Kamis, 16 Januari 2020

MENEMBUS FATAMORGANA


MENEMBUS FATAMORGANA

Dalam ruam gelora rasa berkalut duka. Bangunan tinggi bercatkan warna putih dan biru itu tampak berdiri kokoh di pusat kota kelahiranku, Semarang. Bau anyir dan obat-obatan menjadi aroma khas bangunan tinggi itu. Sesekali terdengar jeritan dan tangisan kedukaan yang hadir. Tampak manusia berlalu lalang dengan berbagai raut wajah yang berbeda. Kini kupercepat langkah kakiku memasuki dan menyusuri bangunan misterius ini. Kudapati 2 orang dengan seragam putih nan rapi tepat berada di samping kananku. “Mungkin dia bagian receptionist,” Dalam batin. Kakiku berhenti melangkah dengan tangan yang masih sibuk membawa buku-buku yang kubawa dari pesantren, maklumlah abi dan umi sejak kecil selalu mengajariku untuk menjadi orang yang gemar membaca dan kemanapun hal yang tak pernah kulupa adalah  buku. Aku terkaget saat tampak di depanku lewat sebuah ranjang rumah sakit dengan iringan beberapa orang serta tangisan yang memecah suasana. Entah siapa yang tertidur di sana dengan tertutupkan sehelai jarik, sontak aku ingin menangis.
“Permisi mbak, ada yang saya bisa bantu?” Kaget seorang receptionist.
“Astaghfirullah, maaf mbak ini saya mau ke kamar Melati 05. Sebelah mana ya?” Sahutku terbata-bata.
“Kamar Mawar nomor 05, silakan mbak lurus kemudian belok kiri, nanati ada tulisan ruang melati” Jelas mbak Mavita seraya mengarahkan dengan tetelunjuknya, setelah kubaca name tage di seragamnya.
***
            Drettt…..dretttt……dreetttt. Handphoneku bergetar. Kulihat layar, ada panggilan masuk dari mas Kafa.
            “Assalamu’alaikum, iya mas ada apa?, ini Azizah udah di rumah sakit tadi diantar sama ustadzah Nia.”
            “ Waalaikumsalam, iya dek syukurlah kalo dah nyampek, sekarang lagi di mana?” Terdengar suara mas Kafa lemas.
            “Azizah sudah di komplek ruang Melati, mas di mana?” Tanyaku.
            “ Mas di ujung komplek yang menghadap selatan, azizah buru ke sini!”
            “ Iya mas,” Kututup telephon mas Kafa, seketika fikiranku kalut mendengar suara mas yang lemas dan gelisah, meskipun mas Kafa nggak bilang dengan apa yang sebenarnya terjadi.
            Tepat di depan kamar Melati 05 kudapati 2 orang sepupuku dengan mata yang sembab dan bengkak, entah apa penyebabnya. Di sudut koridor kulihat sepasang bola mata menatap tajam ke arahku. Kucoba menelisik ke ruang fikirannya, ada hal yang tersimpan, dia adalah mas Kafa, kakak tertuaku, berdiri mematung dengan fikiran kosong dan gadget yang masih ia genggam.
            “ Mas ada apa ini?” Dia masih terdiam. Hal itu membuatku semakin kalut dengan apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa berfikir panjang aku berlari memasuki kamar itu dan air mata tak kuasa terbendung.
            “ Budhe, ada apa ini?” Tanyaku beriring dengan isakan tangis. Budhe hanya terdiam, menatap ranjang itu.
            “ Mbak Naila, apa yang sebenarnya terjadi?” Tanyaku paksa pada kakak kedua.
            “ Abi…..abi….” Sahutnya, sembari membuka kain putih yang menutupi seseorang yang tertidur di atas ranjang rumah sakit.
            “ Innalillahi wainna ilaihi roojiun, Abi.” Kakiku lemas, badanku serasa tak berdaya melihat seorang abi yang kini terbujur kaku di hadapanku.
            “Abi…..abi kenapa pergi ninggalin Azizah?” Tangisku pecah.
Uwis nduk, diikhlasne wae, biar abi tenang.” Budhe Irma mencoba menenangkanku.
“Azizah….mbak Naila juga sayang sama abi. Mbak juga gak mau kehilangan abi, tapi ini sudah kehendak Tuhan dik.” Mbak Naila memelukkku erat, sembari menyeka airmata yang telah membanjiri kerudung maroon yang kukenakan.
2 tahun yang lalu masih terlintas dalam memori ingatanku. Saat-saat yang membuatku tak kuat lagi untuk menjalani hidup, umi, seorang yang aku sayangi pergi selamanya, dan kini hal itu terulang. Abi, satu-satunya orang tua yang kumiliki juga pergi meninggalkanku selamanya di usiaku yang ke 15 tahun ini.
“ Aku butuh umi, aku butuh abi, Tuhan.”
                                                ***
            Semarang,  April 2016
            Bumi terus berputar pada porosnya hingga terjadilah siang dan malam. Matahari masih dengan kesetiaannya memancarkan sinarnya ke seluruh penjuru jagad. Waktu terus berjalan, detik bertemu menit, menit bertemu jam, jam bertemu hari, hari bertemu minggu, minggu bertemu bulan, dan bulan bertemu tahun. Dan inilah tahun kedua sepeninggal abi.
