Sabtu, 24 November 2018

Double writer


Sah Menjadi Kekasih Halal
Dewy Hideaki & Iis Noor
            Gemericik air memberi irama di pagi nan sunyi. Berhias langit kelabu tertutup tebalnya kabut nan putih. Harum dari kuncup mawar yang mekar, memberi aroma roda kehidupan. Tetesan air embun membasahi celah-celah rerumputan, dan semilir angin menghempas lembut dedaunan. Hijau pepohonanpun diselimuti kabut nan putih. Sesekali, fajar belum berani menebarkan senyuman di bumi. Sesekali kicauan burung bersahutan, pertanda si Jantan dan si Betina sedang bercengkerama di langit yang masih kelam.
Merekapun menghampiri tenda dengan hiasan janur kuning yang melengkung, serta berhiaskan pisang dan kelapa di setiap sisi depannya. Sesekalai burung-burung itu terbang dan berpindah ke ranting -ranting pepohonan, yang kini daun-daunnya telag gugur.
 ''Ya Tuhan...berikan kelancaran dalam acara pernikahanku dan Romi nanti, ridhoilah kami untuk bersatu menjalankan sunah RasulMu.'' Batin Astria dalam hati. Tampak raut wajahnya memerah semu. Dari sudut matanya menyimpan ribuan kebahagiaan, dan semuanya itu terungkap dari linangan air mata kebahagiaan yang membasahi pipi cabinya.
 Lima jam lagi proses pernikahan Astria dan Romi akan dilangsungkan. Tepatnya nanti pukul 11.00 WIB. Bertempat di Ponorogo, Jawa Timur. Rasa gelisah, resah, dan grogi bercampur aduk jadi satu. Hingga Astria tak mengerti apa yang sedang ia rasakan. Bergegas ia mengambil gadgednya dan menelpon Romi, calon suaminya. ia sekarang masih dalam perjalanan dari Cirebon, Jawa Barat.
            ''Assalamu'alaikum, mas.''
            ''Wa'alaikumsalam warohmatulloh, sayang.'' jawab Romi.
            ''Mas dan keluarga udah nyampek mana ya?'' Tanya Astria terbata-bata.
            ''Ini mas dan keluarga baru aja, masuk ke Madiun.''
            ''Ya, syukurlah mas. Ow iya, nanti mas dan keluarga mampir aja dulu ke rumah tante Lina di Dolopo Madiun, biar istirahat dulu aja. Nah nanti kalau udah mendekati pukul 11.00, eh kira-kira pukul 10.00 mas dan keluarga berangkat ke sini.'' jelasku kepada Romi, calon suamiku.
            ''Iya sayang, kan mas udah pernah kamu ajak ke rumah tante Lina. Dulu waktu liburan kuliah. Dijamin nggak bakal nyasar deh.''
            ''Udah dulu ya mas, hati-hati assalamu'alaikum.''
            ''Wa'alaikumsalam.'' Jawabnya dari kejauhan.
                                                                          ***
            Mentari mulai bersinar, membiaskan sinar terangnya pada permukaan langit dan bumi. Warna hijau pepohonan mulai tampak jelas. Air embun dan tebalnya kabutpun kini dimakan oleh sang fajar. Hingga menyibak panorama kelabu menjadi panorama keindahan dan kedamaian.
            Alunan gending jawa menambah keramaian saat detik detik acara pernikahan Astria dan Romi. Para undangan sudah pada datang memenuhi kursi yang telah disediakan, dengan kotak berbungkuskan kertas kado di tangan mereka.
            Hati Astria semakin bergetar hebat. beberapa menit lagi ijab kabul akan dilaksanakan, dan dilanjutkan dengan acara resepsi pernikahan. Dag dig dug rasanya.
            ''Tria, acara akan segera dimulai udah siap kan anak ibu?'' Ibu menghampiri Tria. Spontan memeluk Tria memeluk erat tubuh ibunya, yang sebentar lagi ia harus dimiliki orang lain, suaminya.
            ''Bu...maafkan Tria. Selama ini Tria belum bisa membalas pengorbanan dan kebaikan ibu dan ayah, dan kini Tria akan menikah. Tria minta doa restu dari ibu.
            ''Tria...ibu bahagia, kala ibu melihatmu bahagia dengan Romi. Selama ini kamu sudah terlalu sering membuat ayah dan ibumu ini bangga dari kecerdasanmu, kepandaianmu, dan juga dari prestasi-prestasimu nduk. Semoga kamu dan Romi menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah.''
                                                                         ***
            Di sudut yang berbeda. Dolopo menjadi saksi keberangkatan pangeran Romi dan keluarga untuk menikah dengan putri Astria. Mereka menuju kediaman sang calon keluarga baru mereka, Astria Amandita. Rasa grogi juga merajai jiwa Romi. Namun semburat senyumnya membahasakan bahwa dia sangat bahagia.
            ''Dalam kebahagiaan ini, ayah tidak bisa mendampingiku. Semoga ayah di sana juga merasakan kebahagiaan ini.'' Gumamnya lirih, sembari memasuki mobil yang akan segera melaju.
            ''Romi, akang akan mendampingimu dalam hari bahagiamu ini.'' Tiba-tiba kang Arif menepuk bahuku dari kursi belakang.''
            Kata-katanya mampu menenangkan hati Romi, hingga menghapus kegundahan yang sempat merasuk jiwanya.
            ''Iya kang Arif, selama ini akang memang menjadi ayah bagiku, semenjak ayah pergi untuk selamanya. Nuhun pisan kang.'' sahut Romi. Raut wajahnya kini berubah menjadi lebih bercahaya dan berseri. Matanya berbinar dan sesekali simpul senyuman hadir dari bibirnya.
Drrrrt...drrrrtttt, hp Romi bergetar.
            1 Pesan Diterima
            A' Romi, selamat yah, bentar lagi bisa jadi imam buat mbak Astria. Dari dulu Rina menilai memang kalian adalah pasangan yang cocok, sejak kalian sama-sama menempuh S1 di Bandung. Sekali lagi selamat dan semoga kalian menjadi keluarga samawa.
            Romi membaca dengan jeli pesan dari itu. Ternyata sebuah pesan dari Rima, teman Romi dan Astria saat kuliah di Bandung. Dengan lincah jemari Romi menari di atas hpnya.
            ''Makasih Rina atas doa dan ucapannya, semoga aku dan Astria menjadi keluarga samawa, dan begitupun kamu bisa cepet'' nyusul sama si Ronaldo itu hhhe.'' Balas Romi.
            ''Masama A', amiin. Semoga doa aa' Romi dikabulkan Alloh, biar aku cepet nyusul.''
Menyusul di belakngya juga ada beberapa pesan
            3 Pesan Diterima
            ''Pagi Romi, gue turut seneng, kamu udah mau nikah. Jaga bener'' tuh Astria. Selamat menempuh hidup baru bro''
            ''Assalamu'aikum bang Romi, cie-cie calaon pengantin baru. Lagi seneng donk pastinya, Maaf Loga kagak bisa datang. Soalnya Aceh jauh bang dari Jawa Timur. Pokoknya Lora seneng deh. Cepet-cepet dapat momongan ya, biar nih Bima, jagoanku ada temannya..hhhe''
     ''Selamat ya Romi, semoga kau dan Astria bisa menjadi keluarga samawa'' 
                                                                         ***
 Gaun putih menyelimuti tubuh Astria. Perpaduannya dengan orange di jilbab menambah aura kecantikannya, hingga para undangan berbisik-bisik akan kecantikan astria. Sorot bola matanya penuh sinaran-sinaran kebahagiaan. Astria duduk di kursi pengantin, dan di sisi kanan dan kiri ada dua orang putri kecil serta dua orang pangeran kecil yang menemani sang ratu. Di Jawa mentebutnya dengan Domas dan Manggolo.
            Tak lama kemudian, tampak dari kejauhan sebuah mobil silver berhiaskan bunga datang. Disusul dengan mobil-mobil dan bus di belakangnya.
            Ya nabi...salam 'alaika ya rosul salam 'alaika ya habib salam 'alaika solawatulloh alaika......
            Sholawat Nabi atau sering disebut     srokal oleh masyarakat Jawa, khususnya warga Ponorogo sudah meruang di setiap gendang telinga. Srokal itu mengiringi jalan Astria yang digandeng oleh ayah ibunya, dan dari arah berlawanan Romi yang digandeng oleh ibu dan kakak pertamanya. Sontak seluruh undangan berdiri. Sinaran-sinaran lampu kamera bergantian mengabadikan momen ini dengan mengambil foto-foto pengantin yang sedang dipertemukan itu.
            ''Masyaallah...sungguh cantik calon istriku ini, sampai aku tak kuasa memandang kecantikannya itu.''Batin Romi, seraya berusaha memandang lebih tajam paras cantik Astria. Tampak Astria tersipu malu kala sang pangeran memandangnya.
            Keduanya duduk, lalu seorang penghulu dan dua orang saksi telah siap untuk menyatukan dua orang insan ini, satu dari Jawa, dan satunya dari Sunda. Mereka ialah Romi dan Astria.
            ''Saudara Romi sudah siap? Dan saudari Astria juga sudah siap?'' Tanya seorang penghulu.
            ''Siap'' jawab Romi, disusul suara Astria ''Siap.” Ayah Astria menjabat tangan Romi.
        ''Saya nikahkan kau dengan putriku Astria Amandita dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai Rp 2.019.000 di bayar tunai.'' Dengan lancarnya ayah Astria mengucapkannya.
        ''Saya terima nikahnya Astria Amandita binti Halim As-syarif M.Ag dengan maskawin seperangkat alat sholat dan uang senilai 2.019.000 dibayar tunai.'' Romi mengucapkan kabul itu dengan suara jelas. Bahkan tak ada rasa grogi yang tampak dari dirinya.
        ''Alhamdulillah.'' Gumam Romi lirik.
        ''Bagaimana saksi sah?'' Tanya penghulu kepada saksi-saksi.
        Serentak keduanya menjawab ''sah.''
''Alhamdulillahirobbil'alamin...baarokallahu lak,  wa baaroka 'alaik wa jama'a bainakuma fii khoir.''
