GAK SOSMED, GAK
KATROK
Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengambil
peluang, di dalam era modern saat ini peluang dalam memanfaatkan teknologi yang
canggih adalah hal yang sangat berpengaruh terhadap kemajuan seseorang. Khususnya
untuk remaja. Internet merupakan salah satu dari sekian banyak fasilitas canggih
yang tersedia di zaman milenium sekarang ini. Sebuah fasilitas yang nyata-nyata
bisa memanjakansiapapun yang menggunakannya. Berjuta informasi dunia dapat diakses
melalui internet. Hampir 100% kebutuhan informasi dapat kita cari melalui situs-situs yang disukai.
Perkembangan dan kemajuan teknologi yang pesat mendorong west
life style menjamur dan menguasai kehidupan di negara ini, khususnya di
kalangan remaja, yang lebih banyak pengaruhnya. Hal
ini akan menjadikan generasi muda,
generasi penerus bangsa
Indonesia semakain terpuruk keadaanya. [1]
Kebutuhan teknologi memang sangatlah tinggi bagi remaja maupun
pelajar, karena hal itulah termasuk penunjang penambahan wawasan mereka. Namun aplikasi
teknologi sekarang banyak mengalami penyimpangan, media sosial utamanya. Banyak dijumpai kecanduan media sosial atau yang lebih sering
dikenal medsos semakin marak terjadi di kalangan remaja.
Dewasa ini,
penetrasi media sosial telah menyentuh ke segala sektor kehidupan. Banyak
sekali kita jumpai remaja-remaja yang terperdaya oleh kehadiran medsos. Hingga
mereka melalaikan banyak hal yang lebih diprioritaskan, seperti belajar. Remaja
menjadi sorotan utama dari dampak media sosial, karena remaja merupakan media
utama yang berkedudukan sebagai kader penerus perjuangan bangsa maupun agama.
Diketahui pada
tahun 2017 dari laporan Tetra Pak Index
mengatakan bahwa pengguna internet di Indonesia ±132 juta dan pengguna media
sosial 40% darinya. Ungkapan lain, masih di tahun 2017 ada ±106 juta masyarakat
menggunakan internet dan 85% darinya adalah pengguna medsos. Dari jumlah
tersebut dapat disimpulkan bahwa hampir 95% masyarakat Indonesia adalah
pengguna media sosial.
Di sisi lain,
masa remaja adalah masa pencarian jati diri (identitas). Tugas sebagai remaja
adalah menjelajah (ekplorasi), mencari pengalaman (experience),
dan menyatakan diri (ekspresi), serta memasuki masa dewasa. Eksplorasi, experience,
dan ekspresi diri sangat dapat menimbulkan kekhawatiran dan kebingungan bagi
para remaja. Karena remaja sedang mempelajari peran dan tanggung jawab yang
baru. Jika yang ditemui remaja pada saat itu adalah tayangan yang negatif,
bagaimana perkembangan kreatifitas remaja dapat maksimal? Apalagi jika yang
dijadikan pubic figure para artis. Bukankah yang terjadi adalah
kemalasan, gaya bicara menjadi keras, serta pergaulan menjadi tak karuan?. Hal
tersebut akan meberikan berbagai dampak yang akan muncul dari media sosial itu
sendiri.
Zaman now, itulah kata
yang tidak asing lagi bagi masyarakat sekarang. Istilah zaman now sebenarnya merupakan sebuah guyonan sekaligus sindiran (satire) merujuk kepada kelakuan aneh
anak-anak zaman sekarang. Kelakuan aneh itulah yang kebanyakan akibat dari
medsos. Begitulah kaitan media sosial terhadap kids zaman now sangatlah erat. Banyak dampak yang dihasilkan oleh
media sosial, baik itu dampak negatif maupun positifnya. Di antara dampak
negatif dari sosmed sebagai berikut :
1.
