Sah Menjadi Kekasih Halal
Dewy Hideaki & Iis Noor
Gemericik air memberi irama di pagi
nan sunyi. Berhias langit kelabu tertutup tebalnya kabut nan putih. Harum dari
kuncup mawar yang mekar, memberi aroma roda kehidupan. Tetesan air embun
membasahi celah-celah rerumputan, dan semilir angin menghempas lembut dedaunan.
Hijau pepohonanpun diselimuti kabut nan putih. Sesekali, fajar belum berani
menebarkan senyuman di bumi. Sesekali kicauan burung bersahutan, pertanda si
Jantan dan si Betina sedang bercengkerama di langit yang masih kelam.
Merekapun
menghampiri tenda dengan hiasan janur kuning yang melengkung, serta berhiaskan
pisang dan kelapa di setiap sisi depannya. Sesekalai burung-burung itu terbang
dan berpindah ke ranting -ranting pepohonan, yang kini daun-daunnya telag gugur.
''Ya Tuhan...berikan kelancaran dalam acara
pernikahanku dan Romi nanti, ridhoilah kami untuk bersatu menjalankan sunah
RasulMu.'' Batin Astria dalam hati. Tampak raut wajahnya memerah semu. Dari
sudut matanya menyimpan ribuan kebahagiaan, dan semuanya itu terungkap dari
linangan air mata kebahagiaan yang membasahi pipi cabinya.
Lima jam lagi proses pernikahan Astria dan
Romi akan dilangsungkan. Tepatnya nanti pukul 11.00 WIB. Bertempat di Ponorogo,
Jawa Timur. Rasa gelisah, resah, dan grogi bercampur aduk jadi satu. Hingga Astria tak mengerti apa
yang sedang ia rasakan. Bergegas ia mengambil gadgednya dan menelpon Romi,
calon suaminya. ia sekarang masih dalam perjalanan dari Cirebon, Jawa Barat.
''Assalamu'alaikum, mas.''
''Wa'alaikumsalam warohmatulloh,
sayang.'' jawab Romi.
''Mas dan keluarga udah nyampek mana
ya?'' Tanya Astria terbata-bata.
''Ini mas dan keluarga baru aja,
masuk ke Madiun.''
''Ya, syukurlah mas. Ow iya, nanti
mas dan keluarga mampir aja dulu ke rumah tante Lina di Dolopo Madiun, biar
istirahat dulu aja. Nah nanti kalau udah mendekati pukul 11.00, eh kira-kira
pukul 10.00 mas dan keluarga berangkat ke sini.'' jelasku kepada Romi, calon
suamiku.
''Iya sayang, kan mas udah pernah
kamu ajak ke rumah tante Lina. Dulu waktu liburan kuliah. Dijamin nggak bakal
nyasar deh.''
''Udah dulu ya mas, hati-hati
assalamu'alaikum.''
''Wa'alaikumsalam.'' Jawabnya dari
kejauhan.
***
Mentari mulai bersinar, membiaskan
sinar terangnya pada permukaan langit dan bumi. Warna hijau pepohonan mulai
tampak jelas. Air embun dan tebalnya kabutpun kini dimakan oleh sang fajar.
Hingga menyibak panorama kelabu menjadi panorama keindahan dan kedamaian.
Alunan gending jawa menambah
keramaian saat detik detik acara pernikahan Astria dan Romi. Para undangan
sudah pada datang memenuhi kursi yang telah disediakan, dengan kotak
berbungkuskan kertas kado di tangan mereka.
Hati Astria semakin bergetar hebat.
beberapa menit lagi ijab kabul akan dilaksanakan, dan dilanjutkan dengan acara
resepsi pernikahan. Dag dig dug rasanya.
''Tria, acara akan segera dimulai
udah siap kan anak ibu?'' Ibu menghampiri Tria. Spontan memeluk Tria memeluk
erat tubuh ibunya, yang sebentar lagi ia harus dimiliki orang lain, suaminya.
''Bu...maafkan Tria. Selama ini Tria
belum bisa membalas pengorbanan dan kebaikan ibu dan ayah, dan kini Tria akan
menikah. Tria minta doa restu dari ibu.
''Tria...ibu bahagia, kala ibu
melihatmu bahagia dengan Romi. Selama ini kamu sudah terlalu sering membuat
ayah dan ibumu ini bangga dari kecerdasanmu, kepandaianmu, dan juga dari
prestasi-prestasimu nduk. Semoga kamu dan Romi menjadi keluarga sakinah
mawaddah warohmah.''
***
Di sudut yang berbeda. Dolopo
menjadi saksi keberangkatan pangeran Romi dan keluarga untuk menikah dengan
putri Astria. Mereka menuju kediaman sang calon keluarga baru mereka, Astria
Amandita. Rasa grogi juga merajai jiwa Romi. Namun semburat senyumnya
membahasakan bahwa dia sangat bahagia.
''Dalam kebahagiaan ini, ayah tidak
bisa mendampingiku. Semoga ayah di sana juga merasakan kebahagiaan ini.'' Gumamnya
lirih, sembari memasuki mobil yang
akan segera melaju.
''Romi, akang akan mendampingimu
dalam hari bahagiamu ini.'' Tiba-tiba kang Arif menepuk bahuku dari kursi
belakang.''
