3 To 30
Dewy Hideaki
Allah (pemberi) cahaya (kepada)
langit dan bumi. Perumpamaan cahayaNya seperti lubang yang tidak tembus yang di
dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca, (dan) tabung kaca
itu bagaikan bintang yang berkilauan, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon
yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula
di barat, yang minyaknya(saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak di
sentuh api cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah memberi petunjuk
kepada cahayaNya bagi orang yang Dia kehendaki, dan Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. An-Nuur 35).
“MaasyaAllah.” Batinku, tak terhenti
hati dan lisanku menyebut AsmaNya. Bibirku seketika bergetar hebat, membaca
ayat atas perumpamaan cahaya yang Allah berikan.
“Cahaya di atas cahaya, apakah diri
yang hina ini mampu menjadi cahaya yang dimaksud pada ayat itu?.” Hatiku masih
bergeming mentadabburi ayat mengenai cahaya di atas cahaya. Tak terasa ada tetesan
air hangat yang keluar dari sudut bola mataku hingga air itu menganak sungai
dan membasahi kedua pipiku.
03.45 WIB
Kulanjutkan sholat tahajudku dengan
sholat hajat dan kututup dengan sholat witir 3 rakaat. Waktuku berlanjut dengan
memurojaah hafalan termasuk surat An-Nuur.
***
Gemercik air
memberi irama di pagi nan sunyi, berhias langit kelabu tertutup dengan tebalnya
kabut putih. Harum dari kuncup mawar yang mekar, memberi aroma roda kehidupan.
Tetesan air embun membasahi celah-celah rerumputan, semilir angin menghempas
lembut dedaunan. Hijau pepohonanpun diselimuti kabut nan putih. Tapi, fajar belum berani menebarkan
senyuman di bumi. Hanya sesekali kicauan burung bersahutan, pertanda sijantan
dan sibetina bercengkrama dilangit yang masih kelam.
Hari-hari yang kulewati di pesantren
ini tak jauh-jauh dari Al-Qur’an. Memang Allah telah memberiku pintu untuk
memasuki sebuah gedung yang di dalamnya hanya mereka, keluarga Allah. Di
sinilah statusku berubah, menjadi mahasiswi sekaligus santri tahfidz. Pantas
saja jika hanya Al-Qur’an yang selalu menemani, karena dialah yang selalu ada
dan selalu mengiringi. Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, sebuah prodi yang kupilih
untuk memperdalam ilmu Al-Qur’anku selama di kampus dan pesantrenku.
Pagi itu tak
seperti biasa seluruh mahasiswa dikumpulkan oleh Ka. Prodi, di mana mahasiswa
ikhwan dan akhwat berada pada satu aula, dengan ikhwan berada di depan dan
dilanjut dengan akhwat yang berada di belakang.
“ASMA’ AZ-ZAHRA,” ucap ustadz Ilham
berlanjut dengan ekspresi seluruh mahasiswa terkejut dengan mata yang penuh
pertanyaan menatapku.
“Ada apa ini?.” Tanyaku batin. Hatiku
gusar, fikiranku beradu dengan ritme nafasku yang sedikit tersengal-sengal.
“Silakan berdiri Asma’, setelah rapat
para dosen dua hari yang lalu memutuskan bahwa kamu akan mewakili kampus kita
untuk mengikuti Seminar untuk mahasiswa Internasional di Jerman minggu depan.
Karena kamulah yang mempunyai kelihaian dalam berbahasa yang kami fikir kamu
dapat dengan mudah berinteraksi dengan mahasiswa-mahasiswa lain dari berbagai
belahan dunia.” Sontak seluruh mahasiswa takbir, hatiku bergetar, mataku
terbelalak antara percaya atau tidak dengan kabar ini. Karena inilah pertama
kalinya aku akan menginjakkan kaki di luar negeri.
“MaasyaAllah Asma’, selamat ya, akhirnya
pilihan itu jatuh pada kamu, nisa mah ikut bahagia dengarnya. Semoga aja Nisa
bakalan bisa ngikutin jejak kamu.” Ucap temanku, Nisa. Sembari tangannya
merangkul pundakku.
***
Hari bertemu bulan dan bulanpun
bertemu tahun. 1tahun yang telah kulewati memberikan berjuta pelajaran dan ilmu
bagiku untuk menjalani hidup ini. Bahkan aku rela berjauhan dengan kedua orang
tuaku demi kebahagiaan mereka kelak, ayah ibuku berada di Kalimantan dan aku
sekarang berada di tanah jawa. Suasana pesantren sudah melekat pada diriku,
pantas saja sudah satu tahun kulewati semuanya di pesantren.
Tahun ke dua, Tuhan memberikan sebuah
kesempatan untukku untuk pergi ke Jerman sebagai perwakilan dari kampus
mengikuti seminar mahasiswa internasional. Bu Nadia, dialah seorang dosen
pengampu mata kuliah tafsir yang kini menemaniku untuk terbang ke Jerman.
“Asma’ sudah siapkan buat berangkat
kan?,” tanyanya padaku pada saat kami berada di bandara Soekarno Hatta.
“In Shaa Allah bu, semoga kita selalu
dalam lindunganNya.” Sahutku lembut
20 menit lagi pesawat akan take
off menuju ke Jerman, segera kami melakukan checking dan segera
mempersiapkan diri.
Jakarta, September 2017
09.00 WIB, pesawat kami sudah take
off. Rasa haru itu muncul kembali mengiringi perjalannan ini.
“Bu, jujur ini pertama kalinya Asma’
naik pesawat.” Ujarku terkekeh, bu Nadia membalasnya dengan sesimpul senyuman.
“Bersyukurlah kamu Asma’, Allah masih
memberi kesempatan ini”, lanjut beliau lirih dengan jari yang masih lihai
menari di atas layar gadgetnya. Ada hal yang membuatku terkejut kembali, tanpa
sengaja kulirik layar gadget beliau, tampak di sana foto-foto anak kecil.
Kuberanikan untuk bertanya.
“ Itu foto anak bu Nadia?.” Tanyaku
penasaran.
“Hmmm....iya tapi mungkin cerita tak
seindah yang kau bayangkan.” Sahutnya, seketika aku terdiam membisu, bibirku
terasa kaku untuk melanjutkan bertanya.
“Dia namanya Naufal, anak pertama
ibu. Namun sekarang ibu nggak bisa lagi bertemu dengannya. Pada umur 3 tahun
dia terkena kanker saraf dan akhirnya dia meninggal dunia. Tapi ibu bersyukur
masih ada Rafa dan Aisyah yang saat ini menjadi semangat ibu.” Jelas Bu Nadia,
sembari menunjukkan foto-foto anaknya padaku. Ada Naufal, Rafa, dan Aisyah yang
masih kecil. Tanpa kusadari mata Bu Nadia berkaca-kaca, di situ aku merasa
bersalah pada beliau.
“Maaf ya bu, bukan maksud Asma’
membuat ibu menangis seperti ini.”
“Nggak Asma’, itulah takdir Allah.
Tapi jujur ibu bangga sama kamu, bagaimana perjuanganmu untuk bisa masuk di
pesantren sekaligus kampus, ibu tau kisah kamu, dan bagaimana perasaanmu ketika
kamu harus berpisah jarak dengan keluargamu. Ibu bangga nak, ow iya Asma’
sebentar lagi selesai 30 juz ya?”
“Doanya aja bu, semoga diperlancar
sama Allah,” kulanjutkan dengan ukiran senyuman.
“Aamiin, itu Rafa anak ke dua ibu
juga hampir sama denganmu, dia 1 juz lagi selesai. Dia sekitar 2 tahun di atas
kamu.”
“MasyaAllah.” Batinku.
Perjalananku dan Bu Nadia menuju
Jerman penuh dengan perbincangan di pesawat. Bahkan terkadang beliau melemparku
beberapa ayat untuk dilanjutkan. Maklum, beliau adalah seorang hafidzoh lulusan
S1 dan S2 di Timur Tengah.
***
Jerman memberiku sebuah kisah baru.
Di mana aku bisa bertemu dengan saudara-saudaraku dari berbagai belahan bumi.
Memang, tak semuanya peserta seminar beragama islam, namun di situlah aku bisa
belajar toleransi. Tiga hari aku dan Bu Nadia di Jerman, itulah pengalaman yang
tak akan pernah aku lupakan seumur hidup.
20 September 2017
Suasana pesantren kembali padaku.
“Alhamdulillah,” Batinku. Alhamdulillah kaki ini masih mampu berpijak di tanah
ini, pesantren yang tepat berada di kaki gunung Ciremai, Jawa Barat. Ada
suasana tersendiri yang belum pernah saya rasakan di tanah Kalimantan, suasana
sejuk yang khas sehingga membuatku merasa nyaman dan selalu rindu dengan
pesantren ini. Lebih tepatnya aku adalah seorang mahasiswi rantau dari
Kalimantan yang berjuang menuntut ilmu di tanah Jawa. Akhirnya Allah melindungi
perjalananku dari sini ke Jerman dan kembali lagi ke sisni.
19.45 WIB
Bintang bertaburan di kelamnya malam,
tampak sang ratu malam juga hadir menghias suasana.
Maha suci Allah yang menjadikan di
langit gugusan bintang-bintang dan Dia juga menjadikan padanya matahari dan
bulan yang bersinar (Al-Furqon 61)
Kepalaku tertunduk, memanglah Allah
pemilik kerajaan bumi dan langit serta seisinya, dengan memberikan
hiasan-hiasan di langit itulah wujud begitu besar kekuasaaNya. Tak terhenti
bibirku bergumam menyebut dzat Yang Maha Agung.
“Allah.....Allah.....Allah.”
Kusandarkan badanku pada tembok depan masjid di pesantren. Ada ribuan santri
berlalu lalang di sekitar masjid, ada pula sebagian mahasiswi yang tampak
sedang asyik memurojaah hafalannya, ada juga beberapa dari mereka yang khusyu’
tilawah. Tiba-tiba, kakiku lemas dan kepalaku terasa pusing.
“Ya Allah kenapa ini?” Batinku lirih.
Berusaha kunetralkan sakit ini denagn sedikit gerakan-gerakan kecil.
Kulanjutkan murojaahku ayat demi ayat dan akhirnyaa genap satu juz telah
kulewati, juz 7 menjadi pilihanku untuk mendapat giliran pengulangan waktu itu.
Sesekali kulirik kanan kiri, masih tampak teman-teman sedang mengulang-ulang
hafalannya pada titik yang berbeda.
Al-Qur’an surat Yaasin:28
kupersiapkan juga untuk setoran ziyadah besok, kuulang dan terus kuulang
sehingga aku bisa hafal ayat demi ayat tanpa ada kesalahan. Kepalaku semakin
pusing, mataku terasa semakin buram, dan nafasku seketika tak beraturan. Terus
saja kupaksakan untuk menyatukan kepingan-kepingan ayat hingga sampai pada
surat As-Saff ayat 51.
Braaakkk.......
“Asma’ bangun, kamu kenapa?” teriak
beberapa teman menghampiriku yang terkapar di atas sajadah dengan mushaf masih
berada pada genggamanku. Dadaku sesak hanya teriakan sama-samar yang masih
tertangkap oleh pusat pendengaranku.
“Asma’.....Asma’ bangun!”
***
Gedung putih nan tinggi, bau anyir
dan obat-obatan beradu di sana. Tampak manusia-manusia berlalu lalang dengan
raut muka yang muram, tampak ada kesedihan di sana. Suara gesekan roda yang
melintasi kerasnya lantai ikut memberikan kesan pada gedung putih itu.
Mataku berat sekali dibuka. “Aku di
mana?” tanyaku lemah. Retinaku hanya dapat menangkap samar orang-orang di
sekelilingku. Bu Nadia, Nisa, Sarah, Bu Maryam, Bu Nyai dan ada satu pemuda di
sana yang berada di kursi, entahlah siapa dia.
“Bu Nadia, Asma’ ada di mana?”,
“Asma’, kamu berada di rumah sakit,
semalam kamu pingsan dan baru sekarang kamu sadar nak.” Jelas beliau
“Nisa,” Panggilku
“Iya Asma’, ada apa?, mana yang
sakit?” sahutnya sedikit khawatir dengan kondisiku.
“Al-Qur’anku di mana?”
“Ada kok, tenang aja, itu tadi Nisa
taruh di atas meja.”
“Alhamdulilah, makasih ya,” bernapas
lega.
Suasana kembali hening, entahlah apa
yang ada pada fikiran-fikiran orang-orang ini.
Tok....tok....
“Selamat pagi, maaf sebentar saya mau
meriksa keadaan nona Asma’ dulu ya,” Seorang dokter datang dengan wajah yang
membuatku lebih tenang, sontak melihat wajahnya aku teringat dengan sang
inspiratorku, iya dia adalah ayah. Senyum dokter itu mirip dengan senyum ayah,
bahkan gaya bicaranya juga mirip.
“Alhamdulillah, nona Asma’ sudah
siuman, kita sekarang tinggal nunggu hasil scan semalam saja ya,” Jelas dokter.
Beberapa orang berpamitan pulang
padaku. Di antaranya Bu Nyai, Nisa dan Sarah. Maklum saja, mereka juga ada
kegiatan di pesantren. Sekarang hanya tersisa Bu Nadia, dosenku dan Bu Maryam,
muwajjihku, serta pemuda tadi yang aku rasa aku belum pernah lihat sebelumnya.
“Ibu, maaf ya Asma’ sudah ngrepotin,”
Ucapku lirih.
“Nggak Asma’, kamu jangan memikirkan
hal-hal selain kesembuhan kamu untuk saat ini.” Sahut Bu Maryam sembari
mengelus kepalaku.
Dua hari suasana rumah sakit dengan
aroma perpaduan anyir dan obat-obatan mengiringiku sepotong hidupku. Tempat
yang mahal, namun tak pernah sekalipun diidamkan oleh setiap orang. Dan
akhirnya hari ini dokter mengizinkanku untuk pulang ke pesantren ditemani Bu
Maryam dan Bu Nadia.
Hari-hariku masih berjalan layaknya
hari-hari sebelumnya. Selepas keluar dari rumah sakit, aku berusaha menfokuskan
hati dan fikiranku lebih pada surat cinta dari Allah. Mengulang-ulang hafalanku
itulah prioritasku saat ini, selain mempelajari materi-materi perkuliahan. Dari
sinilah hatiku terasa lebih tenang di saat mentadabburi setiap ayatnya.
“Sungguh indah surat cinta dari
Allah”
Bertatap muka dengan muwajjih adalah
rutinanku setiap hari untuk menyetorkan hafalan yang telah kupersiapkan, surat
Shad ayat 26 adalah akhir hafalan yang kusetorkan pada Bu Maryam
“Asma’ sebentar lagi khatam ya,
semoga Allah selalu memudahkanmu.”
“Alhamdulillah bu, Amiin,”
Tiba-tiba rasa pusing, lemas dan
sesak menyergapku kembali. Mataku semakin buram dan lebih buram lagi hingga aku
kembali tak sadarkan diri.
“Asma’, bangun nak!” Ujar bu Maryam
dengan kepanikan yang klimaks.
***
Gedung putih itu kembali menampungku
kedua kalinya. Ini bukan pilihanku tapi inilah kehendak Allah. Tak jauh dengan
1 minggu yang lalu, namun saat ini aku juga mengalami mimisan tak kunjung
berhenti yang membuat orang-orang di sekitarku panik.
“Dokter sebenarnya apa yang terjadi
pada Asma’?” Tanya Bu Nadia penasaran. Lebih tepatnya hari ini adalah
pengambilan hasil scan kemarin, namun takdir berkata lain. Sakit itu kembali
padaku.
“Silakan ibu ke ruangan saya ya, akan
saya jelaskan.” Ucap dokter. Perlahan mataku bisa kubuka sedikit demi sedikit
tapi kepalaku masih terasa pusing.
“Nisa, Sarah, Bu Maryam, kalian kok
di sini?”
“Kami sangat khawatir dengan
keadaanmu Asma’.” ucap Sarah. Masih seperti kejadian yang dulu, ada seorang
ikhwan duduk di kursi, sedang aku tak mengenalnya.
“Sarah, itu siapa?” tanyaku sembari
menunjuk ke arah pemuda itu.
“Ow, itu Rafa anak Bu Nadia, dia tadi
mengantar ibunya untuk menyambangimu ke sini,” aku mengangguk mendengar
penjelasan dari Sarah
Tak lama kemudian Bu Nadia datang
dengan mata sedikit memerah dan sembab, ada kertas di tangannya.
“Bu Nadia kenapa menangis?”. Tak ada
kata yang keluar, beliau diam mematung, air matanya semakin deras. Beliau
menjulurkan kertas itu pada Bu Maryam.
“Astaghfirulloh,” Bu Maryam
terkrejut, sontak Sarah, Nisa dan Rafa ikut terkejut dan penasran dengan apa
yang sebenarnya terjadi. Tangan Bu Maryam lemas dan akhirnya kertas itu jatuh
di atas badanku. Sekejap kubuka dan kubaca.
LEUKIMIA
“Inna lillahi wa inna ilaihi
rooji’un,” bibirku bergetar, sudut mataku sudah melelehkan air mata. Kusebut
terus nama Allah.
“Kamu pasti akan sembuh nak,” Ucap Bu
Nadia menggenggam tanganku untuk menguatkanku.
“Amiin bu, Asma’ ikhlas dengan
ketentuan Allah ini. Tapi Asma’ takut jika usia Asma’ tidak sampai ada 30 juz.”
mendengar ucapanku sontak semua orang memelukku, kecuali Rafa yang memang bukan
muhrim.
“Kamu bisa nak, nyelesaikan 30 juz
nak, atas izin Allah.” Suasana haru menyelimuti kamar ruang mawar nomor 07.
“Ya Allah, Asma’ mohon jangan dulu
ambil nyawaku sebelum aku menyelesaikan amanahMu.” Harapku pada Rabbku.
Semakin hari, aku merasa badan ini
semakin lemah. Tapi tak menyurutkanku untuk menyelesaikan hafalanku, 2,5 juz
lagi. Berbagai obat sudah masuk ke badanku, entahlah apa nanti yang bakalan
terjadi, semua aku serahkan padaNya. Khemoteraphy salah satunya, bahkan sampai
rambutku rontok dan badanku semakin kurus. Sakit, memang rasanya sakit, namun
aku yakin Allah punya rencana terindah untukku. Setiap hari Bu Maryam datang ke
sini, untuk menjengukku, mengurusku, dan bahkan untuk menerima setoran
hafalanku. Hari demi hari, akhirnya Allah mengizinkan aku untuk menyelesaikan
setoran hafalanku, di hari ke tujuh aku di rumah sakit.
Allahu Akbar.....Allahu Akbar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar