora rasa berkalut duka. Bangunan tinggi bercatkan
warna putih dan biru itu tampak berdiri kokoh di pusat kota kelahiranku,
Semarang. Bau anyir dan obat-obatan menjadi aroma khas bangunan tinggi itu.
Sesekali terdengar jeritan dan tangisan kedukaan yang hadir. Tampak manusia
berlalu lalang dengan berbagai raut wajah yang berbeda. Kini kupercepat langkah
kakiku memasuki dan menyusuri bangunan misterius ini. Kudapati 2 orang dengan
seragam putih nan rapi tepat berada di samping kananku. “Mungkin dia bagian
receptionist,” Dalam batin. Kakiku berhenti melangkah dengan tangan yang masih
sibuk membawa buku-buku yang kubawa dari pesantren, maklumlah abi dan umi sejak
kecil selalu mengajariku untuk menjadi orang yang gemar membaca dan kemanapun
hal yang tak pernah kulupa adalah buku. Aku
terkaget saat tampak di depanku lewat sebuah ranjang rumah sakit dengan iringan
beberapa orang serta tangisan yang memecah suasana. Entah siapa yang tertidur
di sana dengan tertutupkan sehelai jarik, sontak aku ingin menangis.
“Permisi mbak, ada yang saya bisa bantu?” Kaget seorang
receptionist.
“Astaghfirullah, maaf mbak ini saya mau ke kamar Melati 05. Sebelah
mana ya?” Sahutku terbata-bata.
“Kamar Mawar nomor 05, silakan mbak lurus kemudian belok kiri,
nanati ada tulisan ruang melati” Jelas mbak Mavita seraya mengarahkan dengan
tetelunjuknya, setelah kubaca name tage di seragamnya.
***
Drettt…..dretttt……dreetttt.
Handphoneku bergetar. Kulihat layar, ada panggilan masuk dari mas Kafa.
“Assalamu’alaikum,
iya mas ada apa?, ini Azizah udah di rumah sakit tadi diantar sama ustadzah
Nia.”
“ Waalaikumsalam,
iya dek syukurlah kalo dah nyampek, sekarang lagi di mana?” Terdengar suara mas
Kafa lemas.
“Azizah sudah di
komplek ruang Melati, mas di mana?” Tanyaku.
“ Mas di ujung
komplek yang menghadap selatan, azizah buru ke sini!”
“ Iya mas,”
Kututup telephon mas Kafa, seketika fikiranku kalut mendengar suara mas yang
lemas dan gelisah, meskipun mas Kafa nggak bilang dengan apa yang sebenarnya
terjadi.
Tepat di depan
kamar Melati 05 kudapati 2 orang sepupuku dengan mata yang sembab dan bengkak,
entah apa penyebabnya. Di sudut koridor kulihat sepasang bola mata menatap
tajam ke arahku. Kucoba menelisik ke ruang fikirannya, ada hal yang tersimpan,
dia adalah mas Kafa, kakak tertuaku, berdiri mematung dengan fikiran kosong dan
gadget yang masih ia genggam.
“ Mas ada apa
ini?” Dia masih terdiam. Hal itu membuatku semakin kalut dengan apa yang
sebenarnya terjadi. Tanpa berfikir panjang aku berlari memasuki kamar itu dan
air mata tak kuasa terbendung.
“ Budhe, ada apa
ini?” Tanyaku beriring dengan isakan tangis. Budhe hanya terdiam, menatap
ranjang itu.
“ Mbak Naila, apa
yang sebenarnya terjadi?” Tanyaku paksa pada kakak kedua.
“ Abi…..abi….”
Sahutnya, sembari membuka kain putih yang menutupi seseorang yang tertidur di
atas ranjang rumah sakit.
“ Innalillahi
wainna ilaihi roojiun, Abi.” Kakiku lemas, badanku serasa tak berdaya melihat
seorang abi yang kini terbujur kaku di hadapanku.
“Abi…..abi kenapa
pergi ninggalin Azizah?” Tangisku pecah.
“ Uwis nduk, diikhlasne wae, biar abi tenang.” Budhe Irma
mencoba menenangkanku.
“Azizah….mbak Naila juga sayang sama abi. Mbak juga gak mau
kehilangan abi, tapi ini sudah kehendak Tuhan dik.” Mbak Naila memelukkku erat,
sembari menyeka airmata yang telah membanjiri kerudung maroon yang kukenakan.
2 tahun yang lalu masih terlintas dalam memori ingatanku. Saat-saat
yang membuatku tak kuat lagi untuk menjalani hidup, umi, seorang yang aku
sayangi pergi selamanya, dan kini hal itu terulang. Abi, satu-satunya orang tua
yang kumiliki juga pergi meninggalkanku selamanya di usiaku yang ke 15 tahun
ini.
“ Aku butuh umi, aku butuh abi, Tuhan.”
***
Semarang, April 2016
Bumi terus
berputar pada porosnya hingga terjadilah siang dan malam. Matahari masih dengan
kesetiaannya memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru jagad. Waktu terus
berjalan, detik bertemu menit, menit bertemu jam, jam bertemu hari, hari
bertemu minggu, minggu bertemu bulan, dan bulan bertemu tahun. Dan inilah tahun
kedua sepeninggal abi.
“ Mas Kafa mau
lanjut S3 di mana?” Ucapku, menghampiri mas Kafa dengan tumpukan buku di
hadapannya.
“ Doain aja dik,
ini mas lagi nyari beasiswa, kan biaya S3 juga gak mahal. Mendingan kan gaji
kerja mas ditabung buat biaya kuliah kamu.”
“ Mas mah pasti
dapat beasiswa, kan mas pintar. Lagipula siapa juga yang gak tau kalo mas dari
S1 juga sudah dapat beasiswa prestasi.” Jawabku, tersenyum.
Sejak kecil, abi
dan umi selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Mereka selalu
membiasakan membaca buku setiap saat, bahkan 3 buku bisa terselesaikan setiap
harinya. Hal ini tidak mengherankan jika Mas Kafa dan Mbak Naila SMP hanya 2
tahun, begitupun SMA. Mereka juga mendapat beasiswa full untuk kuliah S1 dan
S2. Namun, hal ini tidak sama denganku, abi melarangku untuk mengikuti kelas
akselerasi, abi memasukkanku ke pesantren, karena abi ingin salah satu anaknya
ada yang menghafal Al-Quran.
“Azizah….” Panggil
mbak Naila dari ruang keluarga.
“ Iya mbak, ada
apa.” Sahutku.
“ Azizah mau
lanjut kuliah di mana ?”
“ Belum tau sih
mbak, tapi Azizah pengen masuk di kedokteran. Hmmmm…… tapi kayaknya gak mungkin
juga.” Jawabku ragu.
“ Kenapa jawabmu
ragu gitu dik.” Seketika mas Kafa datang.”
“ Azizah tau mas,
kedokteran itu mahal. Kan sekarang udah gak ada abi lalu siapa yang bakalan
biayai Azizah.”
“ Kamu gak usah
mikirin biaya, biar Mas Kafa aja yang mikirin, kan mas udah janji kea bi kalo
mas baklan gantiin posisi abi buat kamu dan juga mbak Naila.” Ucap mas Kafa.
Sontak kupeluk erat mas Kafa dan Mbak Naila.
“ Azizah,
sebenarnya ada 2 hal penting yang ingin mbak dan mas ceritakan.”
“ Emang ada apa
mbak.?” Tanyaku penasaran.
“ Pertama, tadi
pagi mbak dapat telfon dari PPMB UNS, kalo kamu diterima di fakultas kedokteran
dengan beasiswa full atas prestasi dan hafalan 30 juz kamu. Mbak sengaja
kemarin daftarin kamu tanpa sepengetahuanmu. Dan akhirnya Alhamdulillah Alloh menjawab
do’a-do’a dan keinginan kamu untuk kuliah di kedokteran.
“ Beneran mbak,”?
Aku masih belum percaya.
“ Iya Azizah. Mbak
serius.”
“Alhamdulillah”
Aku loncat kegirangan mendengar berita bahagia ini.
“ Namun masih ada
hal ke dua yang belum mbak ceritain.” Lanjutnya.
“ Emang apa
mbak.?” Penuh pertanyaan.
“ Sebenarnya, 2 tahun yang lalu, ketika abi pergi meninggalkan kita
semua. Abi saat itu lagi di perjalanan menuju ke Wonogiri. Ke pondokmu dik. Abi
saat itu pamit ke kita untuk menjengukmu dan juga mengantarkan kado ulangtahun
sekaligus kado atas kejuaraan kamu di olimpiade Biologi. Mas dan mbak pengen
ikut sebenarnya, tapi abi melarang. Abi ingin membuat kejutan buat kamu, namun
takdir berkata lain, di pertengahan jalan mobil abi tabrakan dengan mini bis,
abi terlempar hingga beberapa meter, dan saat itulah abi harus kehilangan
nyawanya.” Jelas mbak Naila sembari meneteskan airmata.
“ Dan ini, dulu mas temukan sebuah kado di mobil abi, masih dalam
bentuk yang bagus, mas simpan dan mas kasihkan pada waktu yang tepat.” Sembari
menyodorkan sebuah kado berwarna biru padaku.
Airmataku mulai menetas mendengar cerita mas Kafa dan mbak Naila,
dan perlahan kubuka kado itu. Ketemukan sebuah Al-Qur’an berwarna biru laut dengan
hiasan bunga di covernya, dan juga 3 buku dengan judul ; Jadikan Lelah Menjadi
Lillah, Bidadari yang Dirindukan Surga, dan Pesan CintaNya. Di samping itu
kutemukan juga sepucuk surat.
Untuk
terkasih puteri kecil Abi
Putri
kecil abi yang kini sudah menginjak remaja. Begitu cepat waktu bergulir, masih
teringat dahulu kau masih kecil dan begitu manja. Abi sangat mencintai putri
kecil abi. Dan di umur ke 15 tahun ini, abi ingin kamu bisa mencapai
cita-citamu nak. Maafkan abi jika abi belum bisa selalu membuatmu bahagia, dan
juga selalu tersenyumlah. Abi hanya bisa memberi kado Al-Qur’an supaya kamu
bisa jadi hafidzah dan semangat untuk murajaah. Dan abi juga beri buku agar
kamu bisa mengambil berbagai hikmah dari buku itu. Abi sangat sayang pada
Azizah. Baarakalloh fii umrik nak.
Salam
sayang dari Abi