Maraknya kejahatan yang timbul akibat media sosial
Indonesia
sering gempar mengenai kejahatan remaja akibat sosmed. Sebagai contoh kejadian
yang terjadi beberapa tahun yang lalu:
Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat selama 4 tahun
terakir jumlah kekerasan kepada anak terus meningkat. Terakhir di 2014 ada
5.066 kasus.Rata-rata penaikkan kasus dimulai pada tahun 2011 sebanyak 1.000
kasus kekerasan. Ada 10 kategori kekerasan pada anak, di antaranya kekerasan
dalam keluarga, lembaga pendidikan serta pornografi dan cyber
crime.Khusus kekerasan pada anak yang dipicu dari sosial media dan
internet sebanyak 322 kasus di tahun 2014. Jumlahnya terus naik dari tahun 2011
sekitar 100 kasus.Kejahatan seksual lewat internet menjadi kategori kasus yang
tinggi. Semisal jumlah korban kejahatan seksual terus naik. Sampai tahun 2014
ada 53 anak yang menjadi korban. Sementara anak pelaku kejahatan seksual online
ada 42 anak, anak korban pornografi dari media sosial ada 163 orang. Terakhir
anak pelaku kepemilikan media pornografi di video dan diunggah di media sosial
ada 64 anak.
2.
Meningkatnya sifat individual
Remaja sekarang
sangatlah rendah tingkat komunikasinya, hal ini karena mereka lebih cenderung
mimikirkan apa yang diinginkan tanpa memikirkan orang-orang disekitar.
Contohnya; Dalam suatu forum remaja, mayoritas mereka sibuk dengan gadget yang ada di genggamannya. Dari
situlah akan timbul minimalize sociology,
yaitu hubungan terhadap sesama yang sangat minim.
3.
Dekadensi moral remaja
Moral atau
dalam Islam disebut dengan akhlak, merupakan hal yang sangat urgen dalam
kehidupan remaja. Penyimpangan perilaku yang banyak terjadi di kalangan remaja
harus menjadi sorotan yang serius guna membentengi remaja dari pengaruh negatif
teknologi.
Firman Allah
dalam surat Al Isra’: 32, “dan janganlah kalian mendekati zina karena hal
itu adalah perbuatan kotor dan sejelek-jelek jalan.” Sudah sangat tegas,
bahwa pergaulan remaja harus dibatasi. Pendidikan, terutama pendidikan
agama selayaknya menjadi ramuan untuk menyelamatkan dan mengembalikan fitrah
remaja. Memang terasa sangat sulit, namun jika diusahakan dengan maksimal akan
tercapai juga. Di antara arahan pendidikan agama yaitu :
·
mengingatkan remaja pada fitrah keislaman.
·
membantu remaja menumbuhkan izzah (harga diri).
·
mendekatkan mereka kepada al-Qur’an.[2]
Akhirnya, kembali pada fungsi dakwah yang tidak lain tujuannya
adalah memproduksi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT. Jika
fungsi tersebut tercapai, sederas apapun teknologi informasi dari berbagai
media sosial yang berusaha merusak tatanan moral remaja di era globalisasi,
remaja yang telah dibekali dengan iman dan takwa akan siap menghadapinya.
4.
Meningkatnya sifat anarkis remaja,
Seperti halnya
provokator, menyindir, dikriminasi atau bullying lebih banyak berawal dari
sosial media, contohnya saja seseorang yang selalu memamerkan kehidupannya di
media sosial lebih besar memiliki dampak bullying dibandingkan dia yang pasif
terhadap media sosial, karena apa aktivitas diskriminasi itu terjadi karena
tindakan iri, ataupun benci yang diakibatkan tingkah seseorag tersebut di dunia
maya.
Selain itu
dengan adanya sindir menyindir antara sesama teman bahkan keluarga di media
sosial justru memiliki dampak yang lebih besar terhadap aspek sosial dan
karakter seseorang untuk melakukan jiwa anarkis dibandingkan secara langsung,
karena tulisan itu juga sangat menyakitkan. Dari situ timbul jiwa-jiwa anarkis
yang melontarkan kata-kata kasar, kebencian dam unsur SARA si media sosial,
bukan malah mempererat silaturahmi tetapi menjadikan media sosial sebagai bahan
pelampiasan.
5.
Meningkatnya kencanduan terhadap dunia maya,
6.
Munculnya sebuah kemaksiatan.
Ditafsirkan dari banyaknya dampak negatif
diatas, kita mengetahui banyaknya kejahatan yang marak dan menjamur di negara
kita ini. Bukan hanya kejahatan dalam jiwa namun juga dalam ruh para remaja.