Kata-katanya mampu menenangkan hati Romi,
hingga menghapus kegundahan yang sempat merasuk jiwanya.
''Iya kang Arif, selama ini akang
memang menjadi ayah bagiku, semenjak ayah pergi untuk selamanya. Nuhun pisan
kang.'' sahut Romi. Raut wajahnya kini berubah menjadi lebih bercahaya dan
berseri. Matanya berbinar dan sesekali simpul senyuman hadir dari bibirnya.
Drrrrt...drrrrtttt,
hp Romi bergetar.
1 Pesan Diterima
A' Romi, selamat yah, bentar lagi
bisa jadi imam buat mbak Astria. Dari dulu Rina menilai memang kalian adalah
pasangan
yang cocok, sejak kalian sama-sama menempuh S1 di Bandung. Sekali lagi selamat
dan semoga kalian menjadi keluarga samawa.
Romi membaca dengan jeli pesan dari
itu. Ternyata sebuah pesan dari Rima, teman Romi dan Astria saat kuliah di
Bandung. Dengan lincah jemari Romi menari di atas hpnya.
''Makasih Rina atas doa dan
ucapannya, semoga aku dan Astria menjadi keluarga samawa, dan begitupun kamu
bisa cepet'' nyusul sama si Ronaldo itu hhhe.'' Balas Romi.
''Masama A', amiin. Semoga doa
aa' Romi dikabulkan Alloh, biar aku cepet nyusul.''
Menyusul
di belakngya juga ada beberapa pesan
3 Pesan Diterima
''Pagi Romi, gue turut seneng, kamu
udah mau nikah. Jaga bener'' tuh Astria. Selamat menempuh hidup baru bro''
''Assalamu'aikum bang Romi, cie-cie
calaon pengantin baru. Lagi seneng donk pastinya, Maaf Loga kagak bisa datang.
Soalnya Aceh jauh bang dari Jawa Timur. Pokoknya Lora seneng deh. Cepet-cepet
dapat momongan ya, biar nih Bima, jagoanku ada temannya..hhhe''
''Selamat ya Romi, semoga kau dan Astria
bisa menjadi keluarga samawa''
***
Gaun putih menyelimuti tubuh Astria.
Perpaduannya dengan orange di jilbab menambah aura kecantikannya, hingga para
undangan berbisik-bisik akan kecantikan astria. Sorot bola matanya penuh
sinaran-sinaran kebahagiaan. Astria duduk di kursi pengantin, dan di sisi kanan
dan kiri ada dua orang putri kecil serta dua orang pangeran kecil yang menemani
sang ratu. Di Jawa mentebutnya dengan Domas dan Manggolo.
Tak lama kemudian, tampak dari
kejauhan sebuah mobil silver berhiaskan bunga datang. Disusul dengan mobil-mobil dan bus di
belakangnya.
Ya nabi...salam 'alaika ya rosul
salam 'alaika ya habib salam 'alaika solawatulloh alaika......
Sholawat Nabi atau sering disebut srokal
oleh masyarakat Jawa, khususnya warga Ponorogo sudah meruang di setiap gendang
telinga. Srokal itu mengiringi jalan Astria yang digandeng oleh ayah ibunya,
dan dari arah berlawanan Romi yang digandeng oleh ibu dan kakak pertamanya.
Sontak seluruh undangan berdiri. Sinaran-sinaran lampu kamera bergantian mengabadikan
momen ini dengan mengambil foto-foto pengantin yang sedang dipertemukan itu.
''Masyaallah...sungguh cantik calon
istriku ini, sampai aku tak kuasa memandang kecantikannya itu.''Batin Romi,
seraya berusaha memandang lebih tajam paras cantik Astria. Tampak Astria
tersipu malu kala sang pangeran memandangnya.
Keduanya duduk, lalu seorang
penghulu dan dua orang saksi telah siap untuk menyatukan dua orang insan ini,
satu dari Jawa, dan satunya dari Sunda. Mereka ialah Romi dan Astria.
''Saudara Romi sudah siap? Dan
saudari Astria juga sudah
siap?'' Tanya seorang penghulu.
''Siap'' jawab Romi, disusul suara
Astria ''Siap.” Ayah
Astria menjabat tangan Romi.
''Saya nikahkan kau dengan putriku
Astria Amandita dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai Rp
2.019.000 di bayar tunai.'' Dengan lancarnya ayah
Astria mengucapkannya.
''Saya terima nikahnya Astria Amandita
binti Halim As-syarif M.Ag dengan
maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 2.019.000 dibayar tunai.'' Romi
mengucapkan kabul itu dengan suara jelas. Bahkan tak ada rasa grogi yang tampak
dari dirinya.
''Alhamdulillah.'' Gumam Romi lirik.
''Bagaimana saksi sah?'' Tanya penghulu
kepada saksi-saksi.
Serentak keduanya menjawab ''sah.''
''Alhamdulillahirobbil'alamin...baarokallahu
lak, wa baaroka 'alaik wa jama'a
bainakuma fii khoir.''
Suasana menjadi riuh ketika para
undangan bersorak menyuruh Romi untuk mencium kening Astria. Begitupun Astria
untuk mencium tangan sang suami.
Meski malu-malu, sontak Romi mencium
kening Astria yang kini sudah sah menjadi pendamping hidupnya.
Acara berlanjut dengan kedua mempelai
duduk di pelaminan yang berhiaskan bunga-bunga di sekelilingnya. Senyuman
bahagia merajai diri Romi dan Astria. Setiap undangan menyalami mereka dan
mengucapkan selamat kepada pengantin baru. Para undanganpun juga merasakan
kebahagiaan itu. Karena Astria merupakan orang yang terkenal dengan keramahan
dan kepiawaiannya terhadap masyarakat. Sehingga membuat masyarakat turut berbahagia.
***
Sang raja siang sudah pergi ke
peraduannya. Meninggalkan mega di ufuk barat. Kini berganti ratu malam yang
akan menamani kehidupan di bumi. Angin malam menyelimuti setiap insan,
khususnya Romi dan Astria. Suasana pengantin baru, melekat pada malam itu.
Dimana mereka meluapkan seluruh kasih sayang antara keduanya, tanpa ada kata
bukan muhrim. Sekarang mereka sudah menjadi pasangan halah. Selama ini mereka
menanti kehalalan masing-masing
dan akhirnya Alloh memberikan jawaban atas penantian itu. Astria memang benar-benar tulang rusuk Romi.
''Aku bahagia, sekarang kau sudah
menjadi kekasih halalku Sayang.'' Suara romi memecah kesunyian dan kegulitaan.
''Aku juga bahagia mas, kau sudah menjadi
imamku yang akan selalu menuntunku ke jalan yang benar.'' Sahut Astria
kemudian.
''Semoga kita bisa mengarungi
bahtera rumah tangga ini dengan baik, dan menjadi keluarga sakinah mawaddah
warahmah.''
''Amiin
Ya Alloh, mas udah makan apa belum tadi?'' tanya Astria mesra.
''Sudah
kok tapi ya cuma sedikit. Tapi entah kenapa sekarang mas kok kenyang ya?,
ketika melihat kecantikan istriku ini.'' Ucap Romi sedikit menggombal.''
''Ih mas
bisa aja.'' Jawab Astria lembut.
Tiba-tiba
hp Astria berbunyi, ada panggilan masuk.
''Assalamu'alaikum
Astria''
''Wa'alaikum salam Reni,''
''Selamat ya atas pernikahannya
dengan Romi, aku di sini turut berbahagia ketika kamu mengabariku mengenai
pernikahanmu 5 hari yang lalu. Semoga menjadi keluarga samawa ya.''
''Amiiin, syukron ya atas semuanya.
Aku bahagia akhirnya aku bisa menyusul pernikahanmu dan Zeni 1 bulan yang
lalu.''
''Afwan, ow iya mana nih si Romi,
pengen ngomong.'' tanya Reni.
''Sebentar
ya, aku kasihkan dulu hpnya.''
''Hallo Reni.'' Romi membuka
percakapan dengan salah satu temannya itu, yang kini tinggal di Surabaya.
''Hallo
Romi, selamat ya.''
''Iya
terima kasih Ren.''
''Hmmm
ow iya, eh cepet-cepet dapet momongan ya, biar rame tuh kehidupan kalian hhe.”
''Tenang
aja Ren hhhe,'' Romi mebalasnya dengan jawaban kepastian.
''Ya udah, selamat menempuh hidup
baru ya, dan selamat menikmati malam pertama kalian, assalamu'alaikum.''
''Wa'alaikum
salam.''
***
Di malam
penuh kegulitaan, yang berhiaskan ribuan bintang. Tercium aroma bunga kantil
yang merambak sebuah kamar pengantin.
Rentengan bunga kantil itu Astria gantung di sisi pintu kamar.
Drrriing...Hp
Astria berbunyi ke sekian kalinya. Tanpa berpikir panjang Astria mengangkat
panggilan itu.
''Siapa
ini, kok ada nomor baru ya?'' Tanyanya penasaran dalam hati. ''Hmm, aku angkat
aja, mungkin ini penting.'' Gumamnya kemudian. Duduk di samping Astria sang
suami, Romi. Di hadapannya sebuah laptop. Tampak Romi melihat foto-foto
pernikahannya tadi siang.
''Hallo
assalamu'alaikum,'' Astria membuka percakapan itu.
''Wa'alaikumsalam. Masih ingatkan
sama aku?''
''Maaf
ini siapa ya?''
''Ini aku Adrian.'' Jelas seseorang
di balik panggilan itu.
Sontak
Astria terkejut, ia berdiri mematung di samping Romi. Bibirnya bergetar dan
lidahnya kaku hingga sulit untuk mengungkapkan kat-kata.
''Kenapa
sayang?'' Tanya Romi, seraya merangkul Astria, Romi juga bingung saat mendapati
istrinya diam mematung.
''Nggak
papa kok mas,'' sahutnya.
Tiba-tiba
terlintas dalam pikirannya, kisah-kisah bersama Adrian. Ia adalah mantan pacar
Astria waktu SMA.
''Ya
Allah, Adrian??'' Batinnya. ''Iya Adrian ada apa ya?'' Astria melanjutkan
percakapannya dengan Adrian setelah terdiam beberapa detik.
''Dengar-dengar
kamu baru menikah ya, selamat ya Astria. Aku turut bahagia mendengarnya. Ow iya
tenang aja, aku nggak bakal ngganggu kamu kok. Aku udah lupain kisah-kisahku
sama kamu saat SMA.''
''Iya
terima kasih banyak Adrian.''
''Astria,
aku minta do'a restunya ya, ini bentar lagi aku juga akan menikah dengan Rosa.
Masih ingatkan?, itu tuh, adik kelas kita yang paling kece hhe.''
''Alhamdulillah
kalau begitu. Akhirnya kamu sudah dipertemukan jodohmu oleh tuhan. Semoga
lancar dan menjadi keluarga yang samawa ya Adrian.''
Romi dan
Astria banyak menerima ucapan-ucapan selamat dari teman-teman mereka. Bahkan
para dosen mereka juga mengucapkan.
Malam ini, sungguh kebahagiaan mengiringi kehidupan pengantin baru itu, Romi
dan Adrian. Walau mereka berbeda suku, itu tak menjadi penghalang untuk cinta
mereka.
''Sayang...''
Ucap Romi mendekati istrinya.
''Iya mas ada apa?'' Sahut Astria
memegang tangan Romi.
''Ingat nggak saat-saat kita dulu
kuliah di Bandung?''
''Ya ingatlah sayang pastinya, apalagi
saat aku dan mas sering berantem sebelum kita jadian.''
''Kalau yang itu mah selalu
terngiang-ngiang dalam pikiran mas, soalnya dari berantem itulah mas bisa
dapetin kamu.'' Romi sambung dengan tawa kecilnya. ''Tapi kan, yang penting
sekarang kamu udah jadi istri mas,'' Lanjutnya.
Percakapan mereka di malam pertama
pengantin baru itu, memberikan harapan-harapan
untuk masa depan mereka.
''Semoga tuhan cepat mempercayai kita
untuk mendapat momongan ya sayang.'' Ketus Romi.
''Iya mas, semoga nanti kita cepet
dapet momongan, kan jadi rame suasana hidup kita.'' Jawab Astria setuju.
''Malam udah larut nih, kita istirahat
aja dulu sayang.'' Ajak Romi pada Astria.
***
Awal Februari, menjadi awal hidup
mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Hingga Romi memberikan maskawin uang
tunai senilai 2.019.000 itu juga memiliki makna tersendiri. 2.019.000, 4 angka dari depan, yaitu 2019
merupakan jumlah dari tanggal, bulan, dan tahun mereka menikah, maka Romi
berinisiatif untuk meberikan maskawin senilai 2.019.000.
Misteri masa depan akan mereka arungi
bersama. Suka duka bersama, dan tangis tawa bersama, karena mereka laksana satu
hati.
Dalam pernikahan, buah hati adalah anugerah yang tiada
bandingannya dengan apapun. Mereka adalah titipan Tuhan kepada pasangan pria
dan wanita yang telah menyatukan ikatan sakral pernikahan. Anak adalah medium
syukur pasangan suami istri kepada muaranya yaitu Tuhan. Mereka juga adalah
anugerah, karena anak adalah titipan Tuhan. Yang artinya Tuhan menjadikan
pasangan itu khalifah, untuk menjaga titipannya yaitu manusia baru.
Begitupun dengan Romi dan Astria, pasangan yang sudah
sebulan mengarungi bahtera rumah tangga ini ingin sekali segera diberi
momongan. Meskipun kata orang tua pamali, tapi Astria sudah tidak tahan
untuk tidak mempersiapkan nama-nama untuk anaknya nanti.
Di meja riasnya Astria membuka-buka buku pink yang selalu
ia bawa kemana-mana. “Mas, liat deh, Astria sudah nulis banyaaak banget
nama-nama yang cantik dan bagus untuk calon anak kita nanti.” Astria
membuka-buka buku hariannya yang berisi lebih dari 30 nama bayi.
“Eh, kan pamali kata orang tua juga kalo belum
punya mah.” Ungkap Roma sambil mengelus kepala Astria.
“Hehe, ga apa-apa dong mas, ini saya tulis udah lama
banget sebelum kita nikah.”
“Iya deh, semoga kita cepat di beri dede bayi yang
imut-imut ya sayang.”
“Amin mas, insya allah.”
“Eh kok ini ada nama mas disana.” Duduk dimeja rias istrinya,
Romi menunjuk satu nama yang mirip dengan namanya.
“Heh, mana mas?” Mata Astria mengikuti gerakan telunjuk
Romi, penasaran.
“Lha kok bisa yah, hahaha. Berarti ini memang pertanda
kali Mas. Ah jodoh emang enggak bakal kemana. Sudah aku tulis ternyata disini.”
Tawa mereka pecah dengan gurauan sederhana. Ruangan kamar
mereka pun menghangat dengan tawa renyah mereka menjelang magrib.
Allahuakbar,, Allahuakbar.... adzan magrib berkumandang. Romi segera pergi ke tempat
wudlu. Sedangkan Astria mulai menyiapkan alat shalat di mushala di dalam
rumahnya. Mereka melaksanakan shalat magrib berjamaah. Pasangan ini terlarut
dalam keindahan pengantin baru, sehingga magrib mereka rasakan seperti perayaan
pernikahan kembali. Sejadah seperti pelaminan yang menjadikan mereka ratu dan
raja.
Shalat berjamaah adalah nikmat tersendiri bagi Astria. Ia
menatap punggung suaminya, dan tersenyum bangga dan bahagia. Binar matanya
tidak bisa dibohongi bahwa dia sangat bahagia. Dan saat Romi mengimaminya
shalat, ia semakin yakin bahwa Romi adalah imam sebenarnya dalam hidup Astria.
Mereka menengadahkan tangan berdoa dengan khusu. Meskipun
mereka berdoa dalam batin masing-masing, mereka yakin satu sama lain bahwa doa
yang mereka panjatkan adalah doa yang sama.
Astria kembali menyunggingkan senyum kecil ketika melihat
punggung suaminya saat berdo’a. Ia yakin punggung yang ada di depannya sekarang
adalah tempatnya bersandar, yang akan mengantarkannya bersyukur menuju Tuhan.
Punggung itu juga akan menanggung bebannya sebagian. Ia amat yakin, bahwa
punggung itulah yang nantinya akan menggendong anak-anak titipan Tuhan.
“Mas besok kita mau kemana?” Astria duduk di samping
suaminya sambil mengupas apel untuk camilan.
“Kemana ya, gimana kalo kita ke Garut aja.”
“Loh, jauh-jauh amat mas ke Garut.”
“Gak apa-apa, kita sowan ke wa Aam. Katanya dia sakit. Wa
Aam kan dulu sering banget ngebantu, pinjemin uang, ngasih penghasilan
tambahan, ah pokoknya wa Aam kayak orang tua Mas banget.”
“Wa Aam kemarin gak dateng pas kita nikah gitu mas.”
“Nah itu masalahnya, semenjak wa Aam pindah ke Garut. Aku
gak bisa hubungin dia, katnya sih di kampungnya susah sinyal. Jadi mau
komunikasi juga susah.”
“Oh, gitu. Yaudah berarti rencana kita besok ke Garut ya
mas. Asik juga ke Garut kan banyak tempat wisatanya.”
“Iya, tapi gak usah sering-sering selfie yah di tempat
yang cantik mah.”
“Emang kenapa mas?”
“Nanti di rusak anak alay.”
“Haha,, dasar si Mas ini ya.” Dengan manis, Astria
menyumpal Romi dengan apel yang sudah ia kupas.
****
Trang,,, treng,treng,
Setelah shalat subuh, Astria sudah mulai sibuk di dapur.
Mempersiapkan makanan yang akan ia bawa untuk Wa Aam. Rencananya dia ingin
membuatkan makanan spesial buatan dia sendiri, tapi ternyata dia lupa resepnya
dan tidak jadi. Jadi Astria memutuskan membuat cake ja buat wa Aam.
“Ah, gak apa-apa cake juga, mudah-mudahan wa Aam suka
cake buatan pengantin baru cantik ini.” Astria menggumam ketika melihat cake
buatannya ternyata agak gosong.
“Apa? Apa? Bisa denger sekali lagi, cake buatan siapa?”
Romi yang tiba-tiba datang di dapur menggoda Astria yang sedang menggumam
sendiri.
Astria nyengir kuda, karena ketahuan narsis sendiri di
dapur. “Astria buatin cake special buat wa Aam.”
“Special buatan siapa sayang...” Romi menggoda istrinya
lagi.
“Special buatan penganting baru yang cantik ini....”
sambil membuka celemeknya dan memakaikannya ke suaminya.
“Lha, lha, ini buat apa?”
“Bantuin hiasin, hehe kan Mas ku tersayang ini pinter
banget hias kue. Ya, ya, ya. Aku mau bikin sarapan kita dulu. Oke sayang?”
“Siap, cinta.”
Dapur rumah mereka mendadak menjadi warna pink. Gurauan
kecil di sudut dapur pagi itu seperti cahaya matahari yang sedang
hangat-hangatnya. Pasangan itu membuat sebuah dimensi yang belum tentu orang
lain bisa rasakan. Dalam hati masing-masing, mereka memanjatkan syukur. Sambil
tersenyum.
“Kencangkan sabuk pengaman, jangan lupa baca doa,
bismillah.” Romi berteriak memberi perintah seperti meniru satpam dan pak
polisi.
“Siap jendral, go go go..” Astria memekik tidak kalah
keras dibanding Romi.
Mereka pun tertawa sementara mobil melaju dengan
perlahan. Astria menatap rumah mungilnya yang baru mereka tempati. Rumah
berwarna putih tulang itu seperti bunga yang sedang mekar di atas tanah.
Jendela-jendela seperti mata yang sedang tersenyum , dan pintunya seperti bibir
yang sedang merekahkan senyum manis.
Mobil mereka melaju dengan santai. Jalanan tidak terlalu
macet, tapi gerimis mulai datang yang tidak lama berubah menjadi hujan yang
lebat.
“Mas, gak berhenti dulu aja?”
“Nanti aja di deket Asep Stroberi.”
“Emang dimana Asep Stroberi mas?”
“Sekitar 2Km lagi.”
“Masih jauh lho, bisa-bisa pas disana ujan udah
berhenti.”
“Insya allah tidak akan apa-apa.”
Astria mengumandangkan doa dalam hatinya. Ia ingin
berhenti, karena dia merasa hujannya terlalu lebat dan membuat kaca mobilnya
berembun. Terlebih ia ingat, Romi tidak membawa kacamatanya. Mata Romi tidak
bisa melihat jelas dalam kondisi redup. Meskipun begitu Romi tetap ingin
melanjutkan perjalanannya. Maka Astria membuat dirinya sendiri yakin pada
suaminya.
Petir dan guntur menyambar-nyambar. Dada Astria berdegup
kencang. Sedangkan Romi tetap memasang wajah tenang dan tetap konsentrasi
membawa mobilnya.
Jalanan tidak begitu ramai, sehingga banyak motor dan
mobil-mobil berlarian seperti kesetanan. Mereka tidak tahu kapan bahaya akan
mengintai, padahal membawa mobil atau motor dengan santai di saat hujan lebih
baik. Romi menggosok-gosok matanya, karena jalanan di depannya tidak terlihat
jelas. Hanya lampu-lampu mobil yang ia bisa lihat. Selebihnya ia hanya bisa
melihat line batas jalan.
Byarrr...
Sontak seluruh yang ada di jalan berhenti mendadak.
Orang-orang berlarian dengan dada yang berdegup kencang. Terdengar kaca mobil
yang pecah dan seseorang menjerit dengan sangat keras. Darah mengalir
dijalanan, terguyur air hujan.
Innalillahi,, innalillahi,, innalillahi.
Orang-orang yang berada di jalan tidak sanggup melihat
kejadian itu, mereka ada dalam kondisi was was dan gemetar yang sama. Semua
tidak kuat melihat orang yang ada didalam mobil yang kepalanya mengeluarkan
banyak darah.
Mereka mulai sibuk menghubungi polisi, sedangkan yang
lain sibuk mencari bantuan warga setempat untuk mencari ambulan. Jalanan
menjadi macet parah. Yang di dalam mobil ternyata adalah seorang laki-laki dan
perempuan. Mereka sudah tidak sadarkan diri, karena mobil mereka terbalik.
Di dalam mobil merek terlihat sedang berpegangan tangan
dan tidak melepaskannya. Saat di bawa keluar dari dalam mobil yang terbalik pun,
tangan mereka masih saling menggenggam erat. Ibu-ibu yang melihat peristiwa itu
tidak bisa menahan air matanya. Warga sekitar jalan ada yang membawa kain untuk
menutupi korban. Ada juga bapak-bapak yang membawa karung dan koran. Yang lain
membawa pasir untuk menutupi darah yang mengalir di jalan. Semua sibuk dengan
bagian mereka masing-masing. Mereka nampak seperti pasangan suami istri baru
karena memakai cincin yang sama di jari mereka.
Astria dan Romi pun behenti dengan dada yang sangat
gemuruh melihat peristiwa itu. Mereka berdua refleks berlari ke tempat
kejadian. Astria menangis melihat kejadian itu, ia seperti melihat dirinya dan
Romi.
Astria dan Romi kembali ke dalam mobil dan melanjutkan
perjalanan. Jalanan macet sudah terurai. Di dalam mobil mereka masih tidak tahu
apa yang mesti dibicarakan. Keduanya membisu dalam ketegangan melihat peristiwa
tadi.
“Aku gak bisa ngomong apa-apa mas, sampai speechless gini
mas.”
“Duh gusti, kita memang harus lebih hati-hati kalau
sedang hujan kaya tadi.”
“Iya mas, pelajaran berharga buat kita semua ya.”
“Iya, bismillah ya. Kita berdo’a lagi minta kepada yang
Maha Kuasa untuk melindungi perjalanan kita.”
Ketegangan mereka mulai tercairkan ketika sampai di
daerah Garut. Pemandangan hijau yang luas, sawah-sawah yang terhampar, kebun
sayuran, gunung menjulang dan petani yang sedang bekerja, membuat hati mereka
tenang dan terobati lagi. Awan putih dan langit yang terang dan hati yang
hangat. Itulah yang meraka rasakan ketika sudah sampai di Garut.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..” Lelaki tua berusia 70 tahun membuka pintu. Ia adalah Wa
Aam.
“Alhamdulillah,,,,Ini Romi? Yang bener nak, alhamdulillah.
Ternyata sampai juga disini kamu nak.” Wa Aam merangkul Romi dengan raut wajah
yang ingar bingar dan tidak bisa menutupi kegembiraannya melihat Romi datang.
“Ini siapa? Istri kamu?” Wa Aam melihat Astria dan
menyalaminya.
“Iya wa, ini istri saya. Astria namanya.”
“Alhamdulillah. Segera punya momongan ya nak.”
“Insya allah wa. Uwa doakan saja.”
“Ayo, ayo masuk kedalam. Ngobrolnya di dalam.” Ajak wa
Aam sambil merangkul bahu Romi.
“Uwa sibuk apa sekarang?” Romi mengawali pembicaraan
mereka di ruang tamu yang penuh dengan buku-buku.
“Uwa sekarang berkebun dan bertani. Sekarang mah uwa jadi petani. Senang jadi petani itu
Rom, kita berhadapan langsung dengan ciptaan Allah. Menanam padi dan sayuran
itu sangat menyenangkan. Ketika menanam sayuran atau menanam padi, uwa sering
tersenyum dan bersyukur dengan tanah di negara kita yang subur. Pernah denger
kan lagu Koes Ploes yang gini melempar tongkat pun jadi makanan.”
“Tapi sekarang air sulit, dan
hujan tidak menentu jadi banyak sayuran yang busuk. Silakan di minum.” Di
dapur, Uwa Sri yang mendengarkan percakapan mereka dan membawa minuman ke ruang
tamu, dengan tersenyum bahagia ia langsung menyambung obrolan wa Aam.
“Kebetulan kemarin panen
kacang merah, jadi ini ada dodol spesial untuk kalian.” Uwa Sri melanjutkan
pembincaraannya.
“Wah, seneng banget bisa makan
dodol asli genuine Garut hahaha.” Astria mengambil dodol yang uwa Sri sajikan
di meja.
“Iya, silakan dimakan,
cantik.”
Pembicaraan mereka di ruang
tamu semakin panjang. Sampai matahari di Garut tahu-tahu sudah pulang.
****
Gemericik air hujan membasahi bumi. Air yang berjatuhan
itu seperti jejak-jejak kaki anak kecil yang sedang berlarian. Anak-anak yang
lucu dan menggemaskan, dengan kaki kecil dan jari-jari yang mungil. Astria
menyandarkan bahunya di sofa, melihat hujan di luar dari jendela. Sembari
memutar lagu Letto ia melihat hujan mengguyur bunga mawar dipekarangan
rumahnya. Lagu yang mengalun dan hujan yang mengguyur, membuat hatinya
tiba-tiba merindukan sesuatu. Dan saat ia ingin menemukan sesuatu itu, ia tidak
bisa menemukannya.
Rumah mungil mereka semakin sepi hanya anak-anak kucing
yang berlarian yang membuat suara-suara gaduh di dalam rumah. Terkadang, rumah
mungil itu nampak kesepian jika dilihat dari luar. Jika dulu ia nampak ceria,
lain dengan sekarang. Rumah mungil yang catnya mulai memudar itu, terlihat
kesepian dan merindukan suatu hal.
Sama seperti pemiliknya. Akhir-akhir ini Astria
seringkali mengalami hal itu. Rindu yang tiba-tiba, bahkan ketika Romi ada
disampingnya. Tiba-tiba air matanya menetes, tangannya basah. Ia mengelap
pipinya, kemudian air mata itu jatuh lagi. Ia merindukan sesuatu, yang kemudian
ia tahu, kalau ia merindukan buah hati dalam rahimnya.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.” Astri membukakan pintu dan segera
tangannya mengelap pipinya yang basah.
“Sudah pulang mas? Gimana di sekolahnya lancar?”
“Alhamdulillah, tadi ujian anak-anak nilainya pada bagus
semua.” Seperti biasa, Romi selalu memberikan senyuman terbaiknya meskipun dia
sangat lelah.
Tapi ia melihat mata istrinya sembab. Raut muka Romi
mulai berubah, hatinya berubah menjadi iba. Ia tahu betul apa yang terjadi.
Astria pasti menangis lagi, kalau hujan
mulai datang. Romi tahu, setiap hujan datang dan Astria sendirian di rumah, ia
pasti menangis.
Setelah Astria mengambil tas yang di bawanya. Romi
memeluk istrinya dan mengecup keningnya. Astria kembali menangis di pelukan
suaminya, ia tidak bisa menahan lagi derasnya rindu yang ia tanggung dalam
dada.
Lima tahun rumah tangga Romi dan Astria berjalan, belum
juga ada tanda-tanda ada janin dalam rahim Astria. Mereka sudah berberapa kali
datang ke dokter yang berbeda, siapa tahu ada masalah pada mereka. Tapi, semua
dokter yang mereka temui mengatakan kalau keduanya sehat-sehat saja. Tidak ada
masalah baik pada Romi maupun Astria.
“Sabar sayang, Allah Maha Tahu apa yang umatnya butuhkan.
Yakin saja, suatu saat nanti Allah pasti menitipkan amanahnya kepada kita. Dia
pemilik segalanya, dia pemilik nasib kita. Sabar..” Romi mengelus-elus kepala
istrinya yang belum bisa meredakan tangisnya.
“Iya, mas. Maafkan Astria yang tidak bisa menahannya,
mas. Astria seringkali lupa bersyukur kalau Astria diberi ujian seperti ini,
karena Astria punya mas yang selalu ada di sisi Astria. Terimakasih mas.”
Sore itu, suasana dan aroma rumah mereka berbau air mata.
Kehadiran bayi kecil yang sudah lama mereka tunggu dan tidak kunjung datang,
membuat sore itu menjadi dingin dan sepi. Meskipun begitu, keharmoisan rumah
tangga mereka tetap tidak ada bandingannya.
****
Semakin hari kesehatan Astria semakin menurun. Badannya
kurus dan lingkaran hitam matanya semakin menggelap. Nafsu makannya pun mulai
hilang. Romi sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Ia tahu betul apa yang
ada dalam fikiran istrinya, dan apa yang membuat istrinya begitu terpukul.
“Sayang, makan buburnya. Kamu sehat, aku bahagia.”
“Iya mas, Astria makan. Mas udah makan? Makan bareng aja
yuk.”
“Mas, bikin bubur banyak. Jadi mas bisa makan bubur kamu
juga nanti. Kamu makan aja yang banyak biar cepat sehat. Dan jangan banyak
fikiran sayang.” Romi mengelus dahi Astria, suhu badannya sangat tinggi.
Tapi mulut Astria terasa pahit, dan bubur yang ia makan
tidak bisa ia telan. Berkali-kali ia muntah. Dan mulai kehabisan tenaga. Romi
merasa kasihan melihat istrinya. Dia pun mengambil cuti untuk menjaga istrinya
yang sakit.
Sudah seminggu, Astria berbaring di tempat tidurnya. Ia
tidak ingin dibawa ke rumah sakit dan lebih percaya mengkonsumsi obat herbal.
Sudah dibujuk Romi beberapa kali pun tetap enggan pergi ke rumah sakit. Karena
Astria tidak suka dengan bau rumah sakit. Jika mencium bau rumah sakit, ia
teringat neneknya yang amat dia sayangi meninggal di rumah sakit. Itu selalu
membuat dia ingin menangis dan sakit hati.
“Kita ke dokter aja yuk sayang, biar cepet sembuh.”
“Nanti aja deh mas, kayanya ini juga udah mendingan.”
“Mendingan gimana, suhu badan kamu malah semakin panas
begini.”
“Ya, udah terserah mas aja. Tapi gak usah nginep ya mas,
Astria gak suka bau rumah sakit.”
Mereka berangka ke dokter terdekat rumah mereka. Astria
sudah tidak bisa berjalan, kakinya lemas dan bibirnya sudah sangat kering.
Bahkan matanya sudah samar-samar melihat. Segera pihak rumah sakit menyediakan
kamar khusus untuk Astria.
Romi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak
tega melihat istrinya yang amat dia cintai terbaring lemas dan tidak terlihat
keceriaannya lagi. Romi tidak bisa
menahan air matanya yang keluar dengan deras.
“Mas, mas Romi.” Astria memanggil Romi dengan suara
lemahnya.
“Iya sayang.”
“Jangan sedih, aku gak sehat kok mas. Aku yakin aku gak
apa-apa. Mas Romi jangan sedih.”
Romi menghela nafas dan duduk setiap disamping istrinya.
Sambil menunggu dokter yang datang.
Tidak lama dokter yang ditunggu pun datang. Dokter itu
mulai memeriksa Astria. Romi memerhatikan wajah dokter, dan ekspresi dokter itu
membuat Romi terpukul. Ekspresi iba yang sering ia lihat saat melihat orang
yang tidak punya harapan. Romi menguatkan hatinya dan berdziki dalam hati agar
Allah menjaga istrinya.
“Kondisi ibu Astria sangat tidak baik, ini akan berpengaruh
kepada janin yang dikandungnya.”
“Apa pak janin? Jadi istri saya sedang hamil pak?”
“Iya istri bapak sedang hamil 2 minggu.”
“Alhamdulillah,,, raut wajah Romi berubah menjadi
sumringah. Ia langsung menciumi tangan istrinya.
“Sayang,, kamu hamil sayang..” Romi menyampaikan berita
baik itu kepada istrinya yang tertidur menahan lelah.”
Sontak Astria pun langsung terbangun mendengar suaminya “massya
allah, alhamdulillah, allahuakbar.” Astria tidak bisa menyembunyikan dan
menahan kegembiraannya. Ia menangis gembira dan senyuman merekah dari bibirnya
yang pucat.
“Selamat pak, bu. Dan ibu harus banyak makan manakan
bernutrisi. Gejala awal memang susah makan dan pilih-pilih makanan. Itu biasa
terjadi. Tapi jangan sampai tidak makan, ini tidak bagus untuk kandungan ibu.
Sekali lagi selamat ya bu.”
“Terimakasih dokter.” Astria yang menjawab dengan wajah
yang sumringah.
Tiga puluh empat minggu usia kehamilan Astria, ia kembali
datang memeriksa kandunganya.
“Selamat bu, anak ibu kembar tiga. Dan kondisinya sehat
semua.”
“Allahu akbar. Yang benar dokter langsung tiga?”
“Benar bu, jenis kelamin mereka laki-laki.”
“Gusti.. alhamdulliha robbana...” Astria tidak bisa
menyembunyikan kegembiraannya.
Kedua pasangan itu langsung bersujud syukur dan membuat
acara syukuran. Mereka bersedekah kepada anak-anak yatim dan pesantren atas
rasa syukur itu. Kegembiraan Romi dan Astria tidak terbendung.
Rumah kecil itu menjadi ramai dengan tiga anak lelaki
kembar yang sehat dan lucu. Kebahagiaan mereka bertambah dan rasa syukur mereka
pun tidak berkurang sedikitpun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar