Dakwahku Untuk CintaNya
Perlahan mataku menatap sepasang bola mata wanita parubaya di
hadapanku. Ada raut kesedihan yang menyeruak hingga tak sanggup tanganku hanya
mematung mengikuti tubuh. Tidak ada binar
di matanya, yang ketemui hanya segurat kesedihan dan buliran air mata yang
sebentar lagi akan menetes membasahi kelopak mata wanita itu. Iya, dia adalah
ibuku.
“Faiz, emak bangga sama kamu nak. Emak bangga bisa lihat kamu
seperti ini. Namun entah kenapa hati emak berat untuk melepasmu mengikuti alur
perjalanan hidupmu.” Suara parau emak memecah keheningan.
“Mak, sejujurnya Faiz hanya ingin membuat emak, bapak dan adik
bahagia, karena itu tujuan Faiz saat ini. Meskipun inilah jalan Tuhan yang Faiz
rasa bisa membuat emak sedih.” Sahutku sembari memeluk tubuh emak yang kini
sudah renta.
Kepergian adalah suatu hal yang kadang membuat hati terluka. Kini
sebuah kepergian adalah keniscayaan yang memang harus aku hadapi. Meninggalkan
keluarga yang sudah 23 tahun membersamaiku melewati pintasan-pintasan jalan
yang penuh dengan lika liku. Tinggal di daerah yang merupakan pusat keramaian
membuatku mampu belajar mengenal arti sosialita. Kota Malang, menjadi saksi
bagaimana perjalananku meniti setiap langkah kehidupan. Hidup sebagai keluarga
yang ekonominya di bawah rata-rata membuatku mampu belajar arti sebuah rupiah.
Aku teringat perjuangan bapak untuk mencari nafkah keluarga, bahkan
untuk membiayaiku sekolah. Beliau rela menjadi kuli bangunan yang kesehariannya
bergelut dengan panasnya matahari, bergelut dengan beratnya bebatuan, dan panasnya
gamping. Saat itu aku belum faham bagaimana rasanya perjuangan menghidupi
keluarga, terkhusus membiayaiku sekolah hingga kini aku lulus S2 Management
Pendidikan. Terlebih bapak mempunyai prinsip bahwa anak pertama harus sukses
agar adik-adiknya mampu mengikuti jejak kakanya. Hal itulah yang membuatku
bangkit untuk mampu menjadi orang sukses dan membiayai adik-adikku hingga
sukses melebihiku.
****
Malang, Agustus 2006
Matahari bersinar
lebih cerah di banding hari kemarin, angin berhembus pelan namun mampu menyejukkan
setiap raga, tampak dedaunan melambai-lambai pada tangakainya. Hatiku kini
menelisik makna yang selama ini aku selalu pertanyakan.
“Tuhankan durhakakah aku meninggalkan orang tua yang telah
menyayangi dan membesarkanku. Akankah dakwah yang kulalui ini berujung pada
titik kedurhakaan?” Batinku bertanya.
Bismillah dengan
menyebut nama Allah yang penuh dengan jawaban-jawaban hati ini, kuputuskan
untuk menerima panggilan mengajar di salah satu sekolah di Padang. Aku tau
perjalanan dakwah ini tidak selalu mudah, aku tau Padang merupakan penduduk
mayoritas Kristen. Namun aku yakin dengan Allah atas jalan ini.
Waktu terasa
bergulir cepat, kemarin aku belum bisa mendapat izin dari keluarga untuk pergi
ke Padang, terlebih ibu yang selalu menghalangiku untuk pergi jauh dari
keluarga. Namun aku adalah anak pertama yang memang harus mampu menjadi tulang
punggung keluarga, mengetahui bapak kini sudah renta bahkan aku tau selama ini
beliau menahan penyakit yang menyerangnya, paru-paru.
Suasana pagi yang
terasa berbeda dengan suasana-suasana pagi yang selalu kulewati bersama
keluarga di gubuk sederhana, berdiri di atas tanah berukuran 11X11 M. di
sanalah bapak dan emak membangunnya untuk keluarga kecil kami.
“ Bapak, Emak maafkan Faiz jika hari ini Faiz membuat kalian
meneteskan air mata. Faiz sayang pada kalian.” Kupeluk erat tubuh mereka,
inilah hal hal aku takutkan. Ketika aku akan berpisah dengan mereka.
“Hildan, mas nitip bapak sama ibuk di sini. Hildan juga harus jaga
Safa, kan sekarang Hildan jadi anak paling besar di rumah. Mas janji akan
biayai kamu dan Shafa sekolah, kamu harus belajar yang rajin biar jadi orang
sukses.” Ucapku pada adik laki-laki yang kini sudah menginjak bangku SMA,
sembari kurangkul dia.
“Buat adik mas yang paling cantik, gak boleh suka nangis ya…Shafa
harus rajin sekolah, belajar dan ngajinya. Kan kemarin Shafa bilang sama mas
kalau pengen jadi dokter yang hafidzoh, jadi Shafa harus semangat terus.”
Kupeluk erat Shafa, yang selama ini selalu membuatku bahagia walau lelah.
“Mas Faiz kapan pulangnya?” Tanya Shafa padaku.
“ Tenang aja dek, mas nanti bakalan pulang kok kalau sudah selesai
urusannya.” Sahutku pelan sembari tersenyum manis padanya.
“Ya udah. Faiz berangkat
dulu. Faiz akan selalu merindukan kalian, nanti Faiz juga bakalan sering-sering
telfon kok.”
“Iya nak, doa emak dan bapak akan selalu menyertaimu dan
kesuksesanmu.”
****
Padang, 2006
Dakwah ini, kumulai dari Malang dan kini Padang adalah central
dakwahku. Menghadapi masyarakat yang berbeda agama adalah PR terbesarku,
bagaimana dakwah ini bisa berjalan dengan menggandeng masyarakat untuk bersama
dalam satu barisan, yaitu islam. Mengajar di salah satu sekolah islam di antara
agama-agama non islam adalah hal yang mulia menurutku. Perjuangan ini memang
melelahkan namun jika dijalani dengan rasa cinta maka CintaNyalah yang akan didapat.
Berdiam dan berdakwah di daerah orang adalah pilihanku untuk
mendapat RidhoNya. Meninggalkan keluarga, bahkan meninggalkan masa-masa bisa
berkumpul dengan teman. Namun aku, Muhammad Faiz Syahida bukanlah pemuda yang
hanya bisa diam melihat agama dan negaranya semakin dikikis oleh orang-orang
yang ingin menguasainya.
Suatu hari, hal yang sangat mengejutkan bagiku, seorang anak kecil
laki-laki bertanya padaku.
“Abang, kenapa lebih memilih tinggal di sini. Tempat yang mungkin
tak seindah di rumah abang?” Tanya anak itu padaku, Khafa namanya.
“Alasannya, abang ingin kita bareng-bareng nanti ke surga.” Jawabku
singkat pada anak kecil itu.
“Tapi kan kita-kita banyak yang masih gak sholat gak mau ngaji,
terus mau ke surganya gimana.?”
“Abang yakin seiring berjalannya waktu Allah akan memberikan
hidayah pada mereka, dengan kita selalu mendoakannya. Selain itu abang ingin
anak-anak di sini pada pintar biar tidak mudah untuk dipintari, seperti itu
Khafa” Lanjutku.
“Ooo…iya bang.” Jawabnya dengan ekspresi mulut yang berbentuk huruf
O.
****
Hari terus
bergulir dan bertemu dengan bulan. Bulanpun terus bergulir hingga bertemu
dengan tahun.tak terasa 5 tahun perjuangan dan dakwah ini di Padang kujalani.
“ Faiz, kamu adalah orang hebat yang pernah bapak jumpai. Setelah
beberapa kali bapak gagal mencari pengajar di sekolah ini, dan bapak akhirnya
menemukan orang yang tepat, yaitu kamu. Bapak salut dengan semangat dakwahmu.
Makasih nak atas perjuanganmu di sini. Sebenarnya bapak berat untuk
melepaskanmu dari sekolah sini, namun bapak juga tidak ingin menghalangi
kerinduanmu pada keluarga yang telah melahirkanmu menjadi orang hebat seperti
ini. Terlebih yang sangat bapak banggakan adalah murid-murid kamu kini bisa
menggantikan posisi kamu atas segala didikan dan ilmu yang kau beri pada
mereka.” Tutur kepala sekolah tempatku mengajar.
Pagi itu adalah terakhir aku berada di Padang setelah 5 tahun aku
tidak kunjung ke Malang.
“ Emak, Bapak, Hildan, Shafa, mas kangen sama kalian semua.”
Batinku, senang akan kembaliku ke Malang.
Aku tidak pernah meminta Allah untuk membuatku menjadi orang yang
dikagumi, namun aku selalu meminta padanya menjadi orang yang bermanfaat bagi
orang lain dan orang selalu dicintaiNya. Dengan itu CintaNya adalah tujuan
utama dakwah ini.

Masyaalloh luar biasa ,kerennnn
BalasHapusKereeeeeeeen
BalasHapusMasya Allah stiq al- Multazam Ter the best lah,😍
BalasHapusKereen
BalasHapusMasyaallah.. kece badai ..hey mba ana juga mahasiswa STIQ lho salam kenal rhoma raichan
BalasHapusMasyaallah, susmkses selalu deh buat STIQ
BalasHapusTop markotop dah pokonya di STIQ Almultazam ini
BalasHapus