Ditinjau dari berbagai aspek,
Di sisi
lain, media sosial juga memiliki banyak juga dampak positif, di antaranya;
1.
Menambah
pengetahuan secara umum dan lengkap
2.
Mewujudkan
remaja yang tidak gaptek
3.
Sebagai
lembaga dakwah
4.
Menjalin
tali silaturrahmi
5.
Memudahkan
dalam menjalin komunikasi
6.
Memberikan
kemudahan dalam pembelajaran di sekolah maupun di rumah
7.
banyak
sekali penyalahgunaan media sosial.
Facebook, twitter, youtube, whatpadd, google mereka itulah media yang
sangat di sukai remaja, hinggu berpengaruh munculnya kerusakan-kerusakan moral.Mendapat
informasi-informasi terupdate.
Pengaruh maupun dampak yang dihasilkan
tergantung pada setiap orang yang mengonsumsinya, apakah mereka menggunakan
untuk hal positif atau sebaliknya.
Orang tua juga sangat berpengaruh terhadap
kelangsungan remaja dalam mengonsumsi media sosial. Jadi, peran orang tua
sangatlah penting, yaitu mengawasi perkembangan dan pola pikir remaja. Berikut
peran-peran orang tua yang harus diberikan kepada remaja-remaja:
1.
Orang
tua harus memberikan pengawasan yang lebih terhadap remaja,
2.
Menghindari
kekerasan terhadap remaja yang dapat menimbulkan tingkat emosi tinggi hingga
mereka mampu melakukan hal-hal yang tak terduga
3.
Mengawasi
setiap gerak gerik remaja dan memperhatikan dampak yang akan ditimbulkan,
4.
Memberikan
arahan kepada remaja yang menjerumus kepada hal-hal yang positif atau kebaikan.[3]
Peran dari berbagai pihak memang sangat
mendukung terwujudnya generasi muda yang memiliki jiwa riligius, nasionalis,
dan jiwa-jiwa yang selalu berada dalam jalan kebaikan.
Seseorang yang terkukung dalam keadaan nyaman
cenderung enggan untuk keluar dari zona nyamannya. Begitu pula remaja, jika
seorang remaja merasa sudah berada dalam zona pada sosial media merekapun akan
susah pula keluar dari zona sosial media itu.
Jika sosial
media mampu dijadikan penunjang keberhasilan belajar seorang remaja maka
seyogyanya hal itu harus dibuktikan secara nyata. Jangan sampai yang terjadi di
lapangan adalah yang sebaliknya, yaitu kita malah termanjakan oleh teknologi
informasi ataupun media sosial. Remaja harus pandai membedakan mana yang yang
memang dibutuhkan dan mana yang berbahaya untuk mereka. Biarakan remaja
menguasai teknologi, namun jangan sampai teknologi menguasai mereka, karena
dikhawatirkan remaja akan terpedaya olehnya yang akan membuat mereka terlena.
Sudah kita
ketahui bahwa sosial media sangat berpengaruh di era globalisasi saat ini.
Sosial media juga menghasilkan banyak dampak negatif maupun positif. Namun
seharusnya penanaman jiwa yang religius itulah yang akan bisa memilah dan
memilih dampak manakah yang akan didapatnya. Remaja sangat butuh dukungan
teknologi dan sosial media untuk menjalani kehidupan yang serba modern, tetapi
di sisi lain remaja juga berpengaruh besar terhadap dampak negatif dari sosial
media.
Jadi, dapat
disimpulkan bahwa hal yang utama dilakukan adalah memberikan pendidikan yang
berbasiskan pesantren kepada para remaja. Karena jika rohani remaja sudah
dibentuk maka perilaku merekapun akan mengimbangi dengan perilaku yang baik
serta yang berlandaskan keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
Begitu juga remaja yang tidak berbaur dengan sosmed juga tidak akan terlalu katrok, selagi mereka selalu aktif dalam
segala bidang pendidikan. Remaja harus bisa menjadi pengguna sosmed yang
cerdas.
Daftar Pustaka
Supandi.menyiapkan kesuksesan anak
anda.Jakarta:PT Gramedia Pustaka Utama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar