REVITALISASI GERAKAN MELEK LITERASI UNTUK
GENERASI BERMORAL
Oleh : Dewy Hideaki
Suatu negara bisa disebut sebagai
negara yang maju dan berkembang jika penduduknya memiliki minat baca yang
tinggi. Hal ini menjadi sorotan utama bagi generasi yang akan mewarisi segenap
raga negara dan bangsa. Dapat dikatakan bahwasanya kemajuan negara ini adalah
berada pada mindset generasi mudanya. Jika suatu negara dengan mayoritas
penduduk melek dengan adanya literasi, maka tidak dapat dipungkiri akan muncul
suatu kecerdasan pada setiap individu. Hal ini sesuai dengan salah satu
cita-cita negara Indonesia, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Dewasa ini, kegiatan literasi masih pada tingkatan yang
rendah, khususnya bagi pelajar maupun pemuda Indonesia. Dapat dilihat dari
presentase tingkat minat baca tulis. Berdasarkan survei
UNESCO minat baca masyarakat Indonesia baru 0,001%. Artinya, dalam seribu
masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.[1]
Kepala Biro Komunikasi Layanan Masyarakat
(BKLM) Kemendikbud Asianto Sinambela menegaskan, minat baca literasi masyarakat
Indonesia masih sangat tertinggal dari negara lain. Dari 61 negara, Indonesia
menempati peringkat 60. Hal tersebut, menurut Asianto menunjukkan kemampuan
baca masyarakat Indonesia masih setara dengan negara Afrika Selatan. Nilai
literasi membaca penduduk Indonesia masih sangat rendah. Nilai riset Program
for Internasional Student Assesment (PISA) rata-rata 493, sementara nilai
literasi Indonesia hanya 396.
Situasi dan kondisi seperti inilah yang
seharusnya menjadi titik focus perbaikan dunia pendidikan di negara ini,
terkhusus untuk literasi itu sendiri yang mampu menyeret dan menumbuhkan
karakteristik moralitas pada diri anak-anak negeri. Jika kita cermati
negara-negara yang telah maju karena minat baca penduduknya tinggi seperti Finlandia,
Nurwegia, Islandia, Denmark, Swedia, Kanada, Australia, Selandia Baru,Kanada, dan
Francis mereka telah menanamkan budaya membaca pada anak sejak balita, sehingga
di saat mereka remaja dan dewasa sudah terbiasa dengan membaca. Itulah PR bagi kita semua
untuk menjadikan generasi muda melek akan literasi.
Kata
literasi mungkin sudah tidak asing di telinga kita, khususnya bagi siswa maupun
pelajar. Kata tersebut bahkan
menjadi kata yang sering terucap. Dahulu kita hanya mengetahui bahwa pengertian
literasi itu hanya sekedar kemampuan membaca dan menulis. Walaupun
definisi (lama) literasi adalah kemampuan membaca dan menulis, namun istilah
literasi jarang dipakai dalam konteks pembelajaran persekolahan di Indonesia.
Hal ini dapat terlihat dari tidak adanya tema literasi dalam Kamus
Besar Bahasa Indonesia. Persekolahan di Indonesia nampaknya lebih senang
menggunakan istilah pengajaran bahasa atau pelajaran bahasa daripada
menggunakan istilah literasi. Pada masa itu, membaca dan menulis mungkin
dianggap cukup sebagai pendidikan dasar bagi manusia guna menghadapi tantangan
zaman dan kerasnya kehidupan.
Literasi
hakikatnya bukan sesuatu yang baru, namun hal tersebut telah termaktub dalam
Al-Qur’an surat Al-Alaq ayat 1 dan 4. Dalam ayat pertama tertuliskan iqro’
yang artinya bacalah, dan pada ayat ke 4 tertuliskan qolam yang artinya
pena (menulis). Jadi tidak diragukan lagi bahwa Allah telah menyuruh manusia untuk membaca dan
menulis.
Literasi
itu sendiri memiliki tujuan dan manfaat ;
Tujuan ;
1. Menumbuh kembangkan budi pekerti yang baik.
2. Menumbuh kembangkan budaya literasi di sekolah maupun di
masyarakat.
3. Dapat meningkatkan pengetahuan yang dimiliki dengan cara membaca
berbagai informasi yang bermanfaat.
4. Dapat meningkatkan kepahaman seseorang dalam mengambil inti sari
dari bacaan.
5. Mengisi waktu dengan literasi agar lebih berguna.
6. Memberikan penilaian kritis pada karya tulis seseorang.
7. Memperkuat nilai kepribadian dengan membaca dan menulis.
Manfaat ;
1. Menambah kosa-kata kita.
2. Mengoptimalkan kerja otak.
3. Menambah wawasan dan informasi baru.
4. Meningkatkan kemampuan interpersonal.
5. Mempertajam diri dalam menangkap makna dari suatu informasi yang
sedang dibaca.
6. Mengembangkan kemampuan verbal.
7. Melatih kemampuan berfikir dan menganalisa.
8. Meningkatkan fokus dan konsentrasi seseorang.
9. Melatih dalam hal menulis dan merangkai kata-kata yang bermakna.
Di samping itu ada beberapa hal yang mempengaruhi tingkat minat
baca tulis pada siswa, di antaranya;
1. Faktor Lingkungan Keluarga
Peranan orang tua sangat dibutuhkan, kita bisa membiasakan
anak-anak mengenal buku dan membiasakannya sejak dini. Bisa memulainya dengan
membacakan buku yang disukainya dan membacanya berulang-ulang. Biarkan anak
memahami isi dari buku yang dibacanya dan bukan hanya sekedar membaca tapi juga
mengerti isi dari buku tersebut.
Sarana buku bacaan di lingkungan merupakan salah satu factor
pendorong minat baca. Jika sejak kecil anak-anak sudah terbiasa menghadapi buku
maka ketika besar mereka tidak akan asing dengan buku-buku. Jadi peran orang
tua di sini sangat penting yaitu memberikan contoh-contoh yang baik kepada
anaknya, seperti halnya membaca buku.
2. Faktor Kedekatan Individu
Penting bagi kita untuk memilih
buku yang akan dibaca agar benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita saat ini,
tentu saja kita juga harus tahu minat atau ketertarikan kita terhadap suatu
bacaan agar buku yang kita beli tidak sia-sia.
3. Strategi Belajar Yang jitu
Dalam
meningkatkan Minat baca kita perlu metode. Pertama kita harus membuat proses
membaca sebagai sesuatu yang menyenangkan seperti halnya bermain. Kedua Proses
belajar membaca harus bertahap yaitu sesuai dengan kemampuan dan kemauan.
Ketiga proses belajar harus individual yaitu proses belajar yang menjadikan
seseorang sebagai subjek belajar, artinya harus memahami betul karakter
seseorang agar mudah dalam mendidik membaca.[6]
Literasi yang sebenarnya memilki tujuan dan manfaat yang banyak
bagi setiap individu, namun pembudayaan di Indonesia masih pada angka yang
rendah. Maka dari itu berikut ada beberapa gerakan yang bisa memompa daya minat
pelajar atau siswa dalam dunia literasi (membaca dan menulis);
1.
Gerakan Sekolah Literasi Gratis.
Gerakan ini telah terprogram dan berjalan di kota Ponorogo Jawa
Timur. Kegiatan yang dinahkodai oleh salah satu Dosen Bahasa Indonesia di STKIP
PONOROGO tersebut mampu melahirkan tidak sedikit pelajar yang menggandrungi
dunia literasi. Program tersebut diadakan gratis karena untuk memikat calon
peserta agar tidak terlalu memikirkan biaya sehingga dapat menjadikan mereka
tidak mau masuk dalam dunia literasi. Dalam kelangsungan program tersebut
banyak penulis-penulis yang insipiratif didatangkan, sehingga mampu mensugesti
para peserta.[7]
2. Gerakan perpustakaan keliling.
Dengan adanya perpustakaan keliling ini, para pembaca tidak
perlu untuk pergi jauh ke perpustakaan di daerah tersebut. Mereka hanya
menyiapkan diri dan menunggu mobil perpustakaan ini datang. Gerakan ini dirasa
sanggup meningkatkan daya minat baca pada masyarakat. Sehingga kemajuan negara
ini tidak diironikan lagi. Bahkan dapat dijumpai seorang penjual jamu keliling
yang di mana dia juga membawa buku-buku bacaan, agar pembeli jamunya juga tetap
bisa membaca. Hal inilah yang sangat inspiratif.
3. Sering mengadakan sayembara-sayembara kepenulisan.
Suatu kompetisi dapat memotivasi seseorang untuk terus tetap
menulis. Terlebih jika dia memenangkan kompetisi atau sayembara tersebut
seseorang bahkan dapat mengobarkan jiwa semangatnya sehingga literasi semakin
membudaya.
4. Mengadakan fantasi literasi.
Gerakan ini lebih menitikberatkan pada fantasi, yaitu literasi
yang menyenangkan, sehingga lambat laun para pelajar dan pemuda akan terbawa
oleh arus literasi tersebut dengan senang.
Literasi mampu
berkembang dan menyusut tergantung bagaimana lingkungan yang mendukungnya, jika
keluarga merupakan yang sangat berpengaruh akan keadaan anak dalam segala
bidang, terutama pendidikan. Lingkungan sekolah juga turut andil dalam
mengembangkan minat baca tulis anak. Terlebih peran guru sangat dibutuhkan
dalam menunjang perkembangan karakteristik moralitas pada anak melewati
literasi.
Fenomena-fenomena yang kita jumpai pada masyarakat saat ini di
Indonesia yaitu rendahnya minat literasi pada masyarakat bukanlah hal sepele.
Namun hal tersebut adalah hal yang serius dan harus kita garap guna untuk
kemajuan bangsa dan negara ini. Kita harus sanggup membangun animo masyarakat
untuk lebih menyukai literasi terutama pada generasi mudanya.
Realita yang harus dirubah. Degadrasi moral yang sering kita
jumpai, terkadang memang berasal dari rendahnya minat baca pada mereka sehingga
pengetahuan dan pendidikan mereka hanya terbatas. Ekspetasinya yaitu jika
cita-cita negara ini adalah mencerdaskan kehidupan bangsa maka dari titik yang
rendah atau titik nol harus dibiasakan suatu hal yang memang menunjang pada
kemajuan tersebut, termasuk bagaimana masyarakat menggeluti dunia literasi. Karena
moral seseorang mampu terbentuk dari literasi.
Membaca adalah kegiatan menerima, dan menulis adalah kegiatan
produksi, demi menuju hasil yang maksimal maka seluruh aspek harus ikut
berperan. Jika memang dirasa pendidikan di Indonesia belum mampu mencapai
cita-cita mencerdaskan. Seyognya kita terutama sebagai mahasiswa sekaligus
pemuda harus mampu berfikir dan memikirkan bagaimana cara mencapai cita-cita
tersebut, apakah dengan memperbaiki sistem pendidikan atau bahkan mengurangi
pelajaran-pelajarang yang disitu memang tidak terlalu berpengaruh pada kemajuan
siswa.
Pemuda adalah generasi bangsa, dan pemuda adalah agen perubahan
bangsa. Maju atau mundurnya negara ini tergantung bagaimana kualitas pemudanya.
Memahami literasi harus dilakukan pemuda secara intensif guna merubah negara
ini menjadi negara maju dan negara yang mempuayai minat baca tulis tinggi.
Dari uraian tersebut dapat disimpulkan, bahwa melek literasi itu
sangat berpegaruh akan moral seseorang dan akan kemajuan suatu negara. Untuk
menggapai itu semua maka harus adanya kerjasama antara seluruh aspek
masyarakat. Memulainya sejak dini merupakan cara yang sangat efektif untuk
memperbaiki kedepannya. Sebelum menuju pada titik focus, yaitu siswa atau anak
seharusnya orangtua juga harus melek terdahulu terhadap literasi. Perubahan
bukan sebuah mimpi belaka namun sebuah kenyataan yang memang sudah pasti harus
diwujudkan secara nyata.
Bacalah maka kau akan mengenal
dunia, dan menulislah maka kau akan dikenal oleh dunia
Daftar Pustaka
Al-Qur’an Al-Karim
7th Edition
Oxford Advanced Learner’s Dictionary, 2005:898
Indopos (Jawa Pos Group) di Jogjakarta
http://kempelkumpul.blogspot.com/2017/04/10-negara-minat-baca-tertinggi.html
https://gobekasi.pojoksatu.id/2016/05/19/survei-unesco-minat-baca-masyarakat-indonesia-0001-persen/
https://bimba-aiueo.com/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-minat-baca-seseorang/
Studi Kasus
[1]https://gobekasi.pojoksatu.id/2016/05/19/survei-unesco-minat-baca-masyarakat-indonesia-0001-persen/
[5]
Al-Qur’an Al-Karim
[6]https://bimba-aiueo.com/faktor-yang-mempengaruhi-pertumbuhan-minat-baca-seseorang
[7]
Studi kasus