Sabtu, 16 Februari 2019

Artikel



REVITALISASI GERAKAN MELEK LITERASI UNTUK GENERASI BERMORAL
Oleh : Dewy Hideaki

Suatu negara bisa disebut sebagai negara yang maju dan berkembang jika penduduknya memiliki minat baca yang tinggi. Hal ini menjadi sorotan utama bagi generasi yang akan mewarisi segenap raga negara dan bangsa. Dapat dikatakan bahwasanya kemajuan negara ini adalah berada pada mindset generasi mudanya. Jika suatu negara dengan mayoritas penduduk melek dengan adanya literasi, maka tidak dapat dipungkiri akan muncul suatu kecerdasan pada setiap individu. Hal ini sesuai dengan salah satu cita-cita negara Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. 
Dewasa ini, kegiatan literasi masih pada tingkatan yang rendah, khususnya bagi pelajar maupun pemuda Indonesia. Dapat dilihat dari presentase tingkat minat baca tulis. Berdasarkan survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001%. Artinya, dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.[1]
Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat (BKLM) Kemendikbud Asianto Sinambela menegaskan, minat baca literasi masyarakat Indonesia masih sangat tertinggal dari negara lain. Dari 61 negara, Indonesia menempati peringkat 60. Hal tersebut, menurut Asianto menunjukkan kemampuan baca masyarakat Indonesia masih setara dengan negara Afrika Selatan. Nilai literasi membaca penduduk Indonesia masih sangat rendah. Nilai riset Program for Internasional Student Assesment (PISA) rata-rata 493, sementara nilai literasi Indonesia hanya 396.
Situasi dan kondisi seperti inilah yang seharusnya menjadi titik focus perbaikan dunia pendidikan di negara ini, terkhusus untuk literasi itu sendiri yang mampu menyeret dan menumbuhkan karakteristik moralitas pada diri anak-anak negeri. Jika kita cermati negara-negara yang telah maju karena minat baca penduduknya tinggi seperti Finlandia, Nurwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Kanada, Australia, Selandia Baru,Kanada, dan Francis mereka telah menanamkan budaya membaca pada anak sejak balita, sehingga di saat mereka remaja dan dewasa sudah terbiasa dengan membaca. Itulah PR bagi kita semua untuk menjadikan generasi muda melek akan literasi.
Kata literasi mungkin sudah tidak asing di telinga kita, khususnya bagi siswa maupun pelajar. Kata tersebut bahkan menjadi kata yang sering terucap. Dahulu kita hanya mengetahui bahwa pengertian literasi itu hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis. Walaupun definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, namun istilah literasi jarang dipakai dalam konteks pembelajaran persekolahan di Indonesia. Hal ini dapat terlihat dari tidak adanya tema literasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Persekolahan di Indonesia nampaknya lebih senang menggunakan istilah pengajaran bahasa atau pelajaran bahasa daripada menggunakan istilah literasi. Pada masa itu, membaca dan menulis mungkin dianggap cukup sebagai pendidikan dasar bagi manusia guna menghadapi tantangan zaman dan kerasnya kehidupan.
Literasi hakikatnya bukan sesuatu yang baru, namun hal tersebut telah termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1 dan 4. Dalam ayat pertama tertuliskan iqro’ yang artinya bacalah, dan pada ayat ke 4 tertuliskan qolam yang artinya pena (menulis). Jadi tidak diragukan lagi bahwa Allah telah menyuruh manusia untuk membaca dan menulis.
Literasi itu sendiri memiliki tujuan dan manfaat ;
Tujuan ;
1.      Menumbuh kembangkan budi pekerti yang baik.
2.      Menumbuh kembangkan budaya literasi di sekolah maupun di masyarakat.
3.      Dapat meningkatkan pengetahuan yang dimiliki dengan cara membaca berbagai informasi yang bermanfaat.
4.      Dapat meningkatkan kepahaman seseorang dalam mengambil inti sari dari bacaan.
5.      Mengisi waktu dengan literasi agar lebih berguna.
6.      Memberikan penilaian kritis pada karya tulis seseorang.