         Suasana menjadi riuh ketika para undangan bersorak menyuruh Romi untuk mencium kening Astria. Begitupun Astria untuk mencium tangan sang suami.     
        Meski malu-malu, sontak Romi mencium kening Astria yang kini sudah sah menjadi pendamping hidupnya.
       Acara berlanjut dengan kedua mempelai duduk di pelaminan yang berhiaskan bunga-bunga di sekelilingnya. Senyuman bahagia merajai diri Romi dan Astria. Setiap undangan menyalami mereka dan mengucapkan selamat kepada pengantin baru. Para undanganpun juga merasakan kebahagiaan itu. Karena Astria merupakan orang yang terkenal dengan keramahan dan kepiawaiannya terhadap masyarakat. Sehingga membuat masyarakat turut berbahagia.
                                                                     ***
      Sang raja siang sudah pergi ke peraduannya. Meninggalkan mega di ufuk barat. Kini berganti ratu malam yang akan menamani kehidupan di bumi. Angin malam menyelimuti setiap insan, khususnya Romi dan Astria. Suasana pengantin baru, melekat pada malam itu. Dimana mereka meluapkan seluruh kasih sayang antara keduanya, tanpa ada kata bukan muhrim. Sekarang mereka sudah menjadi pasangan halah. Selama ini mereka menanti kehalalan masing-masing dan akhirnya Alloh memberikan jawaban atas penantian itu. Astria memang benar-benar tulang rusuk Romi.
            ''Aku bahagia, sekarang kau sudah menjadi kekasih halalku Sayang.'' Suara romi memecah kesunyian dan kegulitaan.
 ''Aku juga bahagia mas, kau sudah menjadi imamku yang akan selalu menuntunku ke jalan yang benar.'' Sahut Astria kemudian.
            ''Semoga kita bisa mengarungi bahtera rumah tangga ini dengan baik, dan menjadi keluarga sakinah mawaddah warahmah.''
''Amiin Ya Alloh, mas udah makan apa belum tadi?'' tanya Astria mesra.
''Sudah kok tapi ya cuma sedikit. Tapi entah kenapa sekarang mas kok kenyang ya?, ketika melihat kecantikan istriku ini.'' Ucap Romi sedikit menggombal.''
''Ih mas bisa aja.'' Jawab Astria lembut. 
Tiba-tiba hp Astria berbunyi, ada panggilan masuk.
''Assalamu'alaikum Astria''
            ''Wa'alaikum salam Reni,''
            ''Selamat ya atas pernikahannya dengan Romi, aku di sini turut berbahagia ketika kamu mengabariku mengenai pernikahanmu 5 hari yang lalu. Semoga menjadi keluarga samawa ya.''
            ''Amiiin, syukron ya atas semuanya. Aku bahagia akhirnya aku bisa menyusul pernikahanmu dan Zeni 1 bulan yang lalu.''
            ''Afwan, ow iya mana nih si Romi, pengen ngomong.'' tanya Reni.
''Sebentar ya, aku kasihkan dulu hpnya.''
            ''Hallo Reni.'' Romi membuka percakapan dengan salah satu temannya itu, yang kini tinggal di Surabaya.
''Hallo Romi, selamat ya.''
''Iya terima kasih Ren.''
''Hmmm ow iya, eh cepet-cepet dapet momongan ya, biar rame tuh kehidupan kalian hhe.
''Tenang aja Ren hhhe,'' Romi mebalasnya dengan jawaban kepastian.
            ''Ya udah, selamat menempuh hidup baru ya, dan selamat menikmati malam pertama kalian, assalamu'alaikum.''
''Wa'alaikum salam.''
                                                                        ***
Di malam penuh kegulitaan, yang berhiaskan ribuan bintang. Tercium aroma bunga kantil yang merambak  sebuah kamar pengantin. Rentengan bunga kantil itu Astria gantung di sisi pintu kamar.
Drrriing...Hp Astria berbunyi ke sekian kalinya. Tanpa berpikir panjang Astria mengangkat panggilan itu.
''Siapa ini, kok ada nomor baru ya?'' Tanyanya penasaran dalam hati. ''Hmm, aku angkat aja, mungkin ini penting.'' Gumamnya kemudian. Duduk di samping Astria sang suami, Romi. Di hadapannya sebuah laptop. Tampak Romi melihat foto-foto pernikahannya tadi siang.
''Hallo assalamu'alaikum,'' Astria membuka percakapan itu.
            ''Wa'alaikumsalam. Masih ingatkan sama aku?''
''Maaf ini siapa ya?''
            ''Ini aku Adrian.'' Jelas seseorang di balik panggilan itu.
Sontak Astria terkejut, ia berdiri mematung di samping Romi. Bibirnya bergetar dan lidahnya kaku hingga sulit untuk mengungkapkan kat-kata.
''Kenapa sayang?'' Tanya Romi, seraya merangkul Astria, Romi juga bingung saat mendapati istrinya diam mematung.
''Nggak papa kok mas,'' sahutnya.
Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, kisah-kisah bersama Adrian. Ia adalah mantan pacar Astria waktu SMA.
''Ya Allah, Adrian??'' Batinnya. ''Iya Adrian ada apa ya?'' Astria melanjutkan percakapannya dengan Adrian setelah terdiam beberapa detik.
''Dengar-dengar kamu baru menikah ya, selamat ya Astria. Aku turut bahagia mendengarnya. Ow iya tenang aja, aku nggak bakal ngganggu kamu kok. Aku udah lupain kisah-kisahku sama kamu saat SMA.''
''Iya terima kasih banyak Adrian.''
''Astria, aku minta do'a restunya ya, ini bentar lagi aku juga akan menikah dengan Rosa. Masih ingatkan?, itu tuh, adik kelas kita yang paling kece hhe.''
''Alhamdulillah kalau begitu. Akhirnya kamu sudah dipertemukan jodohmu oleh tuhan. Semoga lancar dan menjadi keluarga yang samawa ya Adrian.''
Romi dan Astria banyak menerima ucapan-ucapan selamat dari teman-teman mereka. Bahkan para  dosen mereka juga mengucapkan. Malam ini, sungguh kebahagiaan mengiringi kehidupan pengantin baru itu, Romi dan Adrian. Walau mereka berbeda suku, itu tak menjadi penghalang untuk cinta mereka.
''Sayang...'' Ucap Romi mendekati istrinya.
          ''Iya mas ada apa?'' Sahut Astria memegang tangan Romi.
         ''Ingat nggak saat-saat kita dulu kuliah di Bandung?''
         ''Ya ingatlah sayang pastinya, apalagi saat aku dan mas sering berantem sebelum kita jadian.''
          ''Kalau yang itu mah selalu terngiang-ngiang dalam pikiran mas, soalnya dari berantem itulah mas bisa dapetin kamu.'' Romi sambung dengan tawa kecilnya. ''Tapi kan, yang penting sekarang kamu udah jadi istri mas,'' Lanjutnya.
           Percakapan mereka di malam pertama pengantin baru itu, memberikan harapan-harapan  untuk masa depan mereka.
          ''Semoga tuhan cepat mempercayai kita untuk mendapat momongan ya sayang.'' Ketus Romi.
        ''Iya mas, semoga nanti kita cepet dapet momongan, kan jadi rame suasana hidup kita.'' Jawab Astria setuju.
        ''Malam udah larut nih, kita istirahat aja dulu sayang.'' Ajak Romi pada Astria.
                                                                        ***
        Awal Februari, menjadi awal hidup mereka mengarungi bahtera rumah tangga. Hingga Romi memberikan maskawin uang tunai senilai 2.019.000 itu juga memiliki makna tersendiri.  2.019.000, 4 angka dari depan, yaitu 2019 merupakan jumlah dari tanggal, bulan, dan tahun mereka menikah, maka Romi berinisiatif untuk meberikan maskawin senilai 2.019.000.
         Misteri masa depan akan mereka arungi bersama. Suka duka bersama, dan tangis tawa bersama, karena mereka laksana satu hati.

Dalam pernikahan, buah hati adalah anugerah yang tiada bandingannya dengan apapun. Mereka adalah titipan Tuhan kepada pasangan pria dan wanita yang telah menyatukan ikatan sakral pernikahan. Anak adalah medium syukur pasangan suami istri kepada muaranya yaitu Tuhan. Mereka juga adalah anugerah, karena anak adalah titipan Tuhan. Yang artinya Tuhan menjadikan pasangan itu khalifah, untuk menjaga titipannya yaitu manusia baru.
Begitupun dengan Romi dan Astria, pasangan yang sudah sebulan mengarungi bahtera rumah tangga ini ingin sekali segera diberi momongan. Meskipun kata orang tua pamali, tapi Astria sudah tidak tahan untuk tidak mempersiapkan nama-nama untuk anaknya nanti.
Di meja riasnya Astria membuka-buka buku pink yang selalu ia bawa kemana-mana. “Mas, liat deh, Astria sudah nulis banyaaak banget nama-nama yang cantik dan bagus untuk calon anak kita nanti.” Astria membuka-buka buku hariannya yang berisi lebih dari 30 nama bayi.
“Eh, kan pamali kata orang tua juga kalo belum punya mah.” Ungkap Roma sambil mengelus kepala Astria.
“Hehe, ga apa-apa dong mas, ini saya tulis udah lama banget sebelum kita nikah.”
“Iya deh, semoga kita cepat di beri dede bayi yang imut-imut ya sayang.”
“Amin mas, insya allah.”
“Eh kok ini ada nama mas disana.” Duduk dimeja rias istrinya, Romi menunjuk satu nama yang mirip dengan namanya.
“Heh, mana mas?” Mata Astria mengikuti gerakan telunjuk Romi, penasaran.
“Lha kok bisa yah, hahaha. Berarti ini memang pertanda kali Mas. Ah jodoh emang enggak bakal kemana. Sudah aku tulis ternyata disini.”
Tawa mereka pecah dengan gurauan sederhana. Ruangan kamar mereka pun menghangat dengan tawa renyah mereka menjelang magrib.
Allahuakbar,, Allahuakbar.... adzan magrib berkumandang. Romi segera pergi ke tempat wudlu. Sedangkan Astria mulai menyiapkan alat shalat di mushala di dalam rumahnya. Mereka melaksanakan shalat magrib berjamaah. Pasangan ini terlarut dalam keindahan pengantin baru, sehingga magrib mereka rasakan seperti perayaan pernikahan kembali. Sejadah seperti pelaminan yang menjadikan mereka ratu dan raja.
Shalat berjamaah adalah nikmat tersendiri bagi Astria. Ia menatap punggung suaminya, dan tersenyum bangga dan bahagia. Binar matanya tidak bisa dibohongi bahwa dia sangat bahagia. Dan saat Romi mengimaminya shalat, ia semakin yakin bahwa Romi adalah imam sebenarnya dalam hidup Astria.
Mereka menengadahkan tangan berdoa dengan khusu. Meskipun mereka berdoa dalam batin masing-masing, mereka yakin satu sama lain bahwa doa yang mereka panjatkan adalah doa yang sama.
Astria kembali menyunggingkan senyum kecil ketika melihat punggung suaminya saat berdo’a. Ia yakin punggung yang ada di depannya sekarang adalah tempatnya bersandar, yang akan mengantarkannya bersyukur menuju Tuhan. Punggung itu juga akan menanggung bebannya sebagian. Ia amat yakin, bahwa punggung itulah yang nantinya akan menggendong anak-anak titipan Tuhan.

“Mas besok kita mau kemana?” Astria duduk di samping suaminya sambil mengupas apel untuk camilan.
“Kemana ya, gimana kalo kita ke Garut aja.”
“Loh, jauh-jauh amat mas ke Garut.”
“Gak apa-apa, kita sowan ke wa Aam. Katanya dia sakit. Wa Aam kan dulu sering banget ngebantu, pinjemin uang, ngasih penghasilan tambahan, ah pokoknya wa Aam kayak orang tua Mas banget.”
“Wa Aam kemarin gak dateng pas kita nikah gitu mas.”
“Nah itu masalahnya, semenjak wa Aam pindah ke Garut. Aku gak bisa hubungin dia, katnya sih di kampungnya susah sinyal. Jadi mau komunikasi juga susah.”
“Oh, gitu. Yaudah berarti rencana kita besok ke Garut ya mas. Asik juga ke Garut kan banyak tempat wisatanya.”
“Iya, tapi gak usah sering-sering selfie yah di tempat yang cantik mah.”
“Emang kenapa mas?”
“Nanti di rusak anak alay.”
“Haha,, dasar si Mas ini ya.” Dengan manis, Astria menyumpal Romi dengan apel yang sudah ia kupas.
****
Trang,,, treng,treng,
Setelah shalat subuh, Astria sudah mulai sibuk di dapur. Mempersiapkan makanan yang akan ia bawa untuk Wa Aam. Rencananya dia ingin membuatkan makanan spesial buatan dia sendiri, tapi ternyata dia lupa resepnya dan tidak jadi. Jadi Astria memutuskan membuat cake ja buat wa Aam.
“Ah, gak apa-apa cake juga, mudah-mudahan wa Aam suka cake buatan pengantin baru cantik ini.” Astria menggumam ketika melihat cake buatannya ternyata agak gosong.
“Apa? Apa? Bisa denger sekali lagi, cake buatan siapa?” Romi yang tiba-tiba datang di dapur menggoda Astria yang sedang menggumam sendiri.
Astria nyengir kuda, karena ketahuan narsis sendiri di dapur. “Astria buatin cake special buat wa Aam.”
“Special buatan siapa sayang...” Romi menggoda istrinya lagi.
“Special buatan penganting baru yang cantik ini....” sambil membuka celemeknya dan memakaikannya ke suaminya.
“Lha, lha, ini buat apa?”
“Bantuin hiasin, hehe kan Mas ku tersayang ini pinter banget hias kue. Ya, ya, ya. Aku mau bikin sarapan kita dulu. Oke sayang?”
“Siap, cinta.”
Dapur rumah mereka mendadak menjadi warna pink. Gurauan kecil di sudut dapur pagi itu seperti cahaya matahari yang sedang hangat-hangatnya. Pasangan itu membuat sebuah dimensi yang belum tentu orang lain bisa rasakan. Dalam hati masing-masing, mereka memanjatkan syukur. Sambil tersenyum.

“Kencangkan sabuk pengaman, jangan lupa baca doa, bismillah.” Romi berteriak memberi perintah seperti meniru satpam dan pak polisi.
“Siap jendral, go go go..” Astria memekik tidak kalah keras dibanding Romi.
Mereka pun tertawa sementara mobil melaju dengan perlahan. Astria menatap rumah mungilnya yang baru mereka tempati. Rumah berwarna putih tulang itu seperti bunga yang sedang mekar di atas tanah. Jendela-jendela seperti mata yang sedang tersenyum , dan pintunya seperti bibir yang sedang merekahkan senyum manis.
Mobil mereka melaju dengan santai. Jalanan tidak terlalu macet, tapi gerimis mulai datang yang tidak lama berubah menjadi hujan yang lebat.
“Mas, gak berhenti dulu aja?”
“Nanti aja di deket Asep Stroberi.”
“Emang dimana Asep Stroberi mas?”
“Sekitar 2Km lagi.”
“Masih jauh lho, bisa-bisa pas disana ujan udah berhenti.”
“Insya allah tidak akan apa-apa.”
Astria mengumandangkan doa dalam hatinya. Ia ingin berhenti, karena dia merasa hujannya terlalu lebat dan membuat kaca mobilnya berembun. Terlebih ia ingat, Romi tidak membawa kacamatanya. Mata Romi tidak bisa melihat jelas dalam kondisi redup. Meskipun begitu Romi tetap ingin melanjutkan perjalanannya. Maka Astria membuat dirinya sendiri yakin pada suaminya.
Petir dan guntur menyambar-nyambar. Dada Astria berdegup kencang. Sedangkan Romi tetap memasang wajah tenang dan tetap konsentrasi membawa mobilnya.
Jalanan tidak begitu ramai, sehingga banyak motor dan mobil-mobil berlarian seperti kesetanan. Mereka tidak tahu kapan bahaya akan mengintai, padahal membawa mobil atau motor dengan santai di saat hujan lebih baik. Romi menggosok-gosok matanya, karena jalanan di depannya tidak terlihat jelas. Hanya lampu-lampu mobil yang ia bisa lihat. Selebihnya ia hanya bisa melihat line batas jalan.
Byarrr...
Sontak seluruh yang ada di jalan berhenti mendadak. Orang-orang berlarian dengan dada yang berdegup kencang. Terdengar kaca mobil yang pecah dan seseorang menjerit dengan sangat keras. Darah mengalir dijalanan, terguyur air hujan.
 Innalillahi,, innalillahi,, innalillahi.
Orang-orang yang berada di jalan tidak sanggup melihat kejadian itu, mereka ada dalam kondisi was was dan gemetar yang sama. Semua tidak kuat melihat orang yang ada didalam mobil yang kepalanya mengeluarkan banyak darah.
Mereka mulai sibuk menghubungi polisi, sedangkan yang lain sibuk mencari bantuan warga setempat untuk mencari ambulan. Jalanan menjadi macet parah. Yang di dalam mobil ternyata adalah seorang laki-laki dan perempuan. Mereka sudah tidak sadarkan diri, karena mobil mereka terbalik.
Di dalam mobil merek terlihat sedang berpegangan tangan dan tidak melepaskannya. Saat di bawa keluar dari dalam mobil yang terbalik pun, tangan mereka masih saling menggenggam erat. Ibu-ibu yang melihat peristiwa itu tidak bisa menahan air matanya. Warga sekitar jalan ada yang membawa kain untuk menutupi korban. Ada juga bapak-bapak yang membawa karung dan koran. Yang lain membawa pasir untuk menutupi darah yang mengalir di jalan. Semua sibuk dengan bagian mereka masing-masing. Mereka nampak seperti pasangan suami istri baru karena memakai cincin yang sama di jari mereka.
Astria dan Romi pun behenti dengan dada yang sangat gemuruh melihat peristiwa itu. Mereka berdua refleks berlari ke tempat kejadian. Astria menangis melihat kejadian itu, ia seperti melihat dirinya dan Romi.
Astria dan Romi kembali ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Jalanan macet sudah terurai. Di dalam mobil mereka masih tidak tahu apa yang mesti dibicarakan. Keduanya membisu dalam ketegangan melihat peristiwa tadi.
“Aku gak bisa ngomong apa-apa mas, sampai speechless gini mas.”
“Duh gusti, kita memang harus lebih hati-hati kalau sedang hujan kaya tadi.”
“Iya mas, pelajaran berharga buat kita semua ya.”
“Iya, bismillah ya. Kita berdo’a lagi minta kepada yang Maha Kuasa untuk melindungi perjalanan kita.”

Ketegangan mereka mulai tercairkan ketika sampai di daerah Garut. Pemandangan hijau yang luas, sawah-sawah yang terhampar, kebun sayuran, gunung menjulang dan petani yang sedang bekerja, membuat hati mereka tenang dan terobati lagi. Awan putih dan langit yang terang dan hati yang hangat. Itulah yang meraka rasakan ketika sudah sampai di Garut.
“Assalamualaikum..”
“Waalaikumsalam..” Lelaki tua berusia 70 tahun membuka pintu. Ia adalah Wa Aam.
“Alhamdulillah,,,,Ini Romi? Yang bener nak, alhamdulillah. Ternyata sampai juga disini kamu nak.” Wa Aam merangkul Romi dengan raut wajah yang ingar bingar dan tidak bisa menutupi kegembiraannya melihat Romi datang.
“Ini siapa? Istri kamu?” Wa Aam melihat Astria dan menyalaminya.
“Iya wa, ini istri saya. Astria namanya.”
“Alhamdulillah. Segera punya momongan ya nak.”
“Insya allah wa. Uwa doakan saja.”
“Ayo, ayo masuk kedalam. Ngobrolnya di dalam.” Ajak wa Aam sambil merangkul bahu Romi.

“Uwa sibuk apa sekarang?” Romi mengawali pembicaraan mereka di ruang tamu yang penuh dengan buku-buku.
“Uwa sekarang berkebun dan bertani. Sekarang mah uwa jadi petani. Senang jadi petani itu Rom, kita berhadapan langsung dengan ciptaan Allah. Menanam padi dan sayuran itu sangat menyenangkan. Ketika menanam sayuran atau menanam padi, uwa sering tersenyum dan bersyukur dengan tanah di negara kita yang subur. Pernah denger kan lagu Koes Ploes yang gini melempar tongkat pun jadi makanan.”
“Tapi sekarang air sulit, dan hujan tidak menentu jadi banyak sayuran yang busuk. Silakan di minum.” Di dapur, Uwa Sri yang mendengarkan percakapan mereka dan membawa minuman ke ruang tamu, dengan tersenyum bahagia ia langsung menyambung obrolan wa Aam.
“Kebetulan kemarin panen kacang merah, jadi ini ada dodol spesial untuk kalian.” Uwa Sri melanjutkan pembincaraannya.
“Wah, seneng banget bisa makan dodol asli genuine Garut hahaha.” Astria mengambil dodol yang uwa Sri sajikan di meja.
“Iya, silakan dimakan, cantik.”
Pembicaraan mereka di ruang tamu semakin panjang. Sampai matahari di Garut tahu-tahu sudah pulang.
****
Gemericik air hujan membasahi bumi. Air yang berjatuhan itu seperti jejak-jejak kaki anak kecil yang sedang berlarian. Anak-anak yang lucu dan menggemaskan, dengan kaki kecil dan jari-jari yang mungil. Astria menyandarkan bahunya di sofa, melihat hujan di luar dari jendela. Sembari memutar lagu Letto ia melihat hujan mengguyur bunga mawar dipekarangan rumahnya. Lagu yang mengalun dan hujan yang mengguyur, membuat hatinya tiba-tiba merindukan sesuatu. Dan saat ia ingin menemukan sesuatu itu, ia tidak bisa menemukannya.
Rumah mungil mereka semakin sepi hanya anak-anak kucing yang berlarian yang membuat suara-suara gaduh di dalam rumah. Terkadang, rumah mungil itu nampak kesepian jika dilihat dari luar. Jika dulu ia nampak ceria, lain dengan sekarang. Rumah mungil yang catnya mulai memudar itu, terlihat kesepian dan merindukan suatu hal.
Sama seperti pemiliknya. Akhir-akhir ini Astria seringkali mengalami hal itu. Rindu yang tiba-tiba, bahkan ketika Romi ada disampingnya. Tiba-tiba air matanya menetes, tangannya basah. Ia mengelap pipinya, kemudian air mata itu jatuh lagi. Ia merindukan sesuatu, yang kemudian ia tahu, kalau ia merindukan buah hati dalam rahimnya.
“Assalamualaikum,”
“Waalaikumsalam.” Astri membukakan pintu dan segera tangannya mengelap pipinya yang basah.
“Sudah pulang mas? Gimana di sekolahnya lancar?”
“Alhamdulillah, tadi ujian anak-anak nilainya pada bagus semua.” Seperti biasa, Romi selalu memberikan senyuman terbaiknya meskipun dia sangat lelah.
Tapi ia melihat mata istrinya sembab. Raut muka Romi mulai berubah, hatinya berubah menjadi iba. Ia tahu betul apa yang terjadi. Astria pasti  menangis lagi, kalau hujan mulai datang. Romi tahu, setiap hujan datang dan Astria sendirian di rumah, ia pasti menangis.
Setelah Astria mengambil tas yang di bawanya. Romi memeluk istrinya dan mengecup keningnya. Astria kembali menangis di pelukan suaminya, ia tidak bisa menahan lagi derasnya rindu yang ia tanggung dalam dada.
Lima tahun rumah tangga Romi dan Astria berjalan, belum juga ada tanda-tanda ada janin dalam rahim Astria. Mereka sudah berberapa kali datang ke dokter yang berbeda, siapa tahu ada masalah pada mereka. Tapi, semua dokter yang mereka temui mengatakan kalau keduanya sehat-sehat saja. Tidak ada masalah baik pada Romi maupun Astria.
“Sabar sayang, Allah Maha Tahu apa yang umatnya butuhkan. Yakin saja, suatu saat nanti Allah pasti menitipkan amanahnya kepada kita. Dia pemilik segalanya, dia pemilik nasib kita. Sabar..” Romi mengelus-elus kepala istrinya yang belum bisa meredakan tangisnya.
“Iya, mas. Maafkan Astria yang tidak bisa menahannya, mas. Astria seringkali lupa bersyukur kalau Astria diberi ujian seperti ini, karena Astria punya mas yang selalu ada di sisi Astria. Terimakasih mas.”
Sore itu, suasana dan aroma rumah mereka berbau air mata. Kehadiran bayi kecil yang sudah lama mereka tunggu dan tidak kunjung datang, membuat sore itu menjadi dingin dan sepi. Meskipun begitu, keharmoisan rumah tangga mereka tetap tidak ada bandingannya.

****
Semakin hari kesehatan Astria semakin menurun. Badannya kurus dan lingkaran hitam matanya semakin menggelap. Nafsu makannya pun mulai hilang. Romi sangat khawatir dengan keadaan istrinya. Ia tahu betul apa yang ada dalam fikiran istrinya, dan apa yang membuat istrinya begitu terpukul.
“Sayang, makan buburnya. Kamu sehat, aku bahagia.”
“Iya mas, Astria makan. Mas udah makan? Makan bareng aja yuk.”
“Mas, bikin bubur banyak. Jadi mas bisa makan bubur kamu juga nanti. Kamu makan aja yang banyak biar cepat sehat. Dan jangan banyak fikiran sayang.” Romi mengelus dahi Astria, suhu badannya sangat tinggi.
Tapi mulut Astria terasa pahit, dan bubur yang ia makan tidak bisa ia telan. Berkali-kali ia muntah. Dan mulai kehabisan tenaga. Romi merasa kasihan melihat istrinya. Dia pun mengambil cuti untuk menjaga istrinya yang sakit.
Sudah seminggu, Astria berbaring di tempat tidurnya. Ia tidak ingin dibawa ke rumah sakit dan lebih percaya mengkonsumsi obat herbal. Sudah dibujuk Romi beberapa kali pun tetap enggan pergi ke rumah sakit. Karena Astria tidak suka dengan bau rumah sakit. Jika mencium bau rumah sakit, ia teringat neneknya yang amat dia sayangi meninggal di rumah sakit. Itu selalu membuat dia ingin menangis dan sakit hati.
“Kita ke dokter aja yuk sayang, biar cepet sembuh.”
“Nanti aja deh mas, kayanya ini juga udah mendingan.”
“Mendingan gimana, suhu badan kamu malah semakin panas begini.”
“Ya, udah terserah mas aja. Tapi gak usah nginep ya mas, Astria gak suka bau rumah sakit.”
Mereka berangka ke dokter terdekat rumah mereka. Astria sudah tidak bisa berjalan, kakinya lemas dan bibirnya sudah sangat kering. Bahkan matanya sudah samar-samar melihat. Segera pihak rumah sakit menyediakan kamar khusus untuk Astria.
Romi tidak bisa menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak tega melihat istrinya yang amat dia cintai terbaring lemas dan tidak terlihat keceriaannya lagi. Romi  tidak bisa menahan air matanya yang keluar dengan deras.
“Mas, mas Romi.” Astria memanggil Romi dengan suara lemahnya.
“Iya sayang.”
“Jangan sedih, aku gak sehat kok mas. Aku yakin aku gak apa-apa. Mas Romi jangan sedih.”
Romi menghela nafas dan duduk setiap disamping istrinya. Sambil menunggu dokter yang datang.
Tidak lama dokter yang ditunggu pun datang. Dokter itu mulai memeriksa Astria. Romi memerhatikan wajah dokter, dan ekspresi dokter itu membuat Romi terpukul. Ekspresi iba yang sering ia lihat saat melihat orang yang tidak punya harapan. Romi menguatkan hatinya dan berdziki dalam hati agar Allah menjaga istrinya.
“Kondisi ibu Astria sangat tidak baik, ini akan berpengaruh kepada janin yang dikandungnya.”
“Apa pak janin? Jadi istri saya sedang hamil pak?”
“Iya istri bapak sedang hamil 2 minggu.”
“Alhamdulillah,,, raut wajah Romi berubah menjadi sumringah. Ia langsung menciumi tangan istrinya.
“Sayang,, kamu hamil sayang..” Romi menyampaikan berita baik itu kepada istrinya yang tertidur menahan lelah.”
Sontak Astria pun langsung terbangun mendengar suaminya “massya allah, alhamdulillah, allahuakbar.” Astria tidak bisa menyembunyikan dan menahan kegembiraannya. Ia menangis gembira dan senyuman merekah dari bibirnya yang pucat.
“Selamat pak, bu. Dan ibu harus banyak makan manakan bernutrisi. Gejala awal memang susah makan dan pilih-pilih makanan. Itu biasa terjadi. Tapi jangan sampai tidak makan, ini tidak bagus untuk kandungan ibu. Sekali lagi selamat ya bu.”
“Terimakasih dokter.” Astria yang menjawab dengan wajah yang sumringah.

Tiga puluh empat minggu usia kehamilan Astria, ia kembali datang memeriksa kandunganya.
“Selamat bu, anak ibu kembar tiga. Dan kondisinya sehat semua.”
“Allahu akbar. Yang benar dokter langsung tiga?”
“Benar bu, jenis kelamin mereka laki-laki.”
“Gusti.. alhamdulliha robbana...” Astria tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.
Kedua pasangan itu langsung bersujud syukur dan membuat acara syukuran. Mereka bersedekah kepada anak-anak yatim dan pesantren atas rasa syukur itu. Kegembiraan Romi dan Astria tidak terbendung.

Rumah kecil itu menjadi ramai dengan tiga anak lelaki kembar yang sehat dan lucu. Kebahagiaan mereka bertambah dan rasa syukur mereka pun tidak berkurang sedikitpun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen

Dakwahku Untuk CintaNya Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hi...