            “ Mas Kafa mau lanjut S3 di mana?” Ucapku, menghampiri mas Kafa dengan tumpukan buku di hadapannya.
            “ Doain aja dik, ini mas lagi nyari beasiswa, kan biaya S3 juga gak mahal. Mendingan kan gaji kerja mas ditabung buat biaya kuliah kamu.”
            “ Mas mah pasti dapat beasiswa, kan mas pintar. Lagipula siapa juga yang gak tau kalo mas dari S1 juga sudah dapat beasiswa prestasi.” Jawabku, tersenyum.
            Sejak kecil, abi dan umi selalu memprioritaskan pendidikan anak-anaknya. Mereka selalu membiasakan membaca buku setiap saat, bahkan 3 buku bisa terselesaikan setiap harinya. Hal ini tidak mengherankan jika Mas Kafa dan Mbak Naila SMP hanya 2 tahun, begitupun SMA. Mereka juga mendapat beasiswa full untuk kuliah S1 dan S2. Namun, hal ini tidak sama denganku, abi melarangku untuk mengikuti kelas akselerasi, abi memasukkanku ke pesantren, karena abi ingin salah satu anaknya ada yang menghafal Al-Quran.
            “Azizah….” Panggil mbak Naila dari ruang keluarga.
            “ Iya mbak, ada apa.” Sahutku.
            “ Azizah mau lanjut kuliah di mana ?”
            “ Belum tau sih mbak, tapi Azizah pengen masuk di kedokteran. Hmmmm…… tapi kayaknya gak mungkin juga.” Jawabku ragu.
            “ Kenapa jawabmu ragu gitu dik.” Seketika mas Kafa datang.”
            “ Azizah tau mas, kedokteran itu mahal. Kan sekarang udah gak ada abi lalu siapa yang bakalan biayai Azizah.”
            “ Kamu gak usah mikirin biaya, biar Mas Kafa aja yang mikirin, kan mas udah janji kea bi kalo mas baklan gantiin posisi abi buat kamu dan juga mbak Naila.” Ucap mas Kafa. Sontak kupeluk erat mas Kafa dan Mbak Naila.
            “ Azizah, sebenarnya ada 2 hal penting yang ingin mbak dan mas ceritakan.”
            “ Emang ada apa mbak.?” Tanyaku penasaran.
            “ Pertama, tadi pagi mbak dapat telfon dari PPMB UNS, kalo kamu diterima di fakultas kedokteran dengan beasiswa full atas prestasi dan hafalan 30 juz kamu. Mbak sengaja kemarin daftarin kamu tanpa sepengetahuanmu. Dan akhirnya Alhamdulillah Alloh menjawab do’a-do’a dan keinginan kamu untuk kuliah di kedokteran.
            “ Beneran mbak,”? Aku masih belum percaya.
            “ Iya Azizah. Mbak serius.”
            “Alhamdulillah” Aku loncat kegirangan mendengar berita bahagia ini.
            “ Namun masih ada hal ke dua yang belum mbak ceritain.” Lanjutnya.
            “ Emang apa mbak.?” Penuh pertanyaan.
“ Sebenarnya, 2 tahun yang lalu, ketika abi pergi meninggalkan kita semua. Abi saat itu lagi di perjalanan menuju ke Wonogiri. Ke pondokmu dik. Abi saat itu pamit ke kita untuk menjengukmu dan juga mengantarkan kado ulangtahun sekaligus kado atas kejuaraan kamu di olimpiade Biologi. Mas dan mbak pengen ikut sebenarnya, tapi abi melarang. Abi ingin membuat kejutan buat kamu, namun takdir berkata lain, di pertengahan jalan mobil abi tabrakan dengan mini bis, abi terlempar hingga beberapa meter, dan saat itulah abi harus kehilangan nyawanya.” Jelas mbak Naila sembari meneteskan airmata.
“ Dan ini, dulu mas temukan sebuah kado di mobil abi, masih dalam bentuk yang bagus, mas simpan dan mas kasihkan pada waktu yang tepat.” Sembari menyodorkan sebuah kado berwarna biru padaku.
Airmataku mulai menetas mendengar cerita mas Kafa dan mbak Naila, dan perlahan kubuka kado itu. Ketemukan sebuah Al-Qur’an berwarna biru laut dengan hiasan bunga di covernya, dan juga 3 buku dengan judul ; Jadikan Lelah Menjadi Lillah, Bidadari yang Dirindukan Surga, dan Pesan CintaNya. Di samping itu kutemukan juga sepucuk surat.

Untuk terkasih puteri kecil Abi
Putri kecil abi yang kini sudah menginjak remaja. Begitu cepat waktu bergulir, masih teringat dahulu kau masih kecil dan begitu manja. Abi sangat mencintai putri kecil abi. Dan di umur ke 15 tahun ini, abi ingin kamu bisa mencapai cita-citamu nak. Maafkan abi jika abi belum bisa selalu membuatmu bahagia, dan juga selalu tersenyumlah. Abi hanya bisa memberi kado Al-Qur’an supaya kamu bisa jadi hafidzah dan semangat untuk murajaah. Dan abi juga beri buku agar kamu bisa mengambil berbagai hikmah dari buku itu. Abi sangat sayang pada Azizah. Baarakalloh fii umrik nak.
                                      Salam sayang dari Abi


           





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen

Dakwahku Untuk CintaNya Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hi...