Senin, 06 Februari 2017



My Veil My Paradise
Langit nan kelabu menyambut hari baru. Angin pagi berdesir pelan menyambut cerianya kalbu, membawa secuil harapan sendu. Wangi bunga melati menemani salju yang melompat perlahan meniti daun layu. Mentari tampak tersenyum anggun dari ufuk dengan warna manjanya, memberikan sugesti ke seluruh penduduk bumi untuk senantiasa menunduk dan bersyukur atas karunia sang maha Rahman dan Rahim.
Kelabu kini mulai sirna. Langit biru tampak menghias panorama dunia. Pancaran sinar sang fajar menembus setiap sudut di permukaan bumi dan langit. Embun pun kini juga sudah mengering, hingga tak tampak kembali tetesan-tetesan air dari ujung dedaunan.
Jogja, 2014
Sorot bola mata Deandra tajam dan penuh keheranan, seakan ada tanda tanya yang menguasai relung sudut matanya. Penuh pertanyaan.
“Siapa itu?” tanya Dea dalam hati, di kala  sesosok laki-laki berseragam serba orange turun dari motor tuanya. Di pikiran Deandra terus mengingat-ingat, namun ia tak kunjung mengetahui siapa laki-laki bertubuhkan kurus dan berambut cepak itu. Wajah kusamnya yang kini sudah mengeriput akibat paparan sinar matahari dan faktor usia, memberikan jawaban bahwa ia sekitar sudah berkepala lima. Badan kurusnya berselimut seragam orange.
“Siapa ya bapak itu, kok aku baru lihat, terus baru pertama kali juga bapak itu menyambangi alamat sini.” Dea terus bergumam sendiri, berkali-kali berusaha mengingat-ingat dari seragam yang laki-laki itu kenakan. Namun Dea tak mendapatkan hasil juga.
“Seragam apa ya itu?, arggh.. Ya sudah lah, mungkin aku lupa.”
Kaki renta laki-laki itu melangkah, menuju Dea yang kini tengah menyapu halaman rumah.
“Assalamu'alaikum, permisi mbak.”suara parau menyibak rasa penasaran Deandra.
“Wa'alaikumsalam, iya pak ada apa ya?”
sahutnya lembut.
“Apa ini benar alamat Deandra Putri Dwika?”
“Iya pak, dengan saya sendiri. Saya Deandra.”
“Ini mbak Deandra, ada kiriman surat dari Universitas Negeri Yogyakarta untuk mbak.” seraya menyodorkan amlop itu kepada Dea. “Berarti bapak ini tukang pos.” batin Dea dalam hati.
Sontak Deandra terkejut mendapat kiriman surat dari UNY. “Apa ini surat keterangan diterima atau tidaknya ya?” hatinya berkecamuk dengan penasaran. Dengan sigap ia segera membuka amlop coklat yang tertera alamat rumahnya di bagian luar. Pikirannya melayang, beriring dengan tangannya menyobek bagian atas amlop. Kemudian kedua matanya bergerak-gerik membaca setiap kata yang tergores di atas kertas itu.
“Alhamdulillah,” Deandra teriak, seraya mencium tangan pak pos yang sedari tadi mematung di hadapannya, penuh keheranan.
“Terima kasih pak, Dea senang sekali, akhirnayaDea diterima di Universitas Negeri Yogyakarta.” ujarnya penuh kegirangan.
“Sama-sama mbak, selamat ya. Kalau begitu saya pamit dulu.” laki-laki itu segera beranjak dan mengendarai motor yang terparkirkan tak jauh dari rumah Dea. Sekitar 100 meter.
            Suasa kini menjelma surga bagi Dendra. Tulisan yang tertera di atas kertas putih itu mampu mematri keceriaan dan kebahagiaan pada jiwa seorang gadis yang baru hijrah dari dunia putih abu-abu. Bahkan air mata menemani kebahagiaannya.
“Ya Tuhan,, terima kasih, kalau bukan karena keridhoanMu  mungkin hamba tidak bisa menjadi mahasiswa di perguruan tinggi yang Dea impikan sejak dulu.” gumam Dea lirih, sembari mengulang-ulang untuk membaca kertas itu kembali. Ia merasa, ia sedang berada dalam sebuah mimpi. Hingga kini ia belum betul-betul percaya kalau ia diterima di Universitas Negeri Yogyakarta dengan mendapat beasiswa penuh. Prestasi-prestasi yang Dea ukirlah yang mampu menghantarkannya untuk menempuh jenjang pendidikan yang tinggi.
***
Matahari mulai mendaki kaki sang langit. Perlahan-lahan beranjak dari peraduannya hingga kehangatannya mulai terasa oleh makhluk-makhluk bumi. Kicauan-kicauan burung kutilang pun mengirama di langit yang cerah. Sesekali burung-burung itu hinggap di ranting-ranting pepohonan.
“Grggh” suara motor itu memecah kesunyian rumah Deandra di Desa Kadipaten, Kecamatan Kraton, Yogyakarta.
“Pasti itu bapak dan ibu.” Dea bergegas menghampiri orang tuanya yang baru pulang dari pasar Beringharjo untuk berdagang sayuran.
“Pak,,,Bu, Dea keterima di UNY” ucapnya penuh dengan senyuman yang tersimpul dari kedua belah bibirnya. Seraya ia memberikan kertas itu kepada bapak dan ibunya.
“Alhamdulillah nak, akhirnya mimpimu untuk menjadi mahasiswa di sana bisa tercapai. Kamu harus bersungguh-sungguh . Kamu harus sukses. Buatlah bangga bapak dan ibumu nak, yang hanya lulusan Sekolah Dasar ini.” sahut bapak sembari menepuk-nepuk pundak Deandra. Ibu hanya tersenyum bahagia melihat putrinya diterima sebagai mahasiswa di Universitas yang ia inginkan.
***
Agustus, 2014
Waktu terus berganti. Detik bertemu menit, menit bertemu jam, jam bertemu hari, dan hari bertemu minggu. Kekuatan niat dan keteguhan jiwa senantiasa mengiringi langkah kaki untuk menggapai mimpi. Deandra, Seorang gadis desa yang 2 bulan lalu baru tamat dari PP. Raudlatul Jannah, Yogyakarta. Kini ia mampu menginjakkan kakinya untuk menimba ilmu di salah satu perguruan tinggi negeri di Jogja.
Hari ini, tepatnya hari Senin, 14 Agustus 2014. Deandra menjalani masa OSPEK bersama teman-teman mahasiswa baru lainnya. Acara Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus UNY 2014, berjalan dengan sangat meriah. Acara itu juga dihadiri rektorat dan fakultas termasuk bapak Rektor UNY Prof. Dr Rochmat Wahab bersama lebih dari 5000 maba UNY 2014.
“Baru pertama kali aku mengikuti acara semeriah ini,” Deandra membisiki salah satu temannya, yang tadi ia sempat berkenalan sebelum acara dimulai. Namanya Yuris. Mereka duduk berdampingan.
“Kalau aku mah sudah sering De. Tapi kamu beruntung. Kamu bisa kuliah disini dengan beasiswa prestasimu, aku salut sama kamu Deandra.” lanjut Yuris.
Hari demi hari Deandra lalui dengan kobaran api semangat yang membara. “Aku harus membuat bapak dan ibu bangga. Aku nggak boleh mengecewakan mereka yang telah menaruh harapan besar pada diriku.” kata-kata itu terpatri dalam hati Dea untuk terus semangat . Dalam pikirannya selalu terngiang wajah ibu, bapak, dan adiknya. Merekalah sumber semangat Dea untuk menggapai semua mimpi-mimpinya. 
Masa OSPEK telah berakhir, dan kini perkuliahan sudah dimulai. Terkadang Deandra merasa seakan menjadi seorang mahasiswi yang masih memegang erat tittle santrinya dianggap jadul dan tabu. Terkadang pula celotehan-celotehan mahasiswi lain yang menganggap bahwa Deandra ialah mahasiswi yang ketinggalan zaman dan aneh, karena ia menggunakan jilbab yang berbeda dengan mahasiswi lainnya, yang mengenakan jilbab modern yang kerap kali disebut jilboob .
“Deandra, apa nggak panas tuh kerudung, yang selebar selimut gue di rumah.” salah seorang mahasiswi melontarkan kalimat-kalimat ejekan kepada Dea. Deandra diam dan menunduk. Selang beberapa detik ia mendongakkan kepalanya, dan menjawab pertanyaan salah seorang temannya.
“Nggak panas kok, kalau aku lebih baik panasnya di dunia, daripada panasnya di akhirat.”
“Ih,,,kagak usah sok-sok ceramah di depan gue dah.” sontak gadis itu angkat kaki dengan wajah kesalnya kepada Deandra. “ Sabar De.” Ucap Yuris merangkul bahu Dea.
***
Bumi terus berputar pada porosnya. Tak sekalipun berpikir untuk berhenti, hal itulah yang mengakibatkan adanya siang dan malam, adanya terang dan gelap. Senja di sore itu tampak sendu. Warna jingganya kian meredup, pertanda sang ratu malam akan segera hadir untuk memberikan cahayanya dalam kegulitaan. Suara adzan pun telah berkumandang, terdengar dari corong-corong yang terpasang di atas menara masjid dan mushola. Suara itu menggema dalam setiap gendang telinga insan. Menyeru untuk segera menghadap sang khaliq.
Malam itu langit begitu kelam. Namun tampak indah kala bintang berkedip-kedip menghias langit. Suasana malam hari begitu sunyi. Hanya suara bapak, ibu, dan Fernan, adik Deandra yang memberi melodi dalam kesunyian itu.
“Nak.” suara parau bapak merobek kesenyapan. “Iya pak.” sahutnya, seraya memandangi wajah bapak yang kini sudah penuh dengan garis-garis penuaan.
“Masih sibuk ya nak?”
“Nggak pak, ini baru rampung menyelesaikan tugas kuliah. Ada apa pak?”
“Nak, bapak bangga akan prestasimu. Namun bapak lebih bangga kalau kamu tetap menjaga auratmu. Jangan lupakan ilmu-ilmu yang telah kau dapat di pondok pesantren dulu selama 6 tahun”
“Iya pak, Deandra akan terus menjaga aurat. Deandra juga akan terus mengamalkan ilmu-ilmu yang saya dapat dari pesantren dulu.” sahutnya.
”Ya sudah nak, istirahat aja dulu.” ucap bapak menutup percakapan malam itu.
***
Jogja, 2015
Udara dingin menyergap sampai menusuk tulang, meninggalkan bintil-bintil di tangan. Embun nan tebal masih menyelimuti pagi itu. Menyisihkan rasa malas dalam diri Deandra.
“Ibu,,,Bapak,,Fernan. Aku nggak boleh malas.” Tiba-tiba terlintas nama itu, hingga membuat Dea tak ingin bermalas-malasan.
Sudah 1 tahun Dea duduk di bangku perkuliahan. satu bulan lagi ia sudah memasuki semester 3. Suasana kelas hari itu cukup riuh. Tiba-tiba Niken, mahasiswi yang sering mengejek Dea akan jilbabnya menghampiri Dea yang sedang duduk dengan buku terbuka di hadapannya. “Srrrr”' jilbab Dea ditarik paksa oleh Niken. Sontak Dea kaget dan seluruh penduduk kelas itu terperangah. “Astagfirulloh”
“Niken, mana jilbabku?” Dea menutup rambutnya dengan buku-buku di hadapannya. 
“Niken mana jilbabku?”matanya mulai berkaca-kaca. Ia memohon pada Niken untuk mengembalikan jilbabnya. Niken hanya membalasnya dengan tertawa ria.
“Niken, aku mohon kembalikan jilbabku,!” Dea terus memohon. Akhirnya Niken mengembalikannya dengan raut wajah yang puas.
“Dea, gue itu nggak suka ya sama orang yang sok-sok alim kaya lo,” bergegas beranjak dari kelas.
***
            “Tumben hari ini sepi ya suasananya.” Dea memulai percakapan.
“Iya De. Si Niken lagi sakit katanya. Kan selama ini di biang keroknya.”
Innalillah,, dia sakit apa Ris?” tanyanya penasaran dan panik.
“Aku dapat kabar dari Mira, kalau dia sekarang diupname. Dia sakit gagal ginjal.”
“Apa?, nanti aku mau menjenguknya,”
“Buat apa kamu menjenguknya. Dia aja sudah terlalu jahat ke kamu De?,”
“Dia tetap temenku, dan dia tetap saudaraku. Kita itu harus membalas kejahatan dengan kebaikan Ris.” Yuris hanya mengangguk-ngangguk.
***
Gedung berwarna putih itu penuh dengan bau amis dan anyir, di sela-sela itu juga ada aroma obat-obatanmenjadi aroma khas di gedung tersebut.
“Dea,” ucap Niken yang kini terbaring lemah. Tiba-tiba ia memeluk Dea dengan erat. “Dea, maafin aku, maafin aku. Aku sudah terlalu banyak berbuat jahat kepadamu.”
“Iya Niken, aku sudah memaafkan kamu, sudahlah, lupakan saja!” sahut Dea, kemudian melepas pelukan Niken.
“Bagaimana kondisimu Niken?”
“Niken terkena gagal ginjal nak, sampai sekarang belum ada donor yang cocok. Ya seperti inilah kondisi Niken, kata dokter ia harus segera operasi, namun kami juga bingung kalau belum ada donor yang cocok. Kondisi Niken semakin hari semakin menurun, karena penyakitnya sudah parah.” ayah Niken menyahut pertanyaan Dea pada Niken. Tampak wajah ayah Niken di rundung kesedihan.
“Semoga Niken segera dapat donor yang cocok ya pak, Dea hanya bisa berdo'a buat Niken.”
Beberapa menit kemudian, “kalau begitu Dea pamit dulu ya pak, bu.”
“Dea pamit dulu ya Niken, semoga kamu cepat sembuh.” mereka kembali berpelukan lagi.
***
Angin malam menyelimuti keheningan. Waktu terus berputar. Serasa begitu cepat malam bertemu malam kembali. Seperti biasa setiap malam keluarga kecil itu menonton TV bersama. “Pak, bu, Fernan. Dea minta maaf ya kalau Dea punya banyak salah pada kalian.” Ucapan Dea sontak membuat ibu, bapak, dan adiknya bingung,  tak ada badai tak ada hujan tiba-tiba Dea meminta maaf.
“Iya nak, kami maafkan, ibu juga minta maaf kalau ibu punya salah.” sahut ibu, disusul dengan bapak dan Fernan dengan sahutan yang sama.
“Ow iya, Dea ke kamar dulu ya.” ia bergegas menuju kamar. Segera ia membuka handphonnya dan ingin segera ngobrol lewat sms bersama teman-temannya. Dengan lincah jari jemarinya menari di atas keypad HP untuk menulis pesan.
1 Pesan Terkirim
Malam, semua. Sepi nih, smsan yuk.
Dea mengirim pesan-pesan yang sama kepada teman-temannya. Beberapa detik kemudian, ''drrrriing''
1 pesan Diterima
Mlm jga De, tumben kmu ngajak smsan. Lagi nggak sibuk nih?
Balasan pertama ia terima dari Yuris, teman yang paling dekat dengannya
1 pesan Diterima
Mlm,,,aku jg ksepian nih De.
Firda juga membalas pesan dari Dea. Kembali ia mengetik balasan.
1 Pesan Terkirim
Mumpung masih bisa sms.n sama kmu. Tkutnya bsok nyesel kalau udh ngga bs sms.n lgi
1 pesan terkirim
Sepi banget ya, temeni ya. Takutnya bsok nyesel ngga bs sms.n lgi.
Teman-teman Dea juga merasa aneh terhadap sikap Dea. Tapi, entahlah mereka berusaha menganggapnya adalah hal yang biasa. Malam itu Dea terus saling berbalas pesan dengan temannya. Akhirnya mereka berhenti, dan memutuskan untuk berhenti tatkala malam mulai larut.
     Dug...dug...dug
Tabuh berbunyi gemparkan alam sunyi, berkumandang suara adzan. Suara itu mendayu memecah sunyi dan bersahutan dengan suara kokokan ayam. Dea dan keluarga segera meuju masjid. Mereka berduyun-duyun memenuhi panggilan ilahi, berselimut dengan dinginnya udara pagi. “Dingin,,,” batinnya.
“Nak kamu nanti ke kampus?” bapak bertanya saat di perjalanan menuju masjid.
“Iya pak, hari ini ada ujian,” sahut Dea terbata-bata karena dingin yang mengguncang.
***
Mentari mulai menebarkan senyuman pada bumi. “Aku hari ini berangkat pagi, kan ada ujian.” gumam Dea, sembari mempersiapkan diri untuk pergi ke kampus. Tak lama kemudian ia berpamitan kepada orang tuanya.
“Pak, bu, Dea berangkat dulu. Assalamu'alaikum”. Dea menstarter motor maticnya, melaju dan menjauhi rumahnya.
Tiba-tiba “braaaaakkkkk”. Teriak histeris mengiringi suara itu. Dea kecelakaan, ia tabrakan dengan sebuah truk yang mengangkut pasir. “Kok gelap ya,” Batinnya diiringi dengan rintihan-intihan yang keluar dari bibirnya.”Ya Alloh, ya Robbi,”
Sontak, suara keras itu menggegerkan masyarakat sekitar kejadian. Lumuran darah berceceran dan menggenangi aaspal hitam di sekitar Dea terjatuh. Ia terpental jauh dari motornya, dan kini motor yang ia kendarai untuk pergi ke kampus telah hancur tak berbentuk lagi.
“Nak,,,nak.” tak lama kemudian Salim, bapak dan ibunya Dea datang dengan wajah panik dan shok.
“Dea bangun nak, bangun.” bapak memegang kepala Dea, wajahnya penuh dengan lumuran darah. Jilbabnya pun entah ke mana, rambut hitamnya terherai berantakan, bercampur dengan debu.
“Bapak” ucap Dea lirih, kemudian ia memegang bagian kepalanya, ia merasa aneh.
“Alhamdulillah kamu bangun Dea,” air mata bapak menetes, membasahi kedua pipi keriputnya. Ibu pun tak kuasa melihat anaknya tergulai lemas dengan darah yang melumuri wajahnya, akhirnya ia pun pinsan.
“Pak, mana jilbabku?” tanya Dea cemas. Ia melihat banyak orang yang mengerumuninya.
“Bapak akan bawa kamu ke rumah sakit nak,”
“Pak, mana jilbabku?” Dea terus bertanya tentang jilbab yang kini tak ia kenakan. Bapak hanya terdiam lemas.
“Bapak, mana jilbabku?” ketiga kalinya Dea bertanya pada bapaknya.
“Sudahlah nak, nggak usah nyari jilbabnya, ini kan lagi darurat.”
“Pak, Dea mohon, tolong carikan sehelai kain saja, untuk menutupi rambutku.!” Dea tak memikirkan keadaanya yang kini sudah tak berdaya lagi, dengan suara lemah ia sangat memohon kepada bapaknya.
“Pak ini saja, buat anak bapak.” seorang gadis memberikan selendangnya pada Salim.
“Bapak, jilbabku itu surgaku. Dea nggak mau surga Dea hilang. Pak, Dea minta maaf, maaf jika Dea belum bisa membuat bapak dan ibu bangga. Dea ingin nanti bapak mendonorkan ginjal Dea pada Niken, temanku. Sekali lagi Dea minta maaf pak.
Laa ila haillalloh wasyahadu anna muhammadurrosululloh.”


























                                   

    
























Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cerpen

Dakwahku Untuk CintaNya Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hi...