7.      Memperkuat nilai kepribadian dengan membaca dan menulis.
Manfaat ;
1.      Menambah kosa-kata kita.
2.      Mengoptimalkan kerja otak.
3.      Menambah wawasan dan informasi baru.
4.      Meningkatkan kemampuan interpersonal.
5.      Mempertajam diri dalam menangkap makna dari suatu informasi yang sedang dibaca.
6.      Mengembangkan kemampuan verbal.
7.      Melatih kemampuan berfikir dan menganalisa.
8.      Meningkatkan fokus dan konsentrasi seseorang.
9.      Melatih dalam hal menulis dan merangkai kata-kata yang bermakna.
Di samping itu ada beberapa hal yang mempengaruhi tingkat minat baca tulis pada siswa, di antaranya;
1.      Faktor Lingkungan Keluarga
Peranan orang tua sangat dibutuhkan, kita bisa membiasakan anak-anak mengenal buku dan membiasakannya sejak dini. Bisa memulainya dengan membacakan buku yang disukainya dan membacanya berulang-ulang. Biarkan anak memahami isi dari buku yang dibacanya dan bukan hanya sekedar membaca tapi juga mengerti isi dari buku tersebut.
Sarana buku bacaan di lingkungan merupakan salah satu factor pendorong minat baca. Jika sejak kecil anak-anak sudah terbiasa menghadapi buku maka ketika besar mereka tidak akan asing dengan buku-buku. Jadi peran orang tua di sini sangat penting yaitu memberikan contoh-contoh yang baik kepada anaknya, seperti halnya membaca buku.
2.      Faktor Kedekatan Individu
Penting bagi kita untuk memilih buku yang akan dibaca agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita saat ini, tentu saja kita juga harus tahu minat atau ketertarikan kita terhadap suatu bacaan agar buku yang kita beli tidak sia-sia.
3.      Strategi Belajar Yang jitu
Dalam meningkatkan Minat baca kita perlu metode. Pertama kita harus membuat proses membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan seperti halnya bermain. Kedua Proses belajar membaca harus bertahap yaitu sesuai dengan kemampuan dan kemauan. Ketiga proses belajar harus individual yaitu proses belajar yang menjadikan seseorang sebagai subjek belajar, artinya harus memahami betul karakter seseorang agar mudah dalam mendidik membaca.[6]
Literasi yang sebenarnya memilki tujuan dan manfaat yang banyak bagi setiap individu, namun pembudayaan di Indonesia masih pada angka yang rendah. Maka dari itu berikut ada beberapa gerakan yang bisa memompa daya minat pelajar atau siswa dalam dunia literasi (membaca dan menulis);
1.         Gerakan Sekolah Literasi Gratis.
Gerakan ini telah terprogram dan berjalan di kota Ponorogo Jawa Timur. Kegiatan yang dinahkodai oleh salah satu Dosen Bahasa Indonesia di STKIP PONOROGO tersebut mampu melahirkan tidak sedikit pelajar yang menggandrungi dunia literasi. Program tersebut diadakan gratis karena untuk memikat calon peserta agar tidak terlalu memikirkan biaya sehingga dapat menjadikan mereka tidak mau masuk dalam dunia literasi. Dalam kelangsungan program tersebut banyak penulis-penulis yang insipiratif didatangkan, sehingga mampu mensugesti para peserta.[7]
2.      Gerakan perpustakaan keliling.
Dengan adanya perpustakaan keliling ini, para pembaca tidak perlu untuk pergi jauh ke perpustakaan di daerah tersebut. Mereka hanya menyiapkan diri dan menunggu mobil perpustakaan ini datang. Gerakan ini dirasa sanggup meningkatkan daya minat baca pada masyarakat. Sehingga kemajuan negara ini tidak diironikan lagi. Bahkan dapat dijumpai seorang penjual jamu keliling yang di mana dia juga membawa buku-buku bacaan, agar pembeli jamunya juga tetap bisa membaca. Hal inilah yang sangat inspiratif.
3.      Sering mengadakan sayembara-sayembara kepenulisan.
Suatu kompetisi dapat memotivasi seseorang untuk terus tetap menulis. Terlebih jika dia memenangkan kompetisi atau sayembara tersebut seseorang bahkan dapat mengobarkan jiwa semangatnya sehingga literasi semakin membudaya.
4.      Mengadakan fantasi literasi.
Gerakan ini lebih menitikberatkan pada fantasi, yaitu literasi yang menyenangkan, sehingga lambat laun para pelajar dan pemuda akan terbawa oleh arus literasi tersebut dengan senang.
            Literasi mampu berkembang dan menyusut tergantung bagaimana lingkungan yang mendukungnya, jika keluarga merupakan yang sangat berpengaruh akan keadaan anak dalam segala bidang, terutama pendidikan. Lingkungan sekolah juga turut andil dalam mengembangkan minat baca tulis anak. Terlebih peran guru sangat dibutuhkan dalam menunjang perkembangan karakteristik moralitas pada anak melewati literasi. 
Fenomena-fenomena yang kita jumpai pada masyarakat saat ini di Indonesia yaitu rendahnya minat literasi pada masyarakat bukanlah hal sepele. Namun hal tersebut adalah hal yang serius dan harus kita garap guna untuk kemajuan bangsa dan negara ini. Kita harus sanggup membangun animo masyarakat untuk lebih menyukai literasi terutama pada generasi mudanya.
Realita yang harus dirubah. Degadrasi moral yang sering kita jumpai, terkadang memang berasal dari rendahnya minat baca pada mereka sehingga pengetahuan dan pendidikan mereka hanya terbatas. Ekspetasinya yaitu jika cita-cita negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa maka dari titik yang rendah atau titik nol harus dibiasakan suatu hal yang memang menunjang pada kemajuan tersebut, termasuk bagaimana masyarakat menggeluti dunia literasi. Karena moral seseorang mampu terbentuk dari literasi.
Membaca adalah kegiatan menerima, dan menulis adalah kegiatan produksi, demi menuju hasil yang maksimal maka seluruh aspek harus ikut berperan. Jika memang dirasa pendidikan di Indonesia belum mampu mencapai cita-cita mencerdaskan. Seyognya kita terutama sebagai mahasiswa sekaligus pemuda harus mampu berfikir dan memikirkan bagaimana cara mencapai cita-cita tersebut, apakah dengan memperbaiki sistem pendidikan atau bahkan mengurangi pelajaran-pelajarang yang disitu memang tidak terlalu berpengaruh pada kemajuan siswa.
Pemuda adalah generasi bangsa, dan pemuda adalah agen perubahan bangsa. Maju atau mundurnya negara ini tergantung bagaimana kualitas pemudanya. Memahami literasi harus dilakukan pemuda secara intensif guna merubah negara ini menjadi negara maju dan negara yang mempuayai minat baca tulis tinggi.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa melek literasi itu sangat berpegaruh akan moral seseorang dan akan kemajuan suatu negara. Untuk menggapai itu semua maka harus adanya kerjasama antara seluruh aspek masyarakat. Memulainya sejak dini merupakan cara yang sangat efektif untuk memperbaiki kedepannya. Sebelum menuju pada titik focus, yaitu siswa atau anak seharusnya orangtua juga harus melek terdahulu terhadap literasi. Perubahan bukan sebuah mimpi belaka namun sebuah kenyataan yang memang sudah pasti harus diwujudkan secara nyata.
Bacalah maka kau akan mengenal dunia, dan menulislah maka kau akan dikenal oleh dunia



Daftar Pustaka
Al-Qur’an Al-Karim
7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005:898
Indopos (Jawa Pos Group) di Jogjakarta
http://kempelkumpul.blogspot.com/2017/04/10-negara-minat-baca-tertinggi.html
https://gobekasi.pojoksatu.id/2016/05/19/survei-unesco-minat-baca-masyarakat-indonesia-0001-persen/
https://bimba-aiueo.com/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-minat-baca-seseorang/
Studi Kasus












[1]https://gobekasi.pojoksatu.id/2016/05/19/survei-unesco-minat-baca-masyarakat-indonesia-0001-persen/

[2]Indopos (Jawa Pos Group) di Jogjakarta
[3]http://kempelkumpul.blogspot.com/2017/04/10-negara-minat-baca-tertinggi.html
[4]7th Edition Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005:898
[5] Al-Qur’an Al-Karim
[6]https://bimba-aiueo.com/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-minat-baca-seseorang
[7] Studi kasus

Cerpen

Dakwahku Untuk CintaNya Